Rajab dan Semangat Pelestarian Lingkungan
January 12, 2026 02:23 PM

Dr. Iqrom Faldiansyah, M.A. -  Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS Babel 

SETIAP tahun, bulan Rajab datang seperti sebuah pengingat sunyi. Ia tidak seramai Ramadan, tidak pula semeriah Idulfitri. Namun justru dalam kesenyapannya, Rajab menyimpan pesan yang dalam.

Sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan dalam Islam, Rajab mengajak manusia untuk berhenti sejenak, menahan diri, dan merenungi arah hidupnya. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali tak terkendali, ajakan ini terasa makin relevan—terutama ketika bumi yang kita huni kian menampakkan luka lukanya.

Hari ini, krisis lingkungan bukan lagi isu yang jauh atau abstrak. Banjir datang silih berganti, cuaca makin sulit diprediksi, udara terasa lebih sesak, dan sumber air bersih tak lagi mudah dijumpai. Semua ini bukan sekadar fenomena alam, namun juga cermin dari cara manusia memperlakukan bumi. Di titik inilah, nilai-nilai spiritual bulan Rajab menemukan maknanya yang paling nyata: mengajak manusia berdamai kembali dengan alam, sebelum semuanya terlambat.

Makna spiritual bulan Rajab

Rajab adalah bulan kesucian. Dalam tradisi Islam, ia termasuk bulan yang dihormati sejak masa pra-Islam, lalu ditegaskan kembali oleh ajaran Al-Qur’an. Kesucian Rajab bukan hanya soal larangan berperang, tetapi juga tentang pengendalian diri secara menyeluruh—menahan hawa nafsu, menimbang ulang perbuatan, dan memperbaiki relasi dengan Tuhan, sesama manusia, serta seluruh ciptaan-Nya.

Di bulan ini, umat Islam diajak untuk lebih peka terhadap nilai kehidupan. Pengendalian diri yang dilatih di Rajab sejatinya meluas ke segala aspek, termasuk cara kita menggunakan dan memperlakukan alam. Ketika Al-Qur’an menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia, pesan itu terasa begitu dekat dengan realitas hari ini. Rajab mengingatkan bahwa merusak alam bukanlah tindakan netral—ia memiliki dimensi moral dan spiritual.

Rajab juga sering disebut sebagai gerbang menuju Ramadan. Ia adalah waktu pemanasan rohani, saat manusia membersihkan niat dan membangun kesadaran. Dalam konteks lingkungan, ini berarti menyadari bahwa gaya hidup kita—yang boros, konsumtif, dan abai—perlahan tetapi pasti menggerogoti keseimbangan bumi. Spirit Rajab mengajak kita kembali pada kesederhanaan dan rasa cukup, dua nilai yang sangat dibutuhkan di tengah krisis ekologis.

Manusia sebagai khalifah dan etika lingkungan

Islam tidak menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak atas bumi, melainkan sebagai khalifah—pengelola dan penjaga. Status ini bukan sebuah kehormatan tanpa konsekuensi, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban. Alam bukan diwariskan kepada manusia untuk dihabiskan, tetapi dititipkan untuk dijaga dan diteruskan.

Konsep mizan atau keseimbangan menjadi kunci dalam etika lingkungan Islam. Segala sesuatu diciptakan dengan ukuran yang tepat. Ketika manusia menebang hutan tanpa kendali, mencemari sungai, atau mengeksploitasi bumi demi keuntungan sesaat, keseimbangan itu runtuh. Dampaknya pun kembali kepada manusia sendiri—dalam bentuk bencana, penyakit, dan krisis berkepanjangan.

Nabi Muhammad SAW memberi teladan yang sangat nyata dalam hal ini. Beliau menegur sahabat yang berwudu dengan air berlebihan, meski berada di sungai yang mengalir. Beliau mengajarkan bahwa menanam pohon adalah sedekah, bahkan jika kiamat sudah di ambang pintu. Ajaran-ajaran ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan isu modern, melainkan bagian integral dari iman. Para ulama pun menegaskan bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri.

Rajab sebagai momentum kesadaran ekologis

Rajab memberi ruang untuk refleksi. Di bulan ini, kita bisa bertanya dengan jujur pada diri sendiri: sudah sejauh mana kita menjaga bumi? Apakah ibadah kita hanya berhenti di sajadah, atau juga tercermin dalam cara kita memperlakukan air, tanah, dan udara?

Kesadaran ekologis tidak selalu dimulai dari aksi besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten. Menghemat air saat mandi, mematikan lampu yang tidak perlu, membawa tas belanja sendiri, memilah sampah, atau menanam pohon di pekarangan—semua ini adalah bentuk ibadah jika dilakukan dengan niat menjaga amanah Tuhan. Rajab mengajarkan bahwa pengendalian diri bukan sekadar menahan amarah, tetapi juga menahan keserakahan.

Ketika Rajab dijadikan titik awal perubahan, ia dapat melahirkan kebiasaan ramah lingkungan yang berlanjut hingga Ramadan dan seterusnya. Dengan begitu, spiritualitas tidak berhenti pada momen, tetapi menjelma menjadi karakter.

Konteks kekinian

Tantangan lingkungan hari ini sangat nyata dan kompleks. Perubahan iklim mengancam kehidupan jutaan orang, deforestasi merusak rumah bagi banyak makhluk hidup, dan pencemaran membuat bumi kehilangan kemampuannya untuk menyembuhkan diri. Dalam situasi ini, pendekatan teknis saja tidak cukup. Dibutuhkan landasan moral yang kuat agar perubahan benar-benar terjadi.

Nilai-nilai Rajab menawarkan fondasi itu. Larangan fasad mengingatkan bahwa merusak bumi adalah pelanggaran etis. Konsep amanah menegaskan bahwa setiap sumber daya yang kita gunakan akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika nilai-nilai ini dihidupkan, kepedulian lingkungan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai panggilan iman.

Pada akhirnya, Rajab datang membawa pesan sunyi namun mendalam: berhentilah sejenak, perhatikan sekelilingmu, dan rawatlah kehidupan. Di bulan yang dimuliakan ini, manusia diajak untuk tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan bumi yang menjadi tempat berpijak. Menjadi khalifah berarti menjaga, bukan menguasai; merawat, bukan menguras.

Jika spiritualitas Rajab benar-benar dihayati, ia akan melahirkan kesalehan yang menyentuh bumi. Dari hati yang sadar, lahir tangan yang menjaga. Dari iman yang hidup, tumbuh tindakan nyata. Dan dari Rajab, semoga lahir semangat baru untuk merawat bumi—rumah bersama yang telah terlalu lama kita abaikan. Wallahu a’lam. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.