Prabowo Sindir Pemahaman Neoliberal soal Orang Kaya
kumparanNEWS January 12, 2026 02:57 PM
Presiden Prabowo Subianto menyinggung keras cara pandang pembangunan yang menurutnya terlalu bertumpu pada pertumbuhan ekonomi semata.
Hal itu disampaikan Prabowo saat berpidato dalam Peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi yang digelar di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1).
Dalam pidatonya, Prabowo mengkritik pemikiran neoliberal yang selama ini diyakini akan otomatis menghadirkan kesejahteraan melalui mekanisme menetes ke bawah.
"Jadi saudara-saudara! Cara berpikir dan cara berpikir tentang bernegara, cara berpikir tentang pembangunan yang konvensional yang normatif adalah membangun pertumbuhan dan ada pemikiran selama ini ya, pemikiran neoliberal biar yang kaya biarin aja 0,1% lama-lama menurut teori ini karena pertumbuhan, kekayaan menumpuk nggak apa-apa menumpuk di atas lama-lama akan menetes ke bawah, ah ini teori, tapi nyatanya netesnya kapan sampai ke bawah, jangan-jangan netesnya 300 tahun, kita sudah mati semua," ujar Prabowo.
Prabowo menilai pendekatan tersebut tidak tepat diterapkan di Indonesia, mengingat sejarah panjang bangsa yang lahir dari penjajahan dan perjuangan ratusan tahun.
Perbesar
Sejumlah momen kebersamaan Presiden Prabowo bersama para siswa Sekolah Rakyat. Foto: Dok. Kemensos RI
Ia mengingatkan bahwa saat Indonesia merdeka, sebagian besar rakyat hidup dalam keterbatasan dan tidak memiliki apa-apa.
"Ini menurut saya tidak tepat untuk kita, untuk negara seperti kita yang pernah dijajah, yang merdeka karena perjuangan merdeka karena ratusan tahun perjuangan, di mana waktu kita merdeka ya sebagian besar rakyat kita ia tidak punya apa-apa. Kemudian kita bangun, bagus pertumbuhan ternyata kalau kita hanya mengejar pertumbuhan dan tidak melihat, tidak berani melihat pertumbuhan ini benar-benar dirasakan enggak oleh rakyat yang paling bawah?" ucapnya
Menurut Prabowo, di situlah letak tanggung jawab para pemimpin negara. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk mengakui kekurangan dan mengambil langkah nyata demi memperbaiki keadaan.
"Di situ, di situ tugas para pemimpin. Kita harus berani melihat, Kita harus berani melihat kekurangan kita, dan kita harus ambil langkah, langkah Kita harus berani," tandasnya.