TRIBUNJOGJA.COM - Manchester United mendapat kecaman keras dari mantan pemain Arsenal, Paul Merson.
Seperti diketahui, MU baru saja memecat Ruben Amorim setelah serangkaian hasil yang mengecewakan.
Paul Merson menyebut bahwa Manchester United terlalu sering melakukan pergantian pelatih.
Mereka tidak seharusnya terus memecat pelatih jika ingin membangun proyek yang sukses.
Ia mendesak mereka untuk meninggalkan ilusi lama bahwa mereka dapat memenangkan Liga Inggris dengan sering melakukan perubahan.
Pasalnya, untuk membangun proyek yang berkelanjutan serta kembali ke puncak sepak bola Inggris, dibutuhkan kesabaran dan perencanaan jangka panjang.
“Ini bukan tahun lalu, dua tahun lalu, atau tiga tahun lalu. Kita berbicara tentang 20 tahun sekarang,” katanya kepada Sky Sports.
“Manchester United. Anda tahu, ini bukan seperti lima tahun lalu, enam tahun lalu. Ini konstan.
“Kita masih hidup dalam era Manchester United seperti Cristiano Ronaldo di masa jayanya dan Roy Keane dan Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic dan Paul Scholes dan Wayne Rooney.”
“Itu sudah berlalu. Sudah lama berlalu. Mulailah sekarang dan coba untuk kembali sedikit demi sedikit.
Menurut Merson, apa yang dilakukan Manchester United saat ini dengan mengganti pelatih terlalu sering tidak akan mampu memperbaiki performa tim.
“Mereka berpikir sekarang karena ini Manchester United, mereka akan langsung melesat dan memenangkan Liga Inggris.
“Itu harus dilakukan perlahan, tetapi mereka harus memperbaiki keadaan. Tidak bisa terus-menerus memecat manajer.”
Para fans MU akan menunggu apakah Manchester United mampu mendatangkan pealtih berkualitas dalam beberapa minggu mendatang.
Mantan pemain tim nasional Skotlandia, Darren Fletcher, saat ini menjabat sebagai pelatih sementara.
Manchester United memiliki sejumlah pemain berkualitas, tetapi mereka juga membutuhkan pelatih kelas atas.
Manchester United telah menghabiskan banyak uang untuk pemain baru dalam beberapa tahun terakhir, tetapi mereka belum mampu mendatangkan pemain berkualitas yang dibutuhkan untuk bersaing dengan klub-klub elite.
Mereka perlu mengambil keputusan transfer yang tepat dan menunjuk pelatih berkualitas yang dapat memaksimalkan potensi tim.
Laporan terbaru mengaitkan mereka dengan beberapa kandidat, termasuk Thomas Tuchel.
Selain itu, mereka seharusnya memberi waktu kepada manajer baru untuk membangun tim, daripada langsung mengambil keputusan terburu-buru.
Manchester United memang salah satu klub terbesar di dunia, tetapi mereka sedang mengalami masa sulit selama beberapa tahun terakhir.
INEOS harus lebih teliti dalam perencanaan dan lebih sabar dalam pendekatannya jika mereka ingin mengembalikan Manchester United ke puncak sepak bola Inggris lagi.
Sejak pensiunnya Sir Alex Ferguson pada tahun 2013, kursi kepelaltihan di Old Trafford telah diduduki oleh berbagai nama besar.
Sampai yang terakhir adalah Ruben Amorim yang mengisi pada 11 November 2024 lalu.
Namun baru berselang kurang lebih satu tahun, kursi panas tersebut kembali kosong setelah dipecatnya Ruben Amorim pada 5 Januari 2026.
Langkah pemecatan Ruben Amorim ini menjadi sebuah tren buruk bagi Manchester United yang telah mengganti 10 pelatih hanya dalam kurun waktu 13 tahun.
Siapa saja nama-nama pelatih yang pernah mengisi kursi kepelatihan tersebut sejak ditinggalkan Sir Alex Ferguson?
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai siapa saja mereka, masa kepelatihannya, dan profil singkatnya.
Dipilih langsung oleh Sir Alex Ferguson sebagai penerusnya, David Moyes memikul beban ekspektasi yang sangat berat.
Sayangnya, masa transisi ini menjadi bencana.
Gaya bermain yang dianggap terlalu pragmatis dan hasil buruk di liga membuat United finis di peringkat ke-7, posisi terendah mereka di era Premier League saat itu.
Moyes dipecat bahkan sebelum musim pertamanya berakhir, hanya bertahan 10 bulan. Ia gagal membawa United lolos ke Liga Champions, sebuah kegagalan yang menandai awal dari periode turbulensi Setan Merah.
Setelah pemecatan Moyes, legenda klub Ryan Giggs ditunjuk sebagai pelatih sementara (interim) untuk empat pertandingan sisa musim.
Kehadirannya membawa angin segar dan mengembalikan sedikit kebanggaan di Old Trafford dengan memberikan debut kepada pemain muda seperti James Wilson.
Meskipun singkat, Giggs berhasil menyuntikkan kembali semangat "United DNA" yang sempat hilang.
Ia kemudian melanjutkan peran sebagai asisten pelatih di bawah manajer permanen berikutnya sebelum akhirnya meninggalkan klub.
Pelatih berpengalaman asal Belanda ini datang dengan filosofi ketat dan disiplin tinggi.
Van Gaal berhasil mengembalikan United ke Liga Champions dan mempromosikan pemain muda sensasional seperti Marcus Rashford.
Puncaknya, ia mempersembahkan trofi Piala FA pertama pasca era Ferguson.
Namun, gaya permainannya sering dikritik karena dianggap membosankan dan terlalu kaku (banyak penguasaan bola tanpa peluang).
Ia dipecat hanya dua hari setelah memenangkan Piala FA, digantikan oleh mantan muridnya, Jose Mourinho.
Mourinho adalah pelatih tersukses United pasca era Ferguson dalam hal trofi.
Di musim pertamanya, ia memenangkan "Treble mini" (Community Shield, Piala Liga, dan Liga Europa).
Ia juga membawa United finis di posisi kedua Premier League, pencapaian yang ia sebut sebagai salah satu yang terbaik dalam kariernya.
Sayangnya, sindrom "musim ketiga" Mourinho kembali terjadi.
Hubungan yang retak dengan manajemen dan pemain kunci, serta gaya main parkir bus yang negatif, membuatnya dipecat di pertengahan musim 2018 setelah kekalahan memalukan dari Liverpool.
Datang sebagai caretaker untuk menyelamatkan atmosfer ruang ganti yang toksik, Ole memberikan dampak instan yang luar biasa, termasuk comeback bersejarah melawan PSG.
Ia kemudian dipermanenkan dan berusaha membangun budaya klub (cultural reset) dengan merekrut pemain muda dan berkarakter.
Meskipun berhasil membawa United finis di posisi kedua dan ketiga serta mencapai final Liga Europa, Ole gagal mempersembahkan trofi.
Kekalahan telak dari rival dan inkonsistensi taktis akhirnya mengakhiri masa jabatannya yang penuh emosi.
Pasca pemecatan Ole, Michael Carrick memimpin tim dalam tiga pertandingan krusial melawan Villarreal, Chelsea, dan Arsenal.
Secara mengejutkan, ia tidak terkalahkan dalam periode singkat tersebut dan berhasil memastikan United lolos ke fase gugur Liga Champions.
Carrick memutuskan untuk meninggalkan klub sepenuhnya setelah masa tugas singkatnya selesai, memilih untuk menjaga loyalitasnya kepada Ole dan mencari tantangan baru.
Carrick menutup bukunya di United dengan catatan manis tanpa kekalahan.
Datang dengan reputasi sebagai "Bapak Gegenpressing" dan guru dari pelatih top Jerman, harapan fans sangat tinggi pada Rangnick.
Ia ditugaskan sebagai manajer interim hingga akhir musim dengan rencana lanjut menjadi konsultan.
Kenyataannya jauh dari harapan, para pemain gagal beradaptasi dengan sistem pressing-nya, dan ruang ganti terpecah belah.
United mencatatkan raihan poin terburuk di era Premier League, dan peran konsultannya akhirnya dibatalkan setelah kedatangan Ten Hag.
Erik ten Hag datang dari Ajax dengan mandat mengembalikan kedisiplinan.
Ia sukses mengakhiri puasa gelar 6 tahun dengan memenangkan Carabao Cup di musim perdana dan Piala FA di musim kedua (mengalahkan Man City).
Ia dikenal berani mengambil keputusan tegas, termasuk melepas Cristiano Ronaldo.
Namun, musim ketiganya berjalan buruk dengan rentetan hasil negatif di liga dan Eropa.
Inkonsistensi permainan dan badai cedera membuat posisinya tak tertolong, menjadikannya pelatih permanen kelima yang dipecat pasca Ferguson.
Kembalinya sang predator kotak penalti sebagai asisten pelatih awalnya disambut hangat, dan ia naik menjadi pelatih sementara setelah Ten Hag dipecat.
Dalam masa kerja yang singkat, Ruud berhasil mengembalikan senyuman di wajah pemain dan fans dengan gaya sepak bola menyerang yang atraktif.
Ia mencatatkan rekor tak terkalahkan selama memimpin 4 pertandingan dan menstabilkan kapal yang goyah sebelum kedatangan pelatih kepala baru.
Ruud pergi dengan kepala tegak dan status legenda yang semakin kuat.
Ruben Amorim adalah pelatih terbaru (ke-10) yang ditunjuk untuk memimpin era baru Manchester United.
Datang dengan reputasi mentereng setelah membawa Sporting CP juara liga Portugal setelah puasa panjang, ia dikenal dengan formasi 3-4-3 yang modern dan agresif.
Bahkan beberapa pemain Manchester United memberikan julukan Mourinho 2.0 kepada pelatih baru mereka ini.
Namun, selama 14 bulan kepelatihan Amorim baru menunjukan tren positif pada hasil pertangan Manchester United di 1 bulan terakhir kepemimpinannya.
Pada akhirnya manajemen Manchester United memutuskan untuk memecat Ruben Amorim pada 5 Januari 2026 lalu.
Secara otomatis, tren pemecatan pelatih saat ini sangat melekat dengan Manchester United sebagai salah satu tim besar Liga Inggris.