TRIBUN-TIMUR.COM, PAREPARE - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) mengimbau masyarakat menghentikan sementara aktivitas berenang di area pantai.
Langkah ini diambil menyusul insiden yang menimpa seorang pelajar SMK bernama Muh Ikmar (17) meninggal dunia usai tenggelam saat berenang di Pantai Lumpue, Parepare.
Jasad korban baru ditemukan tim SAR gabungan setelah memasuki hari ketiga pencarian korban, Senin (12/1/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Kota Parepare, Muh Rasdy Gery mengatakan, kondisi cuaca dan arus laut saat ini perlu diwaspadai.
Dia pun meminta masyarakat Parepare tidak melakukan aktivitas berenang di area wisata pesisir seperti Panti Lumpue, Pantaiku dan tanggul Cempae.
"Jadi untuk seluruh warga Parepare khususnya, sementara lokasi area wisata laut seperti Lumpue, Pantaiku, tanggul Cempae, agar tidak melakukan aktivitas berenang dulu," katanya kepada Tribun-Timur.com.
"Objek wisata tidak ditutup ya, tapi hanya dilarang orang berenang," lanjutnya.
Rasdy mengungkapkan, gelombang air laut saat ini mencapai kurang lebih 3 meter.
Kata dia, kondisi tersebut akan terjadi hingga 17 Januari 2026.
"Gelombang air laut saat ini cukup tinggi mencapai 2 meter lebih, bahkan kalau sore bisa mencapai 3 meter, selain gelombang tinggi, angin juga cukup kencang. Ini infonya baru keluar itu diprediksi sampai 17 Januari mendatang," ungkapnya.
Selain itu, BPBD Parepare juga akan memperketat pemantauan di sepanjang garis pantai yang dianggap rawan.
"Masyarakat juga diminta untuk memantau prakiraan cuaca dari BMKG, mengingat anomali cuaca di perairan Sulsel seringkali memicu gelombang tinggi dan arus bawah laut yang kuat secara tiba-tiba," ucapnya.
Sebelumnya, korban tenggelam bernama Muh Ikmar (17) di Pantai Lumpue, Kota Parepare ditemukan meninggal dunia.
Jasad Muh Ikram ditemukan tim SAR gabungan setelah memasuki hari ketiga pencarian korban.
Komandan Pos Basarnas Parepare, Agus Salim mengatakan, korban ditemukan sekitar pukul 11.07 WITA, Senin (12/1/2026).
Kata dia, korban ditemukan terhimpit di sela karang dengan jarak kurang lebih 500 meter dari lokasi dilaporkan hilang.
"Alhamdulillah, korban sudah ditemukan di hari ketiga kami melakukan operasi pencarian," katanya kepada Tribun-Timur.com.
Agus mengungkapkan, tim SAR gabungan sempat kewalahan mengevakuasi jasad korban dikarenakan kondisi curam.
"Iya, kami tadi sempat kewalahan saat proses evakuasi, bingung kami mau pakai perahu tapi sempit. Jadi terpaksa kami angkat sampai ke atas," ungkapnya.
Setelah dievakuasi, jasad korban langsung dibawa ke RSUD Andi Makkasau Parepare.
Agus pun berterima kasih kepada seluruh anggota SAR gabungan yang telah melaksanakan operasi pencarian selama tiga hari.
"Terima kasih kepada semua anggota SAR yang terlibat, sudah bekerja keras bersama kami selama tiga hari ini," ucapnya.(*)