TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan dinamika arus modal internasional, stabilitas nilai tukar menjadi salah satu indikator penting dalam menilai ketahanan eksternal suatu negara.
Bagi Indonesia, keseimbangan antara kinerja ekspor-impor, posisi transaksi berjalan, hingga arus masuk modal asing menjadi faktor kunci dalam menjaga pergerakan rupiah tetap stabil.
Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist ASEAN Economist Pranjul Bhandari menilai, dari sisi fundamental perdagangan, posisi eksternal Indonesia relatif masih aman. Sepanjang 2025, nilai tukar rupiah juga dinilai cukup kuat dan tidak menunjukkan tekanan berlebihan.
"Bagian pertukaran rupiah sendiri belum menjadi masalah. Nilai tukar rupiah cukup kuat pada 2025, dan transaksi berjalan Indonesia juga berada di posisi positif," tutur Pranjul dalam Online Media Briefing HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook 2026, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Meski demikian, ia menyebut tantangan utama Indonesia saat ini bukan berasal dari kinerja ekspor-impor, melainkan dari sisi arus masuk modal asing atau capital inflow. Menurutnya, penutupan kebutuhan pembiayaan eksternal melalui aliran modal masih tergolong lemah.
Pranjul menjelaskan bahwa arus modal portofolio, baik ke pasar saham maupun pasar uang, belum menunjukkan penguatan yang signifikan. Hal serupa juga terjadi pada investasi langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI) yang bersifat jangka panjang.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Diyakini Masih Solid, Pelemahan Ekspor Jadi Tantangan
"Masalah utama Indonesia adalah penutupan kapital. Aliran portofolio ke pasar ekuitas dan pasar uang, serta FDI jangka panjang masih agak lambat," ungkapnya.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah ke depan. Ia memproyeksikan bahwa pada 2026 nilai tukar rupiah berpeluang melemah secara moderat.
Dalam skenario tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS atau sedikit lebih lemah dibandingkan level saat ini.
"Saya merasa kita bisa terus melihat tekanan pada rupiah akibat penutupan kapital. Pada 2026, rupiah bisa berada di sekitar Rp 17.000," ucap Pranjul.