Profil Proyek RDMP Balikpapan yang Diresmikan Presiden Prabowo, Kilang Terbesar RI
January 12, 2026 04:19 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan proyek kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) hari ini, Senin (12/1/2026). 

Proyek Kilang RDMP Balikpapan yang diresmikan Presiden Prabowo menjadi kilang terbesar di Indonesia. 

Proyek RDMP Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi 7,4 miliar dollar AS atau setara Rp 123 triliun yang oleh PT Pertamina (Persero).

Melalui proyek modernisasi kilang ini, kapasitas produksi Kilang Balikpapan meningkat menjadi 360.000 barel per hari dari sebelumnya 260.000 barrel per hari.

Baca juga: ‎Jelang Peresmian RDMP Balikpapan oleh Presiden Prabowo, Pekerja Kilang Sampaikan Harapan

Kapasitas ini setara dengan 22–25 persen atau seperempat dari kebutuhan nasional akan dihasilkan dari kilang Balikpapan.

Selain itu, proyek ini juga ditargetkan bisa meningkatkan kualitas produk BBM menjadi setara Euro V atau kandungan sulfur 10 ppm, dari yang saat ini masih Euro II, serta peningkatan yield valuable product menjadi 91,8 persen.

Adapun produk yang akan dihasilkan dari kilang RDMP Balikpapan, yakni BBM, LPG, dan petrokimia.

Beroperasinya RDMP Balikpapan diyakini bakal meningkatkan produksi bensin dan solar dalam negeri.

Terlebih, untuk solar, pemerintah berencana menyetop impor solar mulai tahun ini, seiring dengan bakal meningkatnya produksi dalam negeri dan penerapan mandatori B50 yang bakal menekan konsumsi solar.

"Kalau B50 kita pakai dan RDMP kita di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat konferensi pers di kantornya, Kamis (8/1/2025) seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.

Terpisah, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menjelaskan, Proyek RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia.

Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi elemen kunci dalam proyek RDMP Balikpapan, sekaligus menandai lompatan besar modernisasi Kilang Pertamina menuju standar kilang kelas dunia.

Tiga Tahapan Pembangunan Proyek RDMP

Dikutip TribunKaltim.co dari kontan.co.id, proyek RDMP ini dikembangkan melalui tiga lingkup utama yang saling terhubung. 

  • Lingkup pertama

Lingkup pertama mencakup pekerjaan pendahuluan atau early work yang terdiri dari 16 paket pekerjaan.

Tahapan ini meliputi pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta fasilitas penunjang konstruksi sebagai fondasi pekerjaan utama kilang.

  • Lingkup kedua

Pada lingkup kedua, Pertamina membangun dan mengembangkan fasilitas inti kilang yang mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru dan 13 unit utilitas pendukung.

Selain pembangunan unit baru, proyek ini juga merevitalisasi empat unit utama pengolahan, termasuk unit distilasi minyak mentah, pengolahan residu, hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.

Revitalisasi ini bertujuan meningkatkan keandalan operasional kilang serta memastikan produk BBM yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang lebih tinggi.

  • Lingkup ketiga

Sementara itu, lingkup ketiga difokuskan pada penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah.

Pertamina membangun dua tangki penyimpanan berkapasitas masing-masing 1 juta barel, jaringan pipa onshore dan offshore, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) yang mampu melayani kapal tanker hingga 320.000 DWT.

Elemen Kunci Proyek RDMP

Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi elemen kunci dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. 

Proyek tersebut juga menandai lompatan besar modernisasi kilang Pertamina menuju standar kilang kelas dunia yang efisien, bernilai tambah tinggi, dan ramah lingkungan.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi.

Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lain, bahan bakar yang diproduksi Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm.

Ini berarti, bahan bakar yang dihasilkan lebih bersih dan rendah emisi.

Baron melanjutkan, RFCC Complex pun menjadi tulang punggung operasional Kilang Balikpapan dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.

Kilang Balikpapan dan B50 Sumber Energi Tambahan

"(Keberadaan fasilitas) ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional dengan kapasitas kilang mencapai 360.000 barrel per hari serta mendukung program hilirisasi,” ujar Baron dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (11/1/2026).

Proyek modernisasi kilang terbesar Proyek RDMP Balikpapan, lanjut Baron, merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia.

Pengoperasian fasilitas RFCC Complex tidak hanya membuat RDMP Balikpapan mampu memproduksi bensin dan solar, tetapi juga menambah produksi LPG.

Pasalnya, kilang ini juga mampu menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan.

“Penambahan produksi LPG dari Kilang Balikpapan diperkirakan mencapai 336.000 ton per tahun.

Ini dapat memperkuat pasokan LPG domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor secara bertahap,” tuturnya seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.

Selain meningkatkan diversifikasi produk, RFCC Complex juga memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi, seperti nafta dan propylene.

Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang serta memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.

Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan.

Hal ini tecermin dari Nelson Complexity Index (NCI) yang melonjak dari 3,7 menjadi 8,0.

Semakin tinggi angkanya, kilang mampu menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi.

Sementara itu, yield valuable product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai meningkat dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen atau naik 16 persen.

Hal ini menegaskan efisiensi dan daya saing kilang yang semakin tinggi.

“RFCC Complex menjadi simbol kesiapan Pertamina dalam menyongsong era baru pengolahan kilang modern.

Fasilitas ini juga menjadi wujud nyata dukungan Pertamina terhadap swasembada energi nasional sesuai amanat Asta Cita pemerintah,” ujar Baron.

Sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, Pertamina berkomitmen dalam mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2060.

Dukungan diberikan lewat program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan sesuai prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.

Perseroan juga senantiasa berkoordinasi dengan Danantara.

Baca juga: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pantau Proyek RDMP Balikpapan, Minta Perkuat Ketahanan Energi

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.