Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tari Rahmaniar
POS-KUPANG.COM, KUPANG — Dugaan pencemaran lingkungan oleh rumah potong hewan (RPH) kembali memantik kemarahan warga di kawasan sekitar Plaza Pueblo, Kota Kupang.
Limbah diduga dibuang ke saluran air yang bermuara langsung ke laut dan selama ini digunakan warga untuk mandi, mencuci, hingga menunjang aktivitas perdagangan ikan.
Pantauan POS-KUPANG.COM di lokasi RPH memperlihatkan kondisi area pemotongan yang memprihatinkan.
Sampah sisa pemotongan berserakan, bau menyengat tercium kuat, serta aliran limbah tampak mengarah ke bak penampungan yang terhubung langsung dengan saluran drainase menuju laut.
Di dalam bak pembuangan limbah RPH, terlihat dua ekor bangkai hewan babi, sementara satu ekor bangkai anak babi lainnya ditemukan mengapung di saluran drainase yang mengalir ke kawasan perairan.
Kondisi bangkai yang sudah menghitam mengindikasikan limbah tersebut tidak dibuang dalam hitungan jam.
Pedagang ikan setempat, Rennie Muskanan, mengatakan limbah berupa lemak, darah, kotoran, hingga bangkai anak babi hampir setiap hari terlihat mengalir di got.
“Hampir setiap hari ada limbah. Air ini mengalir ke lingkungan dan ke laut,” ujarnya, Senin (12/1/2026).
Rennie juga menyoroti dugaan praktik pemotongan babi dalam kondisi bunting.
“Tadi ditemukan anak babi sampai enam ekor. Seharusnya babi bunting tidak boleh dipotong. Pertanyaannya, apakah di RPH tidak ada dokter hewan?,” ujarnya.
Ia mengaku sudah berulang kali berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan pengelola RPH. Namun pernyataan pengelola yang menyebut limbah bukan tanggung jawab mereka justru menyulut kemarahan warga.
“Kalau bukan mereka, siapa yang bertanggung jawab? Ini jelas mencemari lingkungan dan laut,” ujarnya.
Dampak pencemaran itu dirasakan langsung oleh para pedagang ikan. Air laut yang tercemar tetap digunakan untuk mencuci ikan dan peralatan dagang.
“Kami pakai air laut untuk dagang. Kalau laut tercemar, apakah air itu masih layak?” ucap Rennie.
Kemarahan warga RT 01 Fatubesi kian memuncak. Mereka berencana menutup aliran air dari RPH menuju kawasan perairan dan PPI jika tidak ada respons cepat dari dinas terkait.
“Ini bukan kejadian baru. Sudah berulang kali, tapi kami hanya dijanjikan akan dipindahkan,” ujar Rennie.
Petugas pungut iuran UPT RPH, Mitu Salakneno, sebelumnya membantah tudingan bahwa bangkai anak babi berasal dari proses pemotongan di RPH.
Ia menyebut sistem pembuangan limbah telah dilengkapi penyaringan besi dan kolam penampungan.
“Kalau dibuang dari dalam RPH, seharusnya mentok di sini karena ada penyaring. Anak babi itu kami juga tidak tahu berasal dari mana,” ujarnya.
Baca juga: Warga Oesapa Barat Kota Kupang Gotong Royong Pungut Sampah
Ia mengatakan pada hari Senin tepat 12 Januari 2026 sebanyak 17 ekor babi yang dipotong dan diawasi oleh dua dokter hewan yang melakukan pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem.
Namun, hasil pengecekan lapangan bersama aparat menunjukkan indikasi sebaliknya. Aiptu Erik Lay, Bhabinkamtibmas Kelurahan Fatubesi, mengatakan ditemukan bangkai anak babi di drainase serta limbah RPH yang tidak tertangani dengan baik.
“Di kolam penampungan limbah RPH masih ditemukan dua ekor bangkai babi, sementara satu ekor bangkai anak babi berada di saluran drainase. Sebagian lainnya diduga sudah hanyut,” ujarnya.
Menurut Aiptu Erik, kondisi bangkai yang sudah menghitam menandakan pencemaran telah terjadi sejak beberapa hari sebelumnya.
“Ini bukan hari ini saja. Diperkirakan sudah dua hari yang lalu,” ungkapnya.
Ironisnya, air dari saluran tersebut masih digunakan warga sekitar, khususnya warga RT 01 Fatubesi, untuk mandi dan mencuci.
Warga kini mendesak dinas Pertanian dan pemerintah daerah segera turun tangan sebelum pencemaran semakin meluas dan membahayakan kesehatan masyarakat serta ekosistem laut.
Berdasarkan pantauan POS-KUPANG.COM di lokasi RPH memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan.
Bak penampungan limbah tampak dipenuhi berbagai jenis sampah, mulai dari sampah plastik, tulang bangkai hewan, sisa lemak babi, hingga bangkai anak babi.
Bau menyengat tercium kuat di sekitar area pemotongan, sementara aliran air dari bak penampungan mengarah langsung ke saluran drainase yang bermuara ke laut.
Di lokasi yang sama, dua ekor bangkai hewan babi terlihat berada di dalam bak pembuangan limbah, sementara satu ekor bangkai anak babi ditemukan mengapung di saluran drainase.