Kabid Humas Polda Kepri Kunjungi Tribun Batam, Nona: Polisi Bukan Lagi Momok, Tapi Bestie Masyarakat
January 12, 2026 09:44 PM

TRIBUNBATAM.id, BATAM  - "Dulu kalau ada polisi, orang langsung takut dan bertanya-tanya 'ada apa ini?'. Sekarang polisi sudah menjadi friend, menjadi bestie, menjadi partner masyarakat untuk membangun wilayah Kepri bersama-sama," ucap Kombes Pol Dr. Nona Priscilia SIK, SH, Kepala Bidang Humas Polda Kepulauan Riau (Kabidhumas Polda Kepri) yang baru saja dilantik Rabu pekan lalu. 

Dalam perbincangan podcast di studio Tribun Batam, Senin (12/1/2026), perempuan asal Papua ini membuka banyak hal tentang transformasi Polri, khususnya di wilayah Kepri.

Nona Priscilia atau akrab dipanggil Kak Nona memiliki latar belakang keluarga yang kental dengan semangat pengabdian. 

Ayahnya seorang perwira Angkatan Laut, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga yang merupakan cucu dari pejuang kemerdekaan RI.

"Orang tua saya, Beliau Angkatan Laut. Ibu saya rumah tangga. Hanya saja orang tuanya Beliau adalah pejuang RI terdahulu. Jadi jiwa pengabdian itu saya rasa turun ke anak-anaknya, baik dari papa maupun dari mama saya," kenang Nona.

Meski lahir di Papua, wanita yang pernah menjabat Kapolres Pemalang ini besar di Jawa karena mengikuti ibu yang menetap di sana.

Sementara ayahnya bertugas ke berbagai daerah.

"Saya lahir di Papua tapi besar di Jawa. Saya lebih dekat ke ibu karena bapak kan kesana-kemarin sebagai Angkatan Laut. Jadi kita hidupnya di Jawa bersama ibu," jelasnya.

Ketika ditanya mengapa memilih menjadi polisi, jawaban Nona sangat sederhana namun penuh makna.

"Yang jelas karena jiwa saya pribadi memang ingin melayani masyarakat. Ternyata tertariknya lewat kepolisian, jadi saya daftar polisi. Puji Tuhan, Alhamdulillah saya mendapatkan kelulusan di tiap tahap yang ada. Dan sampai hari ini saya dapat duduk sebagai Kabid Humas dengan pangkat Kombes Pol," ujarnya.

Sejak kecil, Nona memang sudah menunjukkan jiwa penolong dan suka berbicara.

Dua hal yang kini sangat relevan dengan tugasnya sebagai juru bicara Polda Kepri.

"Dari kecil suka melayani, membantu orang, dan pengennya jadi polisi," akunya dengan senyum.

Perjalanan karir Nona di kepolisian terbilang gemilang.

Sebelum ditugaskan di Polda Kepri, ia pernah bertugas di Bareskrim Polri dan Divisi Humas Polri.

Yang paling membanggakan, beberapa tahun lalu ia mendapat kepercayaan menjadi Kapolres di Jawa Tengah pertama di Banjarnegara, kemudian di Pemalang.

"Saya pernah beberapa tahun lalu mendapat kepercayaan untuk menjadi Kapolres di Jawa Tengah, Kapolres Banjarnegara dan Kapolres Pemalang," kenangnya.

Pengalaman lain yang tak kalah berharga adalah saat menjadi Kepala Unit di berbagai bidang strategis.

Tindak Pidana Korupsi di Polda Metro Jaya, Tindak Pidana Cybercrime di Bareskrim Polr, Tindak Pidana Perbankan dan Tindak Pidana Pencucian Uang. 

"Banyak pengalaman yang saya terima sepanjang karir. Semua itu membentuk saya menjadi seperti sekarang," ujarnya.

Sebagai perempuan yang memimpin bidang strategis di kepolisian, Nona memaknai peran perempuan dalam institusi Polri dengan penuh optimisme.

"Polwan itu sekarang sudah tidak lagi menjadi hal baru di kepolisian. Bahkan ada polwan yang menjadi pemimpin Polda, Polda Papua Barat, beliau perempuan," ungkapnya dengan bangga.

Ia menambahkan Kapolri telah menaruh kepercayaan penuh kepada polwan.

"Pimpinan Polri sudah menaruh kepercayaan penuh kepada polwan. Ada 12 Direktur PPA yang baru dicanangkan oleh Kapolri, semuanya adalah polisi wanita berpangkat Kombes. Itu artinya pimpinan kita sudah memberikan amanah kepercayaan penuh bahwa polwan mampu untuk memimpin bidang operasional," jelasnya.

Nona menekankan polwan tidak hanya ditempatkan di belakang meja untuk fungsi pembinaan saja.

"Kapolri sudah mengedepankan lagi polwan sebagai pelaksana di bidang operasional. Jabatan-jabatan strategis lainnya juga sudah banyak yang polwan. Semoga kalau Kapolri berkenan, akan ditambah lagi," harapnya.

Nona mengungkapkan Kapolda Kepri Irjen Pol Asep Safrudin memiliki 10 program atau kebijakan strategis untuk membangun kepercayaan (trust) masyarakat.

Tiga program utama yang menghadap ke eksternal:

  1. Mengoptimalkan pelayanan kepolisian
  2. Mengoptimalkan kehadiran kepolisian di tengah masyarakat
  3. Mengoptimalkan sinergitas dengan unsur atau instansi terkait

"Program-program ini bagaimana dapat mendukung penciptaan kondusivitas di wilayah Kepri. Trust itu yang terus kita bangun bahwa polisi ini adalah partner masyarakat dalam segala hal, terutama untuk membangun kamtibmas," jelasnya.

Sementara tujuh program lainnya lebih fokus ke internal, termasuk pengawasan internal terhadap kinerja anggota dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Kalau ada yang memberikan pelayanan tidak sesuai ketentuan, pasti Kapolda melakukan penegakan. Ada rapor khusus untuk itu," tegasnya.

Salah satu program yang sering dipertanyakan masyarakat adalah layanan pengaduan 110. Nona memberikan klarifikasi tegas.

"Program 110 ini sudah sering disampaikan kepada masyarakat, tapi kami siap untuk mempublikasikan kembali supaya masyarakat tahu bahwa ada ruang-ruang yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan keluhan, pengaduan, atau laporan," ujarnya.

Ia menekankan bahwa 110 benar-benar responsif.

"Begitu ada laporan dari masyarakat, laporan itu langsung terpantau. Petugas atau Polres di wilayah tersebut akan langsung terjun ke lapangan, ke lokasi yang sudah dilaporkan. Jadi tidak nunggu sampai 24 jam. Langsung!" tegasnya.

Namun, Nona juga mengingatkan agar masyarakat tidak iseng menggunakan layanan ini.

"Layanan ini benar-benar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jangan ada yang iseng, kasihan petugas yang lagi piket tiba-tiba harus turun untuk hal yang tidak ada apa-apanya," ujarnya dengan nada serius namun tetap ramah.

Salah satu pencapaian yang membanggakan adalah tingkat rasa aman masyarakat di Kepri yang mencapai 92 persen berdasarkan survei yang dilakukan langsung ke masyarakat.

"Kita sudah mencapai rasa aman di angka 92 persen. Tetapi ini bukan angka untuk puas begitu saja. Kita harus terus berkolaborasi dengan masyarakat. Kita perlu menginformasikan ke masyarakat tentang titik-titik rawan, di mana lokasi yang tidak aman, supaya mereka tahu dan berhati-hati," jelas Nona.

Survei dilakukan dengan cara turun langsung ke masyarakat sesuai dengan prinsip kehadiran polisi di tengah masyarakat.

"Masyarakat senang kalau polisi hadir secara fisik. Dengan adanya polisi, rasa nyaman dan rasa aman lebih terjaga. Sudah tidak lagi seperti dulu kalau ada polisi, orang takut dan tanya 'ada apa ini?'. Kalau sekarang polisi sudah menjadi friend, besti, partner," ujarnya dengan senyum.

Nona menekankan pendekatan Polda Kepri saat ini lebih mengutamakan preventif dan persuasif ketimbang langsung penegakan hukum.

"Penegakan hukum itu diharapkan menjadi poin terakhir ultimum remedium. Supaya kita tetap dapat lebih kepada pendekatan kemasyarakatan, menyesuaikan dengan kearifan lokal dalam penyelesaian masalah," jelasnya.

Salah satu buktinya adalah tingginya angka penyelesaian perkara dengan restorative justice (keadilan restoratif).

"Tidak serta-merta kepolisian melakukan penegakan hukum, tetapi dengan pendekatan kepada masyarakat. Tentu saja dengan syarat-syarat tertentu dan melihat jenis perkaranya," tambahnya.

Ia memberikan contoh: kasus pembunuhan tidak bisa diselesaikan dengan restorative justice, tetapi kasus pencurian ringan atau penipuan bisa dikomunikasikan terlebih dahulu antara para pihak.

"Tapi ini bukan berarti masyarakat bisa melakukan main hakim sendiri. Jangan begitu. Tetap harus melalui prosedur yang benar," tegasnya.

Nona juga memaparkan program-program unggulan Polda Kepri sepanjang 2025, termasuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat.

Capaian Program MBG Polda Kepri tercatat memiliki Lahan Pekarangan Pangan Gizi: Sekitar 462 lokasi dengan luas kurang lebih 38 hektare

Kemudian Lahan Jagung: 42 lokasi di berbagai Polres dengan luas 36 hektare dan Hasil Panen: Sudah mencapai 67 ton

"Program ini masih terus dikembangkan. Kapolda sudah berkoordinasi dengan Mabes Polri untuk menjaga higienitas dan kualitas gizi makanan yang diberikan kepada anak-anak SD, SMP, SMA, posyandu, dan ibu hamil," jelasnya.

Selain MBG, Polda Kepri juga fokus pada Transformasi Kampung Madani, Pemberantasan TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang), Penanganan Narkoba (TBPO di Kepri).

Sebagai Kabid Humas, Nona sangat menyadari pentingnya komunikasi digital dengan masyarakat.

"Kami punya akun media sosial di TikTok, Instagram, Twitter, Facebook semuanya terbuka. Di situ menampilkan berbagai kegiatan kepolisian, bagaimana masyarakat bersama kepolisian, kepolisian bersama masyarakat untuk saling bergandengan tangan," jelasnya.

Kritik dari masyarakat pun diterima dengan lapang dada.

"Kritik dari masyarakat kami terima karena itu untuk membangun kepolisian, supaya dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan membangun institusi Polri sesuai harapan masyarakat. Kami terus melakukan perbaikan dan evaluasi," ujarnya.

Ketika ditanya tentang target Polda Kepri di 2026, Nona menjawab dengan sederhana namun bermakna.

"Trust masyarakat kepada Polri yang makin meningkat. Itulah harapan kami. Kalau trust makin meningkat, tapi tetap harus dengan kolaborasi antara masyarakat dengan kepolisian," katanya.

Ia menekankan pentingnya kerja sama semua pihak.

"Keamanan dan ketertiban itu tidak hanya tanggung jawab Polri, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Kepolisian berharap masyarakat ikut down to earth, bekerja sama untuk menjaga, menciptakan kondusivitas, keamanan, kenyamanan, dan rasa aman," ujarnya.

Nona juga mengingatkan Kepri memiliki karakteristik khusus sebagai wilayah investasi.

"Ini di wilayah Kepulauan Riau yang mana iklim investasi masuk juga harus dijaga. Maka kamtibmas harus kondusif supaya pembangunan dapat tercapai," pungkasnya.

Di akhir perbincangan, Nona menyampaikan pesan kepada masyarakat Kepri.

"Manfaatkan layanan-layanan yang ada 110, akun media sosial Polda Kepri, atau datang langsung ke Polsek dan Polres. Semua terbuka untuk melayani masyarakat. Polisi adalah partner Anda. Jangan ragu untuk berinteraksi dengan kami," ajaknya.

Ia juga berpesan agar masyarakat tidak menjadikan polisi sebagai momok.

"Polisi bukan lagi hal yang menakutkan. Polisi adalah besti, adalah sahabat, adalah partner untuk membangun Kepri yang lebih baik bersama-sama," pungkas Kombes Pol Dr. Nona Priscilia dengan senyum hangat. (TribunBatam.id/Bereslumbantobing)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.