Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - Uskup Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, memimpin Perayaan Ekaristi Pembukaan rangkaian kegiatan Yubelium atau Pesta Emas 50 Tahun kehadiran Kongregasi Religious of the Virgin Mary (RVM) di Indonesia, yang berlangsung di Gereja Santa Maria Assumpta, Kota Kupang, Senin 12 Januari 2026.
Perayaan Ekaristi tersebut dihadiri oleh para pimpinan kongregasi religius di Kota Kupang, perwakilan pemerintah, umat paroki, serta Pimpinan Distrik RVM Indonesia, Sr. Maria Tarcisia Tere Karangora, RVM, bersama seluruh suster RVM.
Dalam kotbahnya, Mgr. Hironimus Pakaenoni menegaskan bahwa bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Perayaan Ekaristi diawali dengan gambaran tentang kekosongan dan kerentanan yang mendalam.
Ia menyinggung rahim Hana yang tertutup, perjalanan para murid yang ditinggalkan, serta bayang-bayang penangkapan Yohanes Pembaptis.
Baca juga: 16 Suster Karmelit Compiegne Dikanonisasi, Martir yang Korbankan Nyawa Selama Revolusi Prancis
Menurutnya, gambaran tersebut mengungkapkan paradoks iman Kristiani, yakni Allah justru hadir di tempat di mana hidup manusia terasa rapuh, ringkih, dan penuh risiko, serta mampu mengubah kemandulan menjadi kesuburan melalui rahmat-Nya yang berdaulat.
"Hari ini kita diajak berdiri di Silo bersama Hana, istri Elkana, yang mengalami penghinaan dan penderitaan domestik yang memilukan. Namun, ia membawa seluruh kepedihannya kepada Tuhan semesta alam dalam doa yang hening dan penuh ketekunan," ungkap Uskup Hironimus.
Kesempatan yang sama, dalam sambutannya, Uskup Hironimus menegaskan bahwa usia 50 tahun bukanlah masa yang singkat, melainkan sebuah ziarah iman yang panjang, penuh dinamika jatuh bangun, namun ditopang oleh kesetiaan, pengorbanan, kerja keras, dan penyerahan diri yang tulus dalam melayani Tuhan dan Gereja.
Menurutnya, perjalanan Kongregasi RVM merupakan tanggapan atas rahmat Allah yang lebih dahulu berkarya, memanggil dan memilih orang-orang sederhana untuk menjadi pelayan serta murid-murid Kristus.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Kongregasi RVM di Indonesia telah menjadi berkat yang nyata, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, pembinaan iman, pelayanan sosial, serta pendampingan bagi mereka yang kecil, lemah, dan membutuhkan perhatian kasih.
Atas nama Gereja Keuskupan Agung Kupang, Uskup Hironimus menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tulus kepada seluruh suster RVM, baik yang telah berkarya sejak awal maupun yang saat ini masih melanjutkan perutusan, khususnya di wilayah Keuskupan Agung Kupang.
"Melalui spiritualitas devosi kepada Bunda Maria, para suster RVM telah menghadirkan wajah Gereja yang penuh kasih, rendah hati, dan siap melayani," tambahnya.
Uskup Hironimus juga mengajak seluruh suster RVM untuk terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan evangelisasi baru yang kontekstual, sesuai dengan kebutuhan konkret umat, agar semakin relevan dalam menghadapi tantangan zaman serta tetap menjadi mitra Gereja dalam membangun manusia seutuhnya di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Distrik RVM Indonesia, Sr. Maria Tarcisia Tere Karangora, RVM, memaparkan sejarah singkat Kongregasi Religious of the Virgin Mary (RVM).
Kongregasi ini didirikan pada tahun 1684 di Filipina oleh Venerable Ignacia del Espiritu Santo, dengan semangat Bunda Maria sebagai "Hamba Tuhan yang hina" yang hidup mencintai dan bekerja demi Kristus dan Gereja-Nya, serta motto "Menuju Yesus Bersama Maria."
Kata suster Maria, Kongregasi RVM berkarya di bidang pendidikan, pastoral, retret, sosial, kesehatan, asrama, dan pelayanan khusus sesuai kebutuhan Gereja lokal.
Lanjut kata Suster Maria, rumah induk Kongregasi berada di Manila, Filipina, dan saat ini RVM berkarya di berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Kanada, Indonesia, Ghana, Italia, Taiwan, dan Swedia.
Pendiri Kongregasi RVM, Venerable Ignacia del Espiritu Santo, adalah wanita religius Filipina pertama yang mendirikan komunitas Beaterio pada tahun 1684 setelah menjalani latihan rohani Santo Ignatius Loyola.
Ia wafat pada 10 September 1748 dan pada tahun 2007 dinyatakan memiliki kebajikan heroik oleh Paus Benediktus XVI.
Kehadiran Kongregasi RVM di Indonesia dimulai pada 12 Januari 1977 di Abianbase, Bali, atas undangan Uskup Denpasar saat itu, Mgr. Antonius Thijssen, SVD.
Dari Bali, misi RVM berkembang ke Seon, Keuskupan Atambua, kemudian meluas ke Kupang, Flores, Kalimantan Tengah, Lembata, hingga Timor Leste.
Dalam kurun waktu lima puluh tahun, Kongregasi RVM di Indonesia berkembang dari tiga suster misionaris asal Filipina menjadi 184 suster asal Indonesia yang telah berkaul dan melayani di berbagai negara tempat Kongregasi RVM berkarya.
Saat ini terdapat 21 komunitas RVM yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, dan Timor Leste.
Ketua Panitia Yubelium 50 Tahun RVM di Indonesia, Sr. Maria Fransisca Romana Yasmini, RVM, dalam laporannya menyampaikan bahwa perayaan syukur ini dilaksanakan selama satu tahun, dimulai dengan Misa Pembukaan pada 12 Januari 2026 dan akan berpuncak pada 12 Januari 2027, bertempat di Gereja Santa Maria Assumpta, Kupang.
Berbagai kegiatan yang direncanakan dalam rangka Yubelium 50 Tahun RVM di Indonesia meliputi perayaan Ekaristi pembukaan, pameran karya para suster, misa keliling dan aksi panggilan, bakti sosial kesehatan dan operasi katarak, live-in di Seon Malaka sebagai misi pertama RVM di Tanah Timor, pentas seni dan penggalangan dana, talk show "RVM Dulu, Kini dan yang Akan Datang", penanaman pohon, jalan sehat, serta Perayaan Misa Syukur Puncak Yubelium pada 12 Januari 2027.
Mengusung tema "Syukur atas Kasih Setia Tuhan", Suster Maria berharap perayaan emas Kongregasi RVM di Indonesia ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan rahmat, pembaruan komitmen perutusan, serta peneguhan langkah ke depan agar Kongregasi RVM terus menjadi tanda kehadiran kasih Tuhan melalui pelayanan yang rendah hati, setia, dan penuh pengharapan bagi Gereja dan masyarakat.