Syaiful dkk Tempuh Cuaca Ekstrem untuk Cari Pendaki Hilang di Gunung Slamet
January 13, 2026 06:09 AM

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Operasi pencarian Tim SAR terhadap pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Slamet, telah resmi ditutup, pada 7 Januari silam.

Akan tetapi, relawan Gunung Slamet tetap melakukan upaya mandiri untuk mencari siswa SMAN 5 Kota Magelang tersebut.

Harapan untuk menemukan Syafiq Ridhan Ali Razan (18), siswa yang hilang di Gunung Slamet, belum  sepenuhnya padam.

Syafiq hilang di Gunung Slamet, setelah mendaki melalui Jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. 

Sejumlah relawan yang tergabung dalam Basecamp Slamet Jalur Bambangan, Purbalingga, memilih tetap bergerak untuk melakukan pencarian secara mandiri.

Mereka menempuh medan yang kian berat dan cuaca yang seringkali tidak bersahabat, demi menemukan Syafiq. 

Koordinator Basecamp Slamet Jalur Bambangan, Syaiful Amri mengatakan, keputusan untuk melakukan pencarian mandiri ini dilakukan atas dasar kemanusiaan.  

Sebagai pengelola jalur pendakian dan warga yang hidup di kawasan kaki Gunung Slamet, pihaknya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus berupaya. 

Syaiful menjelaskan, upaya pencarian mandiri terhadap Syafiq, telah dilakukan sejak Jumat (9/1/2026) pekan lalu.

Saat itu, pihaknya memberangkatkan tiga Search dan Rescue Unit (SRU) pada titik pemetaan dan koordinat yang sebelumnya telah disusun oleh Basarnas.  

"Tiga hari kemarin kami kembali menelusuri area sesuai pemetaan dari Basarnas, bahkan kami maksimalkan lagi. Tapi, sampai dengan hari Minggu (11/1/2026) kemarin, belum ada tanda-tanda (keberadaan Syafiq—Red)," ujar Syaiful kepada Tribun Jateng, Senin (12/1/2026). 

Jalur Baturraden

Meski demikian, Syaiful mengatakan upaya masih dilakukan hingga hari ini, dengan memperluas area pencarian.  

"Semalam (Minggu malam—Red), kami sudah koordinasi dengan Basecamp Bambangan. Dari situ kami sepakat memperluas pencarian ke Jalur Baturaden," kata Syaiful.

"Sebab, secara historis, seringkali pendaki itu nyasar ke jalur tersebut," sambungnya. 

Dalam operasi ini, dua tim diterjunkan dengan total 57 personel, hasil kolaborasi relawan dari Basecamp Bambangan dan Basecamp Baturraden.  

Adapun, penyisiran dilakukan sejak pagi hingga dibatasi maksimal pukul 15.00, dengan mempertimbangkan kondisi cuaca yang ekstrem pada sore hari. 

Sementara itu, terkait informasi yang sempat beredar di media sosial soal terciumnya aroma tidak sedap di jalur pendakian, Syaiful memastikan, informasi tersebut bukan petunjuk keberadaan korban.  

"Memang terdeteksi bau, tapi bukan di Pos 7. Setelah kami cek, ternyata bau itu berasal dari temuan daging ayam yang dibuang pendaki. Jadi, bukan tanda-tanda korban," kata Syaiful. 

Selain itu, maraknya informasi ditemukannya korban juga bukanlah hal yang benar.

Hingga Senin siang, pihaknya mengaku belum menerima laporan terbaru dan belum ada tanda-tanda di temukannya korban.  

"Sampai saat ini kami masih menunggu kabar pencarian terbaru karena sinyal di area itu sangat terbatas. Sejak kemarin, kami juga belum menemukan adanya tanda-tanda penemuan korban," ujarnya. 

Cuaca ekstrem 

Sejauh ini, Syaiful melanjutkan, tantangan besar yang dihadapi tim saat melakukan pencarian adalah cuaca ekstrem yang menyulitkan area penyisiran, terutama di area jurang dan medan yang terjal.

Meski demikian, pihaknya tetap berkomitmen untuk memaksimalkan pencairan, hingga Rabu (14/1/2026) besok. 

Di tengah keterbatasan dan medan yang berat, Syaiful berharap, seluruh relawan yang tengah berjuang tetap diberi kekuatan dan pencarian ini dapat menjadi ladang ibadah bagi semua pihak.  

"Semoga teman-teman dan relawan tetap semangat, dan semoga segera ada titik terang agar ananda Syafiq bisa segera ditemukan," imbuhnya. (Farah Anis Rahmawati)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.