Bocah dengan Cerebral Palsy Menanti Perawatan, Hidup di Pengungsian Pasca Banjir Aceh
GH News January 13, 2026 03:21 PM
Jakarta -

Neni, warga di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, masih harus menjalani hari-harinya di tenda pengungsian yang tak layak. Rumah lenyap diterjang banjir. Ia mengingat betul hari-hari pertama pasca bencana. Total 9 hari mengungsi di perbukitan tanpa tenda.

"Tiga hari juga nggak makan saat itu. Helikopter lewat saat itu tapi hanya lewat saja," cerita Neni.

"Saya juga sempat pisah sama suami, cuma bawa anak. Baru bertemu setelah seminggu," lanjut dia.

Anak Neni termasuk kelompok rentan. Namanya Dimas. Dimas sejak lahir menghadapi kondisi cerebral palsy. Karena keterbatasan ekonomi, Dimas juga tidak melakukan terapi sebagaimana mestinya.

Hal ini berdampak pada perkembangan saraf Dimas, yang sulit berjalan meski usianya sudah 9 tahun. Belum lagi, gizi yang belum terpenuhi. Bobot tubuh Dimas jauh dari ideal. Berat badannya hanya 9 kg.

Dokter spesialis anak, dr Henry Azis yang juga ikut sebagai relawan tenaga cadangan kesehatan (TCK) Kemenkes RI Batch II, menyebut kondisi Dimas sebetulnya memerlukan intervensi lebih lanjut.

"Pada anak ini setelah kita lakukan assessment ternyata anaknya mengalami gangguan saraf dan masalah gizi. Memang kondisi tersebut sudah terjadi sebelum bencana tapi setelah ada bencana menjadi penyulit bagi kedua anak tersebut," kata dia saat ditemui di Desa Sukajadi, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (13/1/2026).

"Dan akan melakukan pengobatan dan pemberian dan perbaikan nutrisi," lanjutnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, dr Mustakim, memastikan pihaknya akan melakukan pendampingan lebih lanjut untuk kelompok rentan anak berkebutuhan khusus.

Termasuk pemberian makanan tambahan yang disesuaikan. Merujuk rekomendasi dokter spesialis anak, susu formula yang dikhususkan untuk kondisi Dimas juga tengah disiapkan.

dr Mustakim mengaku kondisi pengungsian saat ini tentu membuat kesehatan Dimas lebih berisiko memburuk. Terlebih, keterbatasan air bersih. Karenanya, Dinkes juga memprioritaskan rumah sementara untuk anak disabilitas.

Ia juga menyoroti pentingnya terapi yang diberikan secara berkelanjutan.

"Insha Allah terapi ini akan kita konsisten sustainable, yang dikelola oleh bidan desa yang ada di Sukajadi beserta dengan bidang di kesehatan masyarakat," tuturnya dalam kesempatan yang sama.

"Nanti kita akan melakukan pemantauan sehingga berat badan si anak yang kita prioritaskan ini membaik setelah ada intervensi," kata dia.

Masih di lokasi yang sama, para relawan tenaga kesehatan juga menemui anak dengan kondisi kelainan jantung bawaan.

"Pasien kedua anak 2 tahun dengan kelainan jantung bawaan, kebetulan nanti akan ada nakes konsultan kardiologi anak dan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut melakukan penelusuran tentang penyakit jantung bawaan anak tersebut," lanjut dr Henry.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.