Melalui akun Xpribadinya, Andien membagikan refleksi emosional yang kemudian dikutip Grid.ID pada Selasa (13/1/2026). Ia mengaku bahwa kisah dalam memoir Aurelie sangat dekat dengan pengalaman pribadinya.
"Membaca memoirnya Aurelie, ngingetin terhadap kekerasan dalam hubungan yang pernah gue alami. Berkali-kali," tulis Andien melalui akun Xpribadinya yang dikutip Grid.ID pada Selasa (13/1/2026).
Tak hanya soal kekerasan fisik, Andien juga menyinggung bagaimana relasi tersebut dibalut dengan kekerasan psikologis yang perlahan meruntuhkan rasa percaya diri dan harga dirinya sebagai individu. Ia mengungkapkan bahwa kala itu dirinya dibuat percaya bahwa latar belakang keluarga yang tidak ideal membuatnya merasa tidak pantas mendapatkan pasangan yang baik.
"Dulu gue dibuat percaya bahwa orang dari latar belakang keluarga yang “carut marut” seperti gue, nggak pantes dan nggak seharusnya dapet pasangan yang baik2," tulisnya.
Seiring dengan viralnya cuitan tersebut, unggahan lama Andien dari tahun 2022 kembali mencuat ke permukaan. Dalam unggahan itu, ia pernah menceritakan secara lebih rinci pengalaman abusive relationship yang dialaminya bersama mantan kekasihnya, jauh sebelum ia menikah.
"Gue pernah ngalamin abusive relationship (nggak bisa dibilang KDRT karena belum menikah) with my boyfriend back then. Pas dipukulin pertama kali, gue langsung putusin," cerita Andien.
Namun, keputusan untuk mengakhiri hubungan tersebut ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Setelah perpisahan pertama, mantan kekasihnya datang kembali dengan tangisan, permohonan, dan memberikan janji manis yang membuat Andien luluh.
"Besokannya dia kayak nangis-nangis mohon-mohon dan bilang nggak bisa hidup tanpa gue, lalu karena gue kasihan. Gue luluh," tulisnya.
Siklus kekerasan pun kembali terulang. Setelah rujuk, tindakan kekerasan kembali terjadi, diikuti oleh permintaan maaf dan drama emosional yang sama. Pola putus-nyambung ini berlangsung berulang kali selama berbulan-bulan.
"Setelah gue balikan, dia ngulangin hal yang sama. Lalu gue putusin lagi. Abis itu dia nangis-nangis lagi, mohon-mohon, sampe gue kasian. Terus gue luluh lagi," ungkapnya.
Kejadian tersebut pun terjadi secara berulang selama sembilan bulan lamanya. Ia pun membeberkan kejadian mengerikan yang kerap ia dapatkan mulai dari ditonjok hingga dicekik.
"Begitu aja terus selama 9 bulan isinya ditonjok, dibeset, dicekik, dipukul pake hardcase gitar. Putus nyambung. Minta maaf & luluh," cerita Andien.
Ironisnya, di tengah penderitaan tersebut, Andien memilih untuk menutupi semuanya dari orangtuanya. Ia tidak ingin orangtuanya menyalahkan sang kekasih, sehingga ia terus mencari alasan untuk menyamarkan luka-luka yang ada di tubuhnya.
"Gue nggak bisa jujur ke orangtua, apapun selalu gue umpetin karena nggak mau orangtua nyalahin cowok gue. Bilangnya jatohlah, kepentok lah," tulisnya.
Padahal, menurut Andien, luka-luka itu jelas sulit disembunyikan. Bahkan orang-orang di sekitarnya sebenarnya menyadari bahwa kekerasan tersebut tidak mungkin terjadi karena kecelakaan biasa.
"Padahal sih mereka juga tau yaa nggak mungkin kepentok orang matanya ampe nggak bisa dibuka kayak petinju gitu," sambungnya.
Meski demikian, Andien sudah mendapatkan banyak masukan dari teman terdekat untuk menyudahi hubungan toxic tersebut. Bahkan, makeup artist yang kerap bekerja dengannya saat tampil harus berulang kali menyamarkan memar di wajahnya.
"Setiap temen gue yang tau, udah selalu menyarankan gue udah ninggalin dia. Apalagi makeup artist gue yang saat itu kerjaannya “menyamarkan” memar di mata gue setiap show," tulisnya.
Namun seperti banyak korban kekerasan dalam hubungan lainnya, Andien terjebak pada harapan bahwa pasangannya akan berubah. Ia terus meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa kekerasan tersebut tidak akan terulang.
"Tapi gue selalu menekankan ke orang-orang bahwa gue yakin dia bisa berubah," harapnya.