Bambu Sakral 'Kawoh Bingkok' dari Kaki Gunung Pesagi
January 13, 2026 05:19 PM

Mengungkap jenis Schizostachyum caudatum Backer Ex Heyne: Bambu Sakral "Kawoh Bingkok" dari Kaki Gunung Pesagi

Oleh: Yeni Rahayu

Mahasiswa Program Doktor Biologi dengan bidang minat Sistematika Tumbuhan, di Program Pascasarjana Doktoral Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya.

Sejak zaman dahulu, bambu telah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia, maupun Asia. Bambu dipakai mulai dari seseorang dilahirkan hingga ke liang lahat.

Pada zaman dahulu, bilah bambu yang ditajamkan sebagai belati untuk memotong tali pusar bayi pada proses kelahiran di desa-desa.

Geritan (baby walker) dibuat dari bambu untuk membantu bayi belajar berjalan. Saat bayi menginjak usia kanak-kanak dan remaja, enggrang bambu merupakan permainan tradisional yang mengasah motorik dan keseimbangan.

Saat seseorang beranjak dewasa dan melangsungkan pernikahan, bambu digunakan untuk tiang janur sekaligus penanda rumah pemilik hajat.

Keranda bambu masih banyak dipakai mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan potongan bambu kerap menggantikan papan penyangga mayat di liang kubur.

Bambu dimanfaatkan mulai dari struktur bangunan hingga bahan pengobatan, dan kerajinan anyaman. Tumbuhan bambu adalah simbol adaptabilitas dan ketangguhan.

Penelitian bambu dok 1
PENELITIAN: Gambar. 1. Schizostachyum caudatum Backer ex Heyne. A-B. rumpun bambu keramat di Pemakaman tua Pekon Bahway, dan di sebuah pekarangan Pekon Sebarus Lampung Barat; C. Ciri percabangan; D-E. Ciri pelepah buluh; F. Ciri rebung (tunas); G-H. Daun dan ciri rambut pada kuping daun; I. Perbungaan bambu; J. Bunga dan bagian-bagiannya. Catatan: fl = floret, br = bracts, lm = lemma, pl = palea, gn = gynoecium, sty = style, an = anthers. Sumber: Rahayu et al., 2025. https://doi.org/10.1016/j.bamboo.2025.100162

Sejumlah 108 jenis bambu tumbuh subur dan dikenali masyarakat Indonesia, namun baru 12 jenis yang potensinya telah tergali dengan baik (Widjaja, 2019).

Dalam gencatan modernisasi, banyak jenis bambu mulai terpinggirkan, dianggap sekadar rumput liar (gulma), atau bahkan dijauhi karena mitos yang menyelimutinya.

Rumpun bambu yang rimbun dan gelap sering kali dikaitkan dengan entitas mistis, atau anggapan tempat bersarang hewan berbisa, sehingga banyak orang menebang rumpun bambu yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka.

Bambu, tanpa disadari sering dianggap material murah, tak ubahnya seperti rumput liar. Lambat laun, banyak jenis bambu terkikis dan kritis karena habitatnya rusak oleh berbagai faktor.

Diantara beragam jenis bambu liar yang tumbuh kritis di pekarangan, kebun campuran hingga tebing-tebing di pinggir hutan, kita dapat menjumpai jenis-jenis endemik.

Salah satunya, yaitu Schizostachyum caudatum Backer Ex Heyne (Gambar 1), bambu endemik asal kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat.

Bagi warga setempat, bambu ini bukan sekedar material alam, melainkan warisan sakral yang membawa berkah perlindungan dan kewibawaan.

Pengetahuan lokal dan kearifan masyarakat di tempat asalnya, menjadi benteng terakhir agar bmabu ini tidak punah akibat eksploitasi berlebihan atau alih fungsi lahan.

Sebuah penelitian etnobotani bambu yang dilakukan oleh Yeni Rahayu (Dosen Prodi Biologi, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera) bersama tim dari Universitas Brawijaya dan Universitas Tunku Abdul Rahman, Perak, Malaysia, mendokumentasikan bagaimana masyarakat lokal berinteraksi dengan bambu.

Studi etnobotani menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan tradisional masyarakat (indigenous knowledge) dengan dunia ilmiah.

Studi ini penting untuk melindungi kekayaan bambu lokal dan pengetahuan tradisional terkait, agar cara-cara tradisional terkait pemanfaatan dan perawatan bambu tidak hilang ditelan zaman.

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan pada Jurnal Advances in Bamboo Science (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2773139125000412), sebuah platform jurnal Internasional bereputasi dan terindeks scopus dari penerbit ELSEVIER, memetakan pula kesesuaian habitat bagi jenis bambu S. caudatum sebagai informasi pendukung konservasinya.

Melalui metode wawancara mendalam dan observasi lapangan, penelitian ini menemukan bahwa bambu S. caudatum atau Kawoh Bingkok memiliki keterikatan kuat dengan identitas lokal, yang dibuktikan dengan skor Indeks Signifikansi Budaya (CI) yang tinggi.

Indeks signifikansi budaya ini menunjukkan bahwa Kawoh Bingkok bukan sekadar tumbuhan liar, melainkan entitas yang paling sering digunakan dan dikeramatkan dalam sistem kepercayaan masyarakat di kaki Gunung Pesagi.

Salah satu peran paling ikonik dari bambu Kawoh Bingkok adalah pemanfaatanya sebagai properti kostum Festival Sekugha.

Festival topeng yang dirayakan oleh masyarakat lampung pasca Idul Fitri ini merupakan pesta rakyat yang penuh dengan nilai kegembiraan dan kebersamaan.

Bambu Schizostachyum caudatum memegang peranan penting dalam festival ini sebagai Tongkat Sakral (Tungkat Sekugha).

Para peserta menggunakan topeng, misalnya kostum Sekugha Kamak (kotor), sering menggunakan batang bambu buntu sebagai tongkat saat melakukan pawai atau atraksi. 

Masyarakat meyakini bahwa tongkat bambu Kawoh Bingkok memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Ada kepercayaan turun-temurun bahwa siapapun yang menyimpan atau membawa tongkat ini akan mendapatkan 3 hal, yakni:

1.   Martabat dan Kewibawaan: Memancarkan aura kepemimpinan dan harga diri yang tinggi.

2.   Ketenangan Batin: Tercermin dari wajah yang selalu tampak tenang dan teduh.

3.  Kekuatan Fisik: Memberikan perasaan kuat dan bugar, serta potongan batang kawoh bingkok ini dianggap sebagai perisai yang mampu melindungi tubuh dari pengaruh energi negatif.

Studi ini termasuk kategori penelitian dasar, sebagai bentuk upaya para peneliti dalam menerjemahkan "mitos" ke dalam bahasa sains.

Kepercayaan masyarakat bahwa bambu ini dapat menangkal "pengaruh jahat" dan terpancar dari wajah yang teduh, memberikan petunjuk ilmiah penting.

Dalam perspektif sains, gangguan kesehatan sering kali disebabkan oleh stres oksidatif akibat radikal bebas.

Para peneliti menduga bahwa Kawoh Bingkok mengandung senyawa kimia alami yang berfungsi sebagai antioksidan kuat.

Inilah alasan mengapa mereka yang berinteraksi dengan bambu ini diyakini memiliki tubuh yang bugar dan wajah yang tetap segar.

Sebuah manifestasi fisik dari perlindungan seluler yang mungkin diberikan oleh kandungan kimia tumbuhan. Namun demikian, penelitian-penelitian terapan masih perlu dilakukan untuk membuktikan kandungan kimiawi pada bambu. 

Studi ini menjadi pengingat bagi kita bahwa pengetahuan lokal (indigenous knowledge) adalah harta karun ilmiah yang belum terjamah.

Menurut Yeni Rahayu, "Kearifan lokal dan pengetahuan yang berkembang di setiap etnis adalah sains yang masih tersembunyi dalam balutan tradisi. Tugas kita adalah menyingkapnya." (*)

Senin, 29 Desember 2025

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.