Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Dini hari di Suranenggala seharusnya lengang.
Namun, Selasa (13/1/2026) sekitar pukul 02.10 WIB, suasana justru menjadi tegang ketika patroli Polsek Kapetakan menemukan sekelompok remaja yang dicurigai hendak melakukan penyerangan.
Dalam hitungan menit, rencana itu pun digagalkan.
Lima remaja diamankan di sekitar permukiman warga Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon.
Mereka berinisial MAN, S, I, S dan IS, seluruhnya warga setempat.
Penindakan dilakukan setelah polisi menerima informasi adanya kelompok remaja yang berkumpul di jam rawan dan diduga bersiap menyerang wilayah lain.
Bersama para remaja tersebut, petugas menyita barang-barang yang tak biasa dibawa anak muda pada dini hari, seperti puluhan anak panah berbahan paku besi yang dimodifikasi, puluhan paku, beberapa ketapel, sejumlah telepon genggam, serta tiga unit sepeda motor tanpa pelat nomor.
Para remaja dan barang bukti kemudian dibawa ke Mapolsek Kapetakan sebelum diserahkan ke Satreskrim Polres Cirebon Kota untuk penyidikan lebih lanjut.
Kapolsek Kapetakan, AKP Rudiana menegaskan, bahwa tindakan ini murni pencegahan agar tidak terjadi korban.
“Pengamanan ini kami lakukan sebagai langkah preventif untuk menghindari terjadinya bentrokan atau tawuran yang berpotensi menimbulkan korban luka maupun korban jiwa, mengingat aktivitas kelompok remaja tersebut dilakukan pada jam rawan dan dengan membawa alat yang dapat membahayakan keselamatan orang lain,” ujar Rudiana, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, pemeriksaan dilakukan bukan sekadar memproses peristiwa malam itu, tetapi juga menelusuri kemungkinan adanya jaringan dan pihak lain.
“Para remaja yang diamankan beserta seluruh barang bukti langsung kami bawa ke Mapolsek Kapetakan untuk dilakukan pemeriksaan dan pendalaman lebih lanjut, sekaligus untuk mengetahui motif, jaringan, serta potensi keterlibatan pihak lain dalam rencana penyerangan tersebut,” ucapnya.
Rudiana juga menegaskan, sikap tegas kepolisian terhadap kekerasan jalanan.
“Kami tidak akan memberikan ruang bagi aksi kekerasan jalanan maupun tawuran antar kelompok remaja. Patroli dan kegiatan preventif akan terus kami tingkatkan, khususnya pada waktu-waktu yang rawan terjadinya gangguan kamtibmas,” jelas dia.
Langkah cepat ini mendapat apresiasi dari Polres Cirebon Kota.
Kasi Humas Polres Cirebon Kota, AKP M. Aris Hermanto, menilai pencegahan dini menjadi kunci agar situasi tetap kondusif.
“Kami mengapresiasi langkah cepat Polsek Kapetakan dalam mengamankan para remaja sebelum aksi penyerangan terjadi,” kata Aris.
Ia sekaligus mengingatkan peran keluarga dalam mencegah anak terjerumus pada kekerasan.
“Kami mengimbau kepada masyarakat, khususnya para orang tua, agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anaknya guna mencegah keterlibatan dalam aksi tawuran atau kekerasan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.
Dari dokumentasi yang dibagikan petugas, tampak lima pemuda duduk bersila di barisan depan dengan kepala tertunduk, mengenakan pakaian santai seperti hoodie dan celana jeans.
Di belakang mereka berdiri enam petugas, di mana dua berseragam lengkap Polri, empat lainnya berpakaian sipil.
Beberapa petugas memegang barang bukti, seperti ketapel dan benda panjang berhias rumbai, menyerupai busur panah.
Foto lain memperlihatkan puluhan paku berukuran sekitar 7–10 sentimeter, berwarna cokelat gelap kehitaman, sebagian tampak berkarat.
Paku-paku itu diletakkan di atas kantong plastik hitam yang kusut.
Ada pula empat ketapel berjajar, satu dari dahan kayu dengan karet cokelat; satu bergagang dibalut lakban hitam dengan karet merah; satu dari kayu alami dengan karet hijau cerah; dan satu bergagang kayu lebih tebal yang dihaluskan dengan karet kuning.
Dokumentasi terakhir menampilkan sejumlah busur tanah dari lidi atau bambu tipis, diikat dan dihiasi rumbai plastik merah, hijau, merah muda, serta biru, dengan bagian ujung dibalut kain dan plastik.
Malam itu, rencana penyerangan tak pernah terjadi.
Bagi polisi, pengamanan ini bukan sekadar penindakan, melainkan bagian dari komitmen menjaga rasa aman warga Suranenggala.
Bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengawasan, kepedulian dan kehadiran aparat di jam-jam rawan bisa mencegah kekerasan sebelum menimbulkan korban.
Baca juga: Kejahatan 2025 di Cirebon: Ada 1.893 Kasus, Polisi Gagalkan 60 Tawuran