Pasien Jantung di Banyumas Meninggal di Atas Pikap Pengangkut Sekam
January 13, 2026 10:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Malam Minggu yang seharusnya tenang berubah menjadi duka mendalam bagi keluarga Nurdiansyah (29), warga Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.

Ia tak pernah menyangka keputusan nekatnya membawa sang bibi, Khotimah (43), menggunakan sepeda motor dan berakhir di mobil pikap pengangkut sekam, menjadi momen terakhir kebersamaan mereka.

Khotimah meninggal dunia dalam perjalanan menuju RSUD Ajibarang, Sabtu (10/1/2026) sekira pukul 21.00 WIB.

Baca juga: Begini Akhir Kasus Viral Ambulans Puskesmas Tolak Antar Pasien di Banyumas

Tragedi ini bermula saat Khotimah yang memiliki riwayat penyakit jantung mengalami sesak napas.

Nurdiansyah atau akrab disapa Udin, bergegas membawa bibinya ke Puskesmas 1 Pekuncen menggunakan sepeda motor karena panik.

Jarak tempuh hanya sekitar 5 menit.

Sesampainya di Puskesmas, pasien sempat mendapatkan pertolongan pertama berupa pemasangan oksigen.

Namun, petugas medis menyatakan ketidaksanggupan menangani dan menyarankan rujukan ke RSUD Ajibarang.

Drama terjadi saat keluarga meminta fasilitas ambulans.

Menurut Udin, prosedur yang disampaikan petugas terkesan berbelit di tengah kondisi pasien yang semakin kritis.

"Jawabannya perawat nunggu koordinasi dulu dengan RSUD Ajibarang, katanya kalau tidak nanti puskesmas kena omel," kata Nurdiansyah kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (13/1/2026).

Prosedur Dianggap Lama

Merasa prosedur tersebut memakan waktu, Udin yang panik akhirnya memutuskan membawa keluar pasien dari Puskesmas.

Ia bahkan sempat melihat ambulans terparkir dan meminta langsung digunakan, namun diminta kembali masuk Puskesmas untuk prosedur infus dan administrasi.

"Saya bukan anti prosedur. Tapi lihat kondisinya. Sudah parah, lama, akhirnya saya putuskan bawa sendiri," tegasnya.

Tanpa ambulans, Khotimah dibonceng bertiga menggunakan sepeda motor bersama Udin dan adiknya.

Nahas, baru berjalan sekitar 3 kilometer atau tepatnya di depan SD Cikawung, pasien pingsan di atas motor.

Di tengah kepanikan pinggir jalan yang gelap, sebuah mobil pikap bermuatan penuh sekam padi (merang) melintas.

Meski sopir sempat ragu karena mengira kawanan begal, ia akhirnya bersedia menolong.

Meninggal di Pikap

Khotimah dibaringkan di atas tumpukan sekam di bak terbuka, ditemani anak laki-lakinya, Bayu (17) dan neneknya.

Sementara Udin mengawal menggunakan motor di belakang.

Pilunya, di atas tumpukan sekam itulah Khotimah mengembuskan napas terakhirnya.

"Di dalam mobil pikap itulah, sekitar pukul 21.00 WIB, Khotimah mengeluarkan busa dari mulutnya," tutur Udin menahan sedih.

Setibanya di RSUD Ajibarang, tubuh Khotimah sudah dipenuhi sekam padi dan dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.

Suami almarhumah, Nasrudin (49) yang sedang bekerja di Kalimantan tak kuasa menahan tangis mendengar kabar tersebut.

Ia menyayangkan penanganan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dinilai kaku pada situasi gawat darurat.

"Harusnya kalau sudah tidak sanggup menangani, langsung dibawa saja. Wong sudah gawat. Tidak perlu prosedur macam-macam," ungkap Nasrudin.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.