Derita Warga Pelosok Wewaria: Ibu Hamil hingga Pelajar Nekat Terobos Banjir Kali Lowolaka
January 13, 2026 10:19 PM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo

POS-KUPANG.COM, ENDE – Harapan warga Desa Fataatu Timur dan sejumlah desa lain di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, untuk memiliki jembatan penghubung di Kali Lowolaka hingga kini belum juga terwujud. 

Impian akan akses transportasi yang layak itu seolah tinggal harapan kosong.

Akibat ketiadaan jembatan, setiap musim hujan ratusan warga mulai dari bayi, balita, pelajar, orang dewasa, lanjut usia hingga ibu hamil, terpaksa nekat menerobos derasnya arus air bahkan banjir di Kali Lowolaka.

Kali Lowolaka merupakan satu-satunya akses transportasi yang menghubungkan Desa Fataatu Timur dengan Desa Aendoko serta wilayah lain di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: 85 Persen Dana Desa Dialihkan ke KDMP, Komisi I DPRD Ende Minta Pemerintah Tinjau Ulang

Kali Lowolaka ini harus dilintasi warga untuk menuju Kota Ende, Pasar Weloamosa, Kecamatan Ropa, pusat pemerintahan kabupaten dan kecamatan, gereja, pusat kegiatan budaya, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Para pelajar dari Kampung Leleloo dan Aesi yang menempuh pendidikan di SD dan SMP pun tak luput dari risiko. 

Demi sampai ke sekolah, mereka kerap melepas sepatu agar tidak basah saat menyeberangi sungai. 

Tak jarang, anak-anak harus dibantu orang tua atau warga setempat untuk melintasi derasnya arus Kali Lowolaka.

Namun, saat hujan deras mengguyur, Kali Lowolaka kerap meluap. 

Kondisi ini membuat para pelajar ketakutan untuk menyeberang sehingga terpaksa meliburkan diri dan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Kondisi ini merupakan masalah berulang setiap tahun. Saat musim hujan, akses transportasi lumpuh total. Mobilitas orang dan barang terhambat, dan yang paling terdampak adalah anak-anak sekolah,” ujar Kepala Desa Fataatu Timur, Isak Abel Do, Selasa (13/1/2026).

Isak menjelaskan, jika terjadi banjir besar, air di Kali Lowolaka bisa memakan waktu hingga satu minggu untuk surut. 

Situasi tersebut semakin menyulitkan warga, terutama ketika bertepatan dengan masa ujian sekolah.

“Kalau banjir terjadi saat ujian, itu sangat sulit. Anak-anak tetap berusaha datang ke sekolah dengan dibantu orang tua mereka menyeberangi kali. Tapi kalau banjir besar, ujian terpaksa ditunda,” ungkapnya.

Tak hanya sektor pendidikan yang terdampak, akses layanan kesehatan pun menjadi persoalan serius. 

Isak menceritakan pengalamannya pada tahun 2016 saat harus membawa seorang ibu hamil yang hendak melahirkan ke Puskesmas Weloamosa, yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari Desa Fataatu Timur.

Saat itu, Kali Lowolaka sedang banjir dan mobil kecil tidak mampu menembus arus. 

Ia terpaksa menggunakan mobil truk untuk mengangkut ibu hamil tersebut dan nekat menerobos banjir.

“Bahkan ada ibu hamil yang harus digendong menyeberangi kali saat musim hujan. Ada juga warga Desa Aendoko yang sakit dan dirujuk ke puskesmas pada malam hari, terpaksa digotong ke seberang kali sebelum dibawa mobil,” tuturnya.

Menurut Isak, meski terdapat jalur alternatif berupa jalan rabat beton yang dibangun menggunakan dana desa pada tahun 2018, jalur tersebut tidak menjadi solusi efektif. 

Pasalnya, jarak tempuhnya mencapai sekitar empat jam perjalanan, sementara melewati Kali Lowolaka hanya memakan waktu sekitar 10 menit.

Namun hingga kini, pembangunan jembatan penghubung belum juga terealisasi.

“Kami sangat berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTT, dan Pemerintah Kabupaten Ende dapat merespons serius persoalan ini. Kali Lowolaka adalah satu-satunya akses transportasi masyarakat,” tegas Isak.

Diketahui, jumlah penduduk Desa Fataatu Timur yang bergantung pada akses Kali Lowolaka mencapai sekitar 1.200 jiwa dengan 297 kepala keluarga. 

Sementara itu, jumlah pelajar yang terdampak meliputi lebih dari 100 siswa SD, 98 siswa SMP, serta sekitar 50 anak TK/PAUD.

Tanpa jembatan penghubung, warga di pelosok Wewaria terus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap musim hujan, sebuah potret nyata ketimpangan infrastruktur di wilayah pedesaan Flores.  (bet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.