Perjuangan Aurelie Moeremans Sembuhkan Mental Usai Jadi Korban Child Grooming: Berani Bercerita
January 14, 2026 02:43 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Aktris Aurelie Moeremans akhirnya buka suara mengenai masa lalunya yang kelam sebagai korban child grooming, sebuah pengalaman yang berdampak besar pada kesehatan mentalnya.

Sebagai informasi, child grooming merupakan teknik yang dilakukan orang dewasa untuk memanipulasi pikiran anak.

Dalam pengakuannya, Aurelie Moeremans menceritakan proses panjang dan berat untuk memulihkan kepercayaan diri serta rasa aman yang sempat hilang.

Keberanian Aurelie Moeremans membagikan kisahnya di publik diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi korban lain untuk berani berbicara dan mencari dukungan.

Baca juga: Klarifikasi Roby Tremonti Usai Dituding Sebagai Bobby di Buku Broken Strings Aurelie: Tidak Tenang

Baru-baru ini ramai soal pengakuan Aurelie Moeremans yang pernah alami Grooming lewat buku yang ia tulis berjudul Broken String. 

Child grooming kerap tidak dikenali sebagai kekerasan karena tidak meninggalkan luka fisik. Namun, nyatanya bisa berdampak serius pada sang korban. 

Psikolog Klinis untuk Klien Dewasa, Rini Hapsari Santosa, menegaskan bahwa grooming bukan relasi bermasalah biasa.

Melainkan bentuk kekerasan yang dirancang untuk mengikat, mengendalikan, dan melumpuhkan daya nilai korban.

BUKU VIRAL - Isi dari buku Broken Wings karya Aurelie Moeremans yang menceritakan tentang pengalaman jadi korban Child Grooming.
BUKU VIRAL - Isi dari buku Broken Wings karya Aurelie Moeremans yang menceritakan tentang pengalaman jadi korban Child Grooming. (Instagram/@aurelie)

Grooming Dimulai dari Hal “Manis”, Berakhir pada Kontrol

Berbeda dengan kekerasan yang terjadi secara tiba-tiba, grooming dibangun perlahan lewat kepercayaan dan kedekatan emosional.

Di fase awal, korban kerap merasa aman, dipahami, bahkan diselamatkan.

“Biasa dimulai dengan membangun kedekatan dan kepercayaan. Dimulai dengan hal-hal yang baik dan manis. Namun lama-lama mengarah kepada keterikatan, upaya kontrol dan menyakiti, disertai manipulasi," ungkap Rini saat dihubungi Tribunnews, Selasa (13/1/2026). 

Pada titik ini, relasi mulai berubah arah. Korban tidak lagi bebas menentukan sikap, sementara pelaku mulai menanamkan ketergantungan emosional.

Manipulasi Membuat Korban Sulit Sadar Sedang Disakiti

Salah satu alasan grooming sangat berbahaya adalah karena korban dibuat ragu pada penilaiannya sendiri. 

Pelaku kerap bersikap tidak konsisten, mencampur perhatian dengan tekanan, kasih dengan ancaman.

“Karena erat dengan manipulasi, sulit bagi korban untuk menilai secara objektif. Karena tingkah laku pelaku tidak konsisten dan didasari oleh tujuan atau kepentingan tertentu yg sudah diatur.”

Akibatnya, korban cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa terlalu sensitif, atau takut dianggap berlebihan. 

Kondisi ini memperbesar risiko gangguan kecemasan, depresi, hingga trauma psikologis jangka panjang.

BUKU VIRAL - Isi dari buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang menceritakan tentang pengalaman jadi korban Child Grooming. (Instagram/@aurelie)

Isolasi Jadi Tanda Paling Nyata Child Grooming

Dalam banyak kasus, grooming ditandai dengan semakin menyempitnya dunia sosial korban. Hubungan dengan teman, keluarga, atau lingkungan luar perlahan terputus.

“Tanda paling umum, makin sulit dijangkau dan terisolasi di bawah kontrol pelaku. Sulit ditemui, apa-apa harus izi , kehidupan sosial makin sempit,"jelasnya. 

Isolasi ini bukan hanya strategi kontrol, tetapi juga faktor utama yang memperparah dampak kesehatan mental. 

Tanpa ruang aman untuk berbagi, korban semakin sulit keluar dari lingkaran kekerasan.

Rini menekankan bahwa grooming dapat dialami siapa saja, terutama ketika terdapat ketimpangan relasi kuasa. 

Perbedaan usia, status sosial, jabatan, pendidikan, atau kondisi emosional membuat korban berada pada posisi rentan.

Dalam situasi ini, korban sering merasa tidak punya pilihan selain patuh, meski harus mengorbankan kenyamanan dan kesehatan psikologisnya sendiri.

Berani Bercerita, Titik Balik Pemulihan Mental

Menurut Rini, perubahan biasanya mulai terjadi ketika korban berani membuka cerita kepada orang lain. 

Respon dari lingkungan luar membantu korban menyadari bahwa relasi yang dijalaninya tidak sehat.

Dari proses ini, korban mulai memulihkan kembali daya nilai, kepercayaan diri, dan kendali atas hidupnya, langkah penting dalam pemulihan kesehatan mental pascakekerasan.

(TribunNewsmaker.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.