TRIBUNTRENDS.COM - Nama Roby Tremonti kembali menjadi perbincangan hangat publik menyusul viralnya buku “Broken Strings”.
Kali ini, sorotan tak hanya berhenti pada polemik masa lalu, tetapi juga merambah pada kecemasan personal yang diungkapkan Roby secara terbuka.
Dalam pernyataannya kepada MNC TV, pria berusia 45 tahun itu menyampaikan kegelisahan mendalam yang kini menghantui hidupnya, terutama terkait keselamatan diri dan keluarganya.
Jika sebelumnya Roby hanya berharap masa lalunya tidak kembali diungkit, kini nadanya berubah.
Ia berbicara tentang rasa takut, tekanan psikologis, serta keinginan kuat untuk menjaga nama baik yang menurutnya telah tercemar oleh narasi yang beredar luas di ruang publik.
Baca juga: Tak Peduli Diancam, Hesti Sindir Roby Tremonti soal Aurelie Moeremans? Klarifikasi jadi Konfirmasi
Dalam keterangannya, Roby menegaskan bahwa inti dari semua kegelisahannya bermuara pada satu hal: reputasi.
Ia menyampaikan pernyataan itu dengan nada tegas, seolah ingin menutup segala spekulasi yang berkembang.
"Saya tekankan lagi, once for all, saya cuma pengin nama baik saya," ujarnya.
Kalimat singkat tersebut mencerminkan kegundahan seorang pria yang merasa perjalanan hidup dan reputasinya kini dipertaruhkan di hadapan publik.
Roby kemudian menyinggung usia dan kondisi fisiknya. Di usianya yang ke-45 tahun, ia berharap masih memiliki waktu panjang untuk menjalani hidup dengan tenang dan sehat.
Dalam pernyataan yang terkesan melompat-lompat, ia bahkan menyinggung soal kondisi penglihatannya yang mulai menurun.
"Dari saya mata masih sehat. Saya sekarang 'tolong mah kacamata' (meminta diambilkan kacamata oleh sang istri yang tak terlihat di kamera), sekarang sudah plus 1,5," katanya.
Ucapan tersebut seolah menjadi simbol bahwa dirinya kini berada di fase hidup yang lebih rentan, jauh dari gambaran sosok yang siap menghadapi tekanan berlapis dari opini publik.
Bagian paling mengejutkan dari pernyataan Roby muncul ketika ia menyinggung potensi konflik berbasis agama.
Sebagai seorang penganut Katolik, Roby mengaku khawatir buku Broken Strings dapat memantik kegaduhan yang melibatkan sentimen keagamaan.
"Saya tidak mau apa sih memancing kegaduhan umat beragama, terutama agama Katolik, mempertanyakan ini karena saya mengeluarkan bukti ini enggak ada main-main," tutur Roby dengan nada serius.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Roby tidak hanya merasa diserang secara personal, tetapi juga cemas jika isu ini berkembang ke ranah yang lebih sensitif dan berbahaya.
Baca juga: Alasan Pilu Aurelie Moeremans Mengapa Baru Sekarang Berani Bicara Soal Grooming Lewat Broken Strings
Di balik semua penjelasan itu, Roby akhirnya mengungkap alasan paling mendasar mengapa ia merasa perlu angkat bicara. Menurutnya, keselamatan keluarga menjadi taruhannya.
"Karena apa? Ancaman ke keluarga saya sangat besar.
Kesalahpahaman ini, kalau saya dibakar gimana? Keluarga saya gimana? Anak saya gimana?" serunya.
Ucapan tersebut menggambarkan ketakutan ekstrem yang ia rasakan sebuah bayangan terburuk tentang amuk massa dan kekerasan yang bisa menimpa dirinya maupun orang-orang yang ia cintai.
Pernyataan Roby Tremonti membuka tabir tentang tekanan mental yang ia alami di tengah derasnya sorotan publik.
Ia merasa bukan hanya dirinya yang terancam, tetapi juga keluarganya yang bisa ikut menjadi sasaran akibat narasi yang berkembang tanpa kendali.
Di tengah kontroversi yang terus bergulir, Roby tampak berusaha mempertahankan satu hal yang menurutnya paling berharga: keselamatan keluarga dan nama baik yang ia klaim kini berada di ujung tanduk.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)