Waspada Super Flu! Ini Cara Cegah Agar Tidak Tertular
January 14, 2026 02:39 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Memasuki awal Januari 2026, media sosial diramaikan fenomena “Super Flu”.

Istilah ini viral setelah banyak pengguna melaporkan gejala infeksi saluran pernapasan yang dianggap lebih berat daripada flu biasa, dengan beberapa gejala mirip COVID-19.

Kondisi ini sempat menimbulkan kekhawatiran publik, terutama karena banyak unggahan yang membandingkan super flu dengan pandemi virus corona beberapa tahun lalu.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Rp 335 Triliun Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026, Guru dan Lansia Juga Dapat

Fenomena ini muncul bertepatan dengan tahun baru 2026, saat aktivitas masyarakat mulai padat kembali setelah libur panjang.

Meski demikian, kekhawatiran bahwa super flu setara atau lebih berbahaya dari COVID-19 adalah keliru.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan pakar kesehatan menegaskan bahwa super flu, yang merupakan varian influenza A subklade K (H3N2), tidak separah COVID-19.

Super flu bukan penyakit baru yang berbahaya, sehingga masyarakat diminta tetap tenang, waspada, dan memahami informasi medis dengan benar.

Baca juga: Kasus Hak Cipta Ka Kuhu, Kemenkumham Gorontalo Ingatkan Pentingnya Etika Menghormati Karya

Apa Itu Super Flu di Tahun Baru 2026?

Isu super flu yang ramai diperbincangkan merujuk pada influenza tipe A subvarian H3N2 subclade K.

Subclade ini pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025.

Meski disebut varian baru, virus ini bukan sepenuhnya baru, melainkan hasil mutasi dari virus influenza yang sudah lama beredar.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa influenza A (H3N2) tetap termasuk flu musiman atau flu biasa.

Lonjakan kasus di beberapa negara terkait musim dingin dan mobilitas masyarakat global.

Baca juga: Diskon Tambah Daya Listrik 50 Persen Berlaku Januari 2026, Ini Syarat, Cara, dan Daftar Lengkapnya

Tidak Lebih Berbahaya dari COVID-19

Isu bahwa super flu lebih berbahaya dari COVID-19 sempat memicu keresahan.

COVID-19 memang pernah menjadi pandemi global dan memaksa pemerintah menerapkan lockdown sejak 2020.

Namun, Menkes menegaskan super flu tidak memiliki tingkat bahaya seperti COVID-19.

Menurut Budi Gunadi Sadikin, influenza A (H3N2) umumnya sembuh sendiri jika daya tahan tubuh baik.

Baca juga: Rumah Angky Koagow Katim Tarsius Polres Bitung Terbakar, Api Padam Setelah 2,5 Jam

Penularannya melalui udara, sehingga penggunaan masker saat sakit tetap dianjurkan.

Penanganannya sama seperti flu biasa: menjaga imunitas dengan pola hidup sehat, makanan bergizi, istirahat cukup, dan olahraga rutin.

Dokter spesialis paru Prof. Agus Dwi Susanto menambahkan, istilah “super flu” tidak dikenal dalam dunia medis.

Nama ini muncul karena virus menyebar cepat dan menimbulkan gejala lebih berat, seperti demam tinggi, nyeri otot hebat, batuk kering, dan sakit kepala.

Baca juga: Greenland Tegaskan Tak Ingin Jadi Milik AS, Pilih Berdiri Bersama Denmark dan NATO

Meski gejalanya terasa berat, kondisinya tidak separah COVID-19 awal pandemi. Prof. Agus mengimbau masyarakat agar tetap tenang, menjaga imunitas, hidup bersih, memakai masker, vaksin influenza, dan segera berobat jika gejala memburuk.

Pakar kesehatan Prof. Tjandra Yoga Aditama menekankan, super flu hingga kini belum menjadi pandemi.

Yang terjadi kemungkinan hanyalah gelombang flu lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pandemi baru hanya muncul jika ada mutasi signifikan, peningkatan keparahan, dan penularan lintas negara masif.

Baca juga: PKH 2026 Tahap I Mulai Disalurkan, Begini Cara Cek Lewat HP

Kondisi Super Flu di Global

Secara global, influenza A H3N2 subclade K terdeteksi di Jepang, Kanada, Amerika Serikat, Malaysia, dan Thailand.

WHO sejak November 2025 melaporkan virus ini menyebar cepat dan mendominasi di beberapa negara. Per 30 Desember 2025, AS mencatat tingkat influenza tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian.

Jumlah pasien rumah sakit meningkat tajam menjadi 19.053 dari sebelumnya 9.944 pasien, dengan sekitar 3.100 kematian akibat influenza, sebagian besar disebabkan H3N2.

Baca juga: Terungkap! 5 Motor Curian dari Wilayah Gorontalo Ternyata Dijual Pencuri di Kotamobagu

Cara Mencegah Super Flu

Dr. Santi, Health Management Specialist Kompas Gramedia, menjelaskan pencegahan super flu harus dilakukan dari tiga aspek: virus, manusia, dan lingkungan.

Dari sisi virus: Terapkan PHBS (cuci tangan, pakai masker, hindari keramaian, jangan sentuh wajah kotor, jaga jarak dari orang sakit). Jika flu, tinggal di rumah, gunakan masker, dan etika batuk/bersin.

Dari sisi manusia: Jaga imun dengan makan bergizi, tidur cukup, olahraga rutin, kelola stres, hindari rokok/alkohol. Vaksin influenza dianjurkan.

Dari sisi lingkungan: Jaga kebersihan permukaan, sirkulasi udara, paparan sinar matahari, dan kurangi polusi yang menurunkan imun tubuh.

Dengan langkah pencegahan disiplin, masyarakat di awal 2026 dapat beraktivitas dengan aman tanpa panik berlebihan terhadap isu super flu. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.