Hilirisasi Sagu di SBT Dinilai Layak, Tim Peneliti Ungkap Tantangan SDM hingga Tata Kelola
January 14, 2026 02:41 PM

Laporan Wartawan Tribunambon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Rencana pengembangan industri sagu melalui program hilirisasi di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dinilai menghadapi tantangan serius, Rabu (14/1/2026).

Wardis Girsang selaku Tim Peneliti Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, membeberkan tantangan tersebut yakni Sumber Daya Manusia, tata kelola, hingga pola pikir pembangunan.

“Kesimpulan riset kami satu kata: layak. Tapi tantangannya juga besar kalau tidak dibangun secara terintegrasi,” ujarnya.

Wardis menyebut kondisi ini terjadi karena pola pikir petani yang masih berorientasi produksi, bukan pasar dan industri.

“Kita masih terjebak mental tani. Tantangannya adalah menggeser ke mental industri dan mental dagang,” tegasnya.

Ia menyoroti struktur petani sagu yang didominasi usia lanjut dan tidak terkoneksi dengan teknologi digital.

Baca juga: Sagu Dimata Anggota DPRD SBT Darwis Rumakey: Penyelamat Anak Negeri  

Baca juga: Pembelian Gabah Pending, DPRD Malteng Dorong Pemda Optimalkan Pabrik Penggilingan Padi

“Petani kita tua semua, tidak digital, sementara anak-anak muda sekarang tidak suka jadi petani. Ini masalah serius,” lanjutnya 

Pihaknya menilai, tanpa regenerasi petani muda yang terdidik dan berorientasi agribisnis, hilirisasi sagu berpotensi berhenti di tengah jalan.

“Kita kewalahan mencetak petani muda yang benar-benar berpikir bisnis. Jangan tiba-tiba ada proyek dari Jakarta, pabrik dibangun, satu kali produksi, lalu selesai. Itu sering terjadi,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pembangunan industri sagu membutuhkan panduan jangka panjang yang konsisten lintas pemerintahan.

“Bisa saja industri ini tidak selesai di periode bupati sekarang. Tantangannya, pemerintahan berganti, program ikut berganti,” katanya.

Selain itu, persoalan hak dan kepemilikan lahan juga menjadi tantangan besar di Maluku, mengingat banyak lahan bersifat komunal.

Dirinya menyoroti tantangan pendanaan, mengingat kemampuan fiskal daerah yang terbatas dan sebagian besar anggaran terserap untuk belanja pegawai.

“Uang ada di pusat. Tantangannya bagaimana pemerintah daerah, DPRD, dan kampus bersama-sama mendorong dukungan pusat, perbankan, dan investor,” ujarnya.

Meski menghadapi banyak tantangan, Wardis menegaskan bahwa sagu tetap menjadi solusi strategis bagi SBT, baik dari sisi ekonomi, ekologi, maupun ketahanan pangan.

“Tantangannya besar, tapi tidak ada alasan untuk mundur. Kalau kita gagal mengelola sagu, berarti kita gagal mengelola anugerah yang sudah Tuhan sediakan,” tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.