Laporan Wartawan Tribunambon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Bagi Anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Darwis Rumakey, sagu bukan sekadar pangan lokal.
Sagu adalah saksi hidup perjuangan, penolong di masa sulit, dan penyelamat generasi anak negeri Maluku.
“Alhamdulillah, jujur saja, sagu ini makanan pokok yang membesarkan saya, apalagi masyarakat SBT,” ujarnya saat diwawancarai Tribunambon.com, Rabu (14/1/2026).
Baginya, sagu bukan hanya soal perut kenyang.
Dari batang sagu yang diolah secara sederhana, lahir harapan, pendidikan, dan masa depan anak-anak SBT.
“Sagu ini membantu orang tua-tua kita menyekolahkan anak-anaknya. Dia menopang kehidupan keluarga. Bagi saya pribadi, sagu adalah penyelamat anak negeri,” katanya.
Darwis mengenang masa-masa kuliah yang penuh keterbatasan.
Baca juga: Wabup Mario Tekankan Pentingnya Jajanan Lokal Berbahan Sagu: Itu Identitas Kita
Baca juga: Tak Sekadar Pangan Lokal, Sagu di Seram Bagian Timur Jadi Sumber Zakat
Ketika uang tak ada dan pilihan hidup semakin sempit, sagu hadir sebagai penyelamat yang tak pernah ingkar.
“Waktu saya kuliah, yang bisa selamatkan saya cuma sagu. Yang lain bisa habis, ikan kering bisa habis, tapi sagu tidak,” kenangnya.
Dirinya bahkan menyimpan sagu layaknya barang berharga, diletakkan dalam peti kayu, dikunci rapat, agar bisa bertahan lebih lama di tengah hidup yang serba pas-pasan.
“Sagu itu saya sembunyikan, saya kunci. Karena saya tahu, selama ada sagu, saya masih bisa bertahan hidup,” tandasnya.
Karena itulah, Darwis mengaku sangat mendukung ketika pemerintah daerah mulai mendorong program hilirisasi sagu.
Baginya, ini bukan sekadar program, melainkan pengakuan atas jati diri dan martabat masyarakat SBT.
“Selama ini masyarakat hanya tahu pukul sagu dan makan sagu. Sekarang pemerintah mulai bicara pengolahan, bicara nilai tambah. Itu yang membuat saya bersyukur,” katanya.
Namun, dirinya berharap agar pemerintah daerah benar-benar serius, tidak menjadikan sagu sekadar wacana atau proyek sesaat.
“Sagu ini ada di banyak wilayah. Tutuk Tolu, Kilmuri, Kian Darat, sampai kampung-kampung lain. Jangan cuma bicara sagu di satu tempat saja,” tegasnya.
Ia turut mengingatkan bahwa sagu memiliki ikatan adat yang kuat.
Setiap marga memiliki wilayah dan hak atas sagu, sehingga pendataan dan pendekatan harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh penghormatan.
“Jangan karena ada program, lalu dihantam saja. Sagu ini hidup di kampung-kampung, hidup bersama marga-marga. Pemerintah harus turun, mendata, dan memahami itu,” jelasnya.
Soal jenis sagu, Darwis menegaskan bahwa semua sagu sama berharganya.
Semua memiliki rasa, nilai, dan peran yang sama dalam kehidupan masyarakat.
“Semua sagu itu enak. Mau sagu kelapa, mau sagu tumbuh, semuanya sama. Yang beda hanya cara olahnya, intinya sagu adalah penyelamat. Penyelamat hidup masyarakat di Kabupaten SBT,” tutupnya.(*)