TRIBUNTRENDS.COM - Komika Pandji Pragiwaksono mengangkat sedikitnya 10 isu penting dalam pertunjukan stand-up comedy spesial bertajuk Mens Rea.
Materi yang dibawakan tidak sekadar mengundang tawa, tetapi juga menyentuh berbagai persoalan serius yang tengah menjadi perhatian publik.
Pertunjukan Mens Rea sendiri sukses digelar secara megah di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 30 Agustus 2025.
Acara tersebut dihadiri sekitar 10.000 penonton, menandai salah satu pertunjukan stand-up comedy terbesar yang pernah digelar Pandji.
Kesuksesan Mens Rea tidak berhenti di panggung pertunjukan.
Spesial stand-up comedy tersebut kemudian ditayangkan di Netflix dan langsung mencuri perhatian penonton Tanah Air.
Pada pekan pertama Januari 2026, Mens Rea berhasil menduduki peringkat nomor satu kategori TV Shows di Netflix Indonesia.
Baca juga: Mahfud MD yang Bela Pandji, Irma Chaniago Ingatkan Tak Perlu jadi Pahlawan Kesiangan: untuk Apa?
Dalam pertunjukan ini, Pandji membahas beragam isu politik dan sosial yang tengah disorot masyarakat Indonesia.
Mulai dari dinamika kabinet Presiden Prabowo Subianto hingga persoalan serius seperti pencucian uang atau money laundry, seluruh topik dikemas dengan gaya khas Pandji yang kritis, tajam, namun tetap menghibur.
Berikut daftar 10 isu penting yang dibahas Pandji Pragiwaksono, dirangkum Tribunnews.com pada Rabu (14/1/2026).
Pandji Pragiwaksono membahas terkait "kabinet gemuk" Prabowo di "Mens Rea."
Jumlah menteri Prabowo total terdapat 48 orang.
Pandji menyebut bahwa asalan kabinet Prabowo banyak menteri adalah karena utang budi.
"Kenapa sih kabinet pak Prabowo itu gemuk? 'Utang budi.' Benar. Tapi kata Ahmad Sahroni di Skakmat, dia ngomong 'saya dengar dengan kuping saya sendiri, Pak Prabowo nanya ama Surya Paloh,' 'Abang mau berapa menteri berapapun saya kasih.' 'As a friend.' Presiden Republik Indonesia ngasih (jabatan menteri ke) pimpinan partai karena teman," kata Pandji.
Pandji menyoroti organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan yang diizinkan untuk mengurus pertambangan mineral dan batu bara.
"Ada yang ngerti politik balas budi? Gua kasih lo sesuatu, tapi lo kasih gua sesuatu lagi. Emang lo pikir kenapa NU dan Muhammadiyah bisa ngurus tambang? Kenapa kira-kira?" tanya Pandji kepada audiens.
"Karena diminta suaranya, gua kasih sesuatu lo suka, happy lah. Ormas agama ngurus tambang? Happy lah. Done. Biar kita adil, sebenarnya tidak hanya ormas Islam saja, semua ormas agama ditawarin, tapi agama lain nolak," tambahnya.
Materi Pandji lainnya yakni terkait money laundry atau pencucian uang.
Ia memakai contoh fiktif seorang oknum jenderal polisi yang terlibat bisnis terlarang.
"Dari bisnis narkoba ini dia dapat Rp100 miliar. Ini uang haram. Mau dikemanain Rp100 miliar? Masuk rekening nggak mungkin. Diputer ke sejumlah bisnis. 10 bisnis. Masing-masing Rp 10 miliar. 10, 10, 10, 10. Habis," ujar Pandji.
Isu lain yang dibahas Pandji yakni terkait kasus pagar laut yang ada di Tangerang.
"Yang dirasakan nelayan di laut Tangerang, mereka nyari duit dari menjadi nelayan. Mau melaut nggak bisa kehalang tembok, nggak ada yang ngaku, ini tembok siapa misterius?" jelasnya.
Selainjutnya, Pandji Pragiwaksono juga membawakan materi tentang Pulau Rempang.
Ia menganalogikan permasalahan di Rempang layaknya seseorang yang tergusur dari rumahnya sendiri.
Padahal, menurut Pandji, hunian tersebut sudah diturunkan dari generasi ke generasi.
"Bertahun-tahun, nih, rumahnya dia dipegang Belanda. Indonesia datang, mengusir Belanda, dapat, tuh, akhirnya. Itu rumah di tangan Indonesia, lu happy, 'hore, rumah gue di tangan Indonesia.' Pemerintah Indonesia juga happy, 'ada rumah, jual, ah, ke Cina'," tuturnya.
Baca juga: Pandji Dikepung Laporan! Giliran Mahasiswa Malang Polisikan Sang Komika, Dianggap Lecehkan Ibadah
Pandji Pragiwaksono juga membahas terkait sulitnya memiliki rumah di Indonesia.
"Rumah itu kebutuhan primer. Pantesan aja kita enggak bisa punya rumah, orang Senin harganya naik mulu. Dibilang Senin harga naik biar investor happy, dia punya rumah bukan untuk ditinggali, kita mau ninggali jadi enggak bisa," kata Pandji.
Pandji menilai pemerintah seharusnya memiliki peran untuk memengaruhi harga perumahan komersial.
"Pemerintah harusnya turun tangan untuk mau kasih pengaruh harga perumahan komersil. Harusnya gitu, kenapa? Karena kan membela kebutuhan kita (masyarakat)," ujarnya.
Pandji juga membahas terkait kesehatan mental yang masih menjadi isu penting dan mendesak.
"Masalah terbesar kita dengan kesehatan mental adalah nggak ngerti ngebedain setiap penyakit. Sakit kan ada 3 terus kita salah diagnosa. Sakit fisik, kepala pusing, kaki keceklik. Sakit mental, depresi, npd. Sakit spiritual."
Pandji membongkar kejahatan Irjen Teddy Minahasa Putra yang terjerat kasus narkotika dan obat berbaya atau narkoba.
"Teddy Minahasa dipanggil ke Taiwan oleh bandar bisnis narkoba di Taiwan," kata Pandji.
Ia menyebut Teddy mengizinkan bandar narkoba asal Taiwan itu menjual narkoba di Indonesia, tetapi setengah dari narkoba itu mau ia sita agar ia mendapat prestasi.
"Dia (bandar narkoba Taiwan) ngomong, 'Irjen Teddy Minahasa, ini semua narkotika mau saya jual di Indonesia boleh nggak?'," katanya.
"Menurut keyakinan si mbak ini, Irjen Teddy Minahasa jawab, 'setengah dari narkoba ini boleh lu jual, tapi gua minta persenan dari situ, setengah dari persenan itu bakal gue sita karena gue pengin dapat jabatan dari situ.'"
"Gila. Bayangin, dari narkoba ini setengah dia dapet duit, setengah dapet jabatan. Jahat nggak?" ujar Pandji.
Mantan Kapolrestabes Semarang, Brigjen Pol. Irwan Anwar disinggung komika Pandji Pragiwaksono terkait kasus polisi tembak siswa SMKN 4 Semarang, Gamma Rizkynata Oktafandy.
"Namanya adalah Gamma. Dia dibunuh nyawanya, lalu dia dibunuh namanya. Sudah meninggal ditembak, difitnah dia tawuran, padahal enggak," kata Pandji.
"Dicari CCTV untuk membuktikan apakah dia tawuran atau enggak, nggak nemu," imbuhnya.
Pandji menceritakan temannya yang bernama Richard Insane Latunusa yang menjadi korban salah tangkap oleh polisi.
"Polisi sembarangan nangkep, sembarangan berperilaku itu bukan hal baru, udah lama," kata Pandji.
"Gua punya teman, dia pernah jadi korban salah tangkap dari zaman dulu. Namanya Richard Insane Latunusa. Dia adalah legenda street ball," ujarnya.
(TribunTrends/Tribunnews)