Pengakuan Guru SMK di Jambi yang Dikeroyok Siswa di Sekolah
kumparanNEWS January 15, 2026 02:59 AM
Agus Saputra, guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, dikeroyok oleh siswanya. Pengeroyokan ini terjadi di lingkungan sekolah ketika jam belajar masih berlangsung pada Selasa (13/1) pagi.
Dalam video yang diterima kumparan terlihat guru tersebut sempat berusaha melawan para siswa. Para siswa baru berhenti menghajar guru tersebut setelah sang guru dibawa ke sebuah ruangan dengan pintu besi.
Terkait aksi tersebut, Agus mengatakan pengeroyokan itu dipicu adanya siswa yang menegurnya dengan kata yang tidak pantas. Saat itu Agus tengah berjalan di depan kelas.
"Menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus, Rabu (14/1).
Usai mendengar ucapan itu, Agus masuk ke dalam kelas. Ia meminta siswa yang mengucapkan kalimat tersebut mengaku. Pelaku mengaku, tapi bukan meminta maaf, dia malah menantang Agus.
"Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia," ujarnya.
Tindakan tamparan itu, kata Agus, sebagai teguran dan pendidikan moral. Namun, sang siswa bereaksi marah sehingga harus dimediasi oleh guru-guru lainnya.
Di sisi lain sejumlah siswa mengaku Agus telah menghina salah satu murid dengan perkataan 'miskin' yang memicu keributan tersebut. Namun, menurut Agus, perkataan itu dalam konteks motivasi dan tidak bermaksud menghina.
"Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, 'kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," ungkapnya.
Agus dan para siswa sempat dimediasi. Saat itu Agus memberikan pilihan kepada siswanya untuk membuat petisi jika tidak menginginkan dirinya mengajar lagi. Ia juga meminta siswanya berubah. Di sisi lain para siswa meminta Agus menyampaikan permohonan maaf. Mediasi menemui jalan buntu.
"Setelah mediasi, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan," ujarnya.
Keributan itu terjadi hingga jam belajar selesai pada sore hari. Para siswa yang tidak terima, mengancam Agus hingga melemparinya dengan batu.
Agus sempat bereaksi dengan mengacungkan celurit. Tindakan itu kata Agus untuk menggeretak para siswa sehingga membubarkan diri.
"Kebetulan kami itu SMK pertanian, memang kayak cangkul dan celurit lainnya memang tersedia di kantor. Kenapa saya memakai itu? Agar mereka bubar, tidak ada niat lain saya untuk itu. Pada kenyataannya mereka juga tidak bubar, malah melempari saya dengan batu," terang Agus.
Dari pengeroyokan itu, Agus mengalami memar di badan dan pipinya. Ia mengadukan masalah ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk ditindaklanjuti.