6 Desa dan Kelurahan Lockdown, 28 Ekor Sapi di Jembrana Bali Terjangkit Penyakit LSD, 4 Ekor Mati
January 15, 2026 06:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA – Sebanyak enam desa/kelurahan di Kabupaten Jembrana sementara dikarantina alias lockdown. 

Hal ini karena ditemukan kasus penyakit Lumpy Skin Desease (LSD) atau penyakit kulit benjol ditemukan pada ternak sapi. 

Kasus tersebut sesuai dengan adanya sampel positif dari hasil laboratorium. 

Total, sebanyak 28 ekor sapi di Kabupaten Jembrana terjangkit penyakit LSD. Bahkan 4 ekor di antaranya dinyatakan mati. Ini menjadi kasus pertama di Bali karena sebelumnya Bali zero LSD.

Baca juga: Bayi Laki-Laki Dibuang di Belakang Kandang Sapi di Badung, Kondisi Memprihatinkan

Menurut data yang dihimpun Tribun Bali, dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, total sampel ternak sapi yang positif LSD disebutkan sebanyak dua ekor. 

Sampel tersebut berasal dari dua wilayah yakni Desa Baluk dan Desa Banyubiru, Kecamatan Negara. 

Namun, ada puluhan sapi lainnya yang juga suspek LSD dan perlu pengawasan.

Sementara, total ada enam wilayah yang sementara dikarantina alias lockdown untuk membatasi mobilitas ternak atau mencegah penularan. Yakni empat desa dan satu kelurahan di Kecamatan Negara serta satu desa di Kecamatan Melaya. 

Artinya, seluruh ternak milik warga di wilayah tersebut untuk sementara tidak boleh keluar dan dilakukan pengawasan oleh petugas.

“Ini jadi kasus pertama (LSD) di Bali, karena sebelumnya Bali bebas LSD," ungkap Kabid Peternakan, Keswan-Kesmavet, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana, I Gusti Putu Sugiarta saat dikonfirmasi, Rabu 14 Januari 2026. 

Dia menyebutkan, kasus ini juga menjadi perhatian serius pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Sesuai hasil rapat koordinasi dengan Pemprov Bali dengan Pemkab Jembrana terkait penanganan LSD, sejumlah desa/kelurahan terpaksa ditetapkan Lockdown sementara.

Selain itu juga melakukan langkah pengendalian dengan penerapan zona. Ada tiga zona yang ditetapkan untuk wilayah Jembrana. Yakni zona tertular bagi wilayah yang terdapat kasus positif LSD, zona kontrol untuk kawasan terdekat dari ditemukannya kasus dan zona surveilan untuk pengawasan lebih luas. 

Di sisi lain, juga disarankan melakukan pemotongan bersyarat terhadap 27 ekor ternak di enam desa/kelurahan yang sudah tertular. 

Fokus petugas Medikvet saat ini melakukan pendataan, pemantauan serta menyarankan peternak melakukan spraying insektisida dan desinfektan sebagai upaya kontrol vektor seperti nyamuk dan lalat yang diduga menyebarkan virus tersebut.

“Pemerintah juga telah mengajukan surat ke Dirjen untuk vaksinasi darurat di zona tertular dan zona kontrol sebagai upaya antisipasi penyebaran,” kata dia.

Sebanyak lima ekor sapi dilakukan pemotongan bersyarat di Rumah Potong Hewan (RPH) Jembrana di Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara, Bali, Rabu 14 Januari 2026. 

Adalah ternak sapi warga yang terjangkit penyakit LSD. Sugiarta menjelaskan, lima ekor sapi yang dipotong bersyarat memutus rantai penyebaran. 

Soal kompensasi, pemerintah memastikan peternak pemilik sapi tersebut tidak akan dibuat rugi. 

“Saat ini ada lima ekor dulu (pemotongan bersyarat), nanti akan bertahap dengan tujuannya menuturkan rantai penyebaran (LSD). Karena total ada 28 ekor yang terjangkit,” jelas Sugiarta. 

“Untuk ganti rugi, kita pastikan peternak diberikan semacam kompensasi sesuai dengan pasaran harga sapi saat ini,” imbuhnya. 

Sugiarta mengimbau ke seluruh peternak agar segera melaporkan jika memiliki ternak yang menunjukkan gejala penyakit kulit bentol ini. 

Segera melaporkan ke petugas Medikvet terdekat untuk segera mendapat edukasi bahkan hingga penanganan.

“Jika ada ternak menunjukkan gejala (LSD) segera lapor untuk mencegah penularan lebih luas. Peternak juga kami imbau untuk menjaga kebersihan kandang disertai penyemprotan insektisida dan desinfektan mencegah vektor seperti nyamuk dan lalat menularkan penyakit tersebut,” tandasnya. 

Klungkung Waspada

Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Klungkung meminta para peternak sapi meningkatkan kewaspadaan menyusul ditemukannya kasus penyakit LSD di Bali. 

Meski demikian, hingga saat ini Klungkung dipastikan masih bebas dari laporan kasus LSD pada ternak sapi.

Kepala Distan Kabupaten Klungkung, Ida Bagus Juanida mengatakan, berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Provinsi Bali, penyakit LSD terdeteksi di Kabupaten Jembrana. 

Kondisi tersebut menjadi peringatan dini bagi daerah lain, termasuk Klungkung, agar memperketat pengawasan lalu lintas ternak.

“Di Klungkung sampai saat ini belum ada laporan kasus LSD pada sapi. Mudah-mudahan tidak ada. Namun petani tetap kami minta waspada, terutama saat mendatangkan bibit sapi dari luar daerah,” ujar Juanida, Rabu 14 Januari 2026.

Juanida menjelaskan, LSD merupakan penyakit pada sapi yang disebabkan oleh virus. 

Gejala yang paling mudah dikenali adalah munculnya bentol-bentol pada kulit sapi. 

Meski tingkat kesembuhan penyakit ini tergolong tinggi, LSD dapat menimbulkan dampak ekonomi karena menyebabkan cacat pada kulit ternak, sehingga menurunkan nilai jual sapi.

Juanida menambahkan, pencegahan LSD salah satunya dapat dilakukan melalui vaksinasi saat ternak dalam kondisi sehat. Namun saat ini, vaksin LSD belum tersedia di Bali. 

Oleh karena itu, upaya pencegahan difokuskan pada pengendalian penyebaran virus. 

“Penyebaran LSD terjadi melalui vektor, salah satunya lalat. Karena itu, peternak kami imbau rutin melakukan desinfeksi serta menjaga kebersihan kendang,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Distan Klungkung telah menurunkan tim ke sejumlah kelompok ternak untuk melakukan sosialisasi. 

Peternak diminta lebih selektif dalam membeli bibit sapi, terutama dari wilayah yang terindikasi terjangkit LSD, serta meminimalkan lalu lintas keluar masuk ternak.

“Kami sudah sampaikan kepada petani agar meningkatkan kewaspadaan. Informasi tentang penyakit ini sudah kami sosialisasikan agar risiko penularan bisa ditekan,” kata Juanida. (mpa/mit)

Badung Perketat Biosekuriti

Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau yang lebih dikenal dengan penyakit kulit berbenjol pada hewan khususnya sapi masih menjadi ancaman, terutama setelah ditemukan di Kabupaten Jembrana. 

Untuk mengantisipasi hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung, I Wayan Wijana, mengimbau para peternak sapi untuk meningkatkan kewaspadaan.

Semua peternak di Badung diminta untuk tetap melaksanalan disiplin vaksinasi, menjaga kebersihan kandang, serta menerapkan biosekuriti secara ketat. 

Wijana menegaskan, LSD merupakan penyakit hewan menular strategis yang belum memiliki pengobatan spesifik, sehingga pencegahan menjadi langkah utama dalam pengendalian penyakit tersebut.

“LSD belum ada obatnya. Karena itu pencegahan harus diperkuat, mulai dari vaksinasi, kebersihan kandang, hingga pengendalian lingkungan. Tapi hingga saat ini di Badung belum ditemukan kasus LSD ini,” ujar Wijana, Selasa 14 Januari 2026.

Pihaknya mengaku telah menginstruksikan seluruh jajaran teknis di lapangan untuk bersiaga menghadapi potensi penyebaran LSD. 

Dirinya juga sudah memerintahkan seluruh kepala puskeswan dan kepala satuan kerja untuk siaga dan melakukan sosialisasi kepada para peternak agar mewaspadai penyakit LSD ini.

“Jadi kami imbau pada sosialisasi dengan rutin melakukan pemeriksaan ternak, menjaga kebersihan kandang, melakukan spraying, serta membatasi orang yang masuk ke kendang,” tegasnya.

Selain itu, Disperpa Badung juga telah menyiapkan tim reaksi cepat pengendalian penyakit ternak yang dilengkapi dengan mobil khusus dan layanan ambulatory guna mempercepat penanganan di lapangan.

“Kami memiliki tim reaksi cepat yang siap turun ke lokasi jika ada laporan ternak bergejala sakit. Peternak diminta segera melapor apabila menemukan gejala LSD agar bisa segera ditangani,” jelas Wijana.

Penyakit LSD bisa berkembang di lingkungan kandang yang kotor dan lembap. Karena itu, pengelolaan kandang dan limbah ternak menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. 

Pihaknya juga mengingatkan peternak agar mengkarantina ternak baru serta segera mengisolasi sapi yang menunjukkan gejala seperti demam dan benjolan pada kulit. 

Selain itu ia meminta agar peternak tidak memperjualbelikan ternak yang sakit. Langkah ini penting untuk mencegah penularan ke ternak lain. 

“Pendampingan kepada peternak melalui penyuluh dan petugas kesehatan hewan, sekaligus memastikan pelaksanaan vaksinasi LSD berjalan optimal di seluruh wilayah Badung tetap kami laksanakan dalam hal ini,” kata Wijana. (gus)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.