Prancis kembali menjadi sorotan setelah Museum Louvre menaikkan harga tiket bagi wisatawan non-Eropa, memicu perdebatan tentang keadilan akses seni.
Mulai Rabu (14/1/2026) pengunjung dewasa dari luar Uni Eropa, Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia harus membayar 32 euro (Rp 560 ribu) untuk memasuki Louvre. Angka ini naik 45% dari harga sebelumnya.
Tak hanya Louvre, Istana Versailles juga menaikkan tarifnya sebesar 3 euro (Rp 52 ribu). Warga Amerika Serikat, Inggris, dan China yang menjadi mayoritas wisatawan asing museum akan terkena dampak kenaikan ini, termasuk pengunjung dari negara-negara berpenghasilan rendah.
Melansir , Kebijakan semacam ini jarang ditemui di Eropa, tapi lebih umum di negara berkembang seperti Machu Picchu di Peru atau Taj Mahal di India, yang memberlakukan tarif berbeda antara penduduk lokal dan turis asing.
Serikat pekerja Louvre mengecam kebijakan itu sebagai sesuatu yang mengejutkan secara filosofis, sosial, dan kemanusiaan. Mereka bahkan menyerukan mogok untuk memprotes penetapan harga ganda ini.
Menurut mereka, koleksi Louvre yang mencapai 500.000 benda, termasuk artefak dari Mesir, Timur Tengah, dan Afrika yang memiliki nilai universal dan seharusnya dapat dinikmati semua orang. Kekhawatiran lain muncul secara praktis, karena staf kini harus memeriksa dokumen identitas setiap pengunjung.
Akademisi Prancis Patrick Poncet menilai langkah ini sebagai cerminan kebangkitan nasionalisme, mirip dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan biaya bagi wisatawan asing untuk mengunjungi Taman Nasional Amerika pada awal tahun ini. "Ini gejala kembalinya nasionalisme yang terang-terangan, seperti di tempat lain di dunia," tulis Poncet di Le Monde pada bulan lalu.
Selain Louvre dan Versailles, tempat wisata milik negara lain seperti Istana Chambord dan Gedung Opera Nasional Paris juga menaikkan harga tiket. Pemerintah Prancis menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan meningkatkan pendapatan, dengan target mengumpulkan 20-30 juta euro (Rp 350-525 miliar) per tahun.
Sebagian dana akan digunakan untuk proyek renovasi besar-besaran Louvre, yang diumumkan Presiden Emmanuel Macron tahun lalu dan diperkirakan menelan biaya sekitar satu miliar euro. Meski serikat pekerja dan kritikus seni menilai proyek ini boros, banyak pihak sepakat Louvre memang membutuhkan perbaikan, mengingat masalah kebocoran air, kerusakan struktural, dan perampokan siang bolong pada Oktober lalu yang sempat menggemparkan publik.
"Saya ingin pengunjung dari luar Uni Eropa membayar lebih untuk tiket mereka agar biaya tambahan itu bisa mendanai renovasi warisan nasional kita. Orang Prancis tidak seharusnya menanggung semuanya sendiri," ujar Menteri Kebudayaan Rachida Dati saat mengumumkan kenaikan harga akhir 2024.
Langkah Prancis itu memunculkan pertanyaan apakah negara Eropa lain akan mengikuti kebijakan harga ganda. Di Eropa, tarif berdasarkan usia lebih umum-anak di bawah 18 tahun biasanya mendapat akses gratis ke Akropolis di Athena, Prado di Madrid, atau Colosseum di Roma.
Louvre tetap mempertahankan kebijakan ini: anak di bawah umur dari semua negara dan warga Eropa di bawah 26 tahun bisa masuk gratis. Beberapa destinasi lain seperti Istana Doge di Venesia, juga memberikan tiket gratis bagi warga kota.
Di Inggris, akses gratis universal ke koleksi permanen di galeri dan museum nasional telah lama berlaku. Namun, mantan Direktur British Museum, Mark Jones, mendukung biaya masuk bagi wisatawan asing. Dalam wawancara terakhirnya pada 2024 kepada The Sunday Times, bahwa kebijakan itu dibuat memang sangat logis untuk kebutuhan bersama.
"Akan masuk akal bagi kami untuk mengenakan biaya masuk kepada pengunjung dari luar negeri," ungkapnya.
Usulan itu memicu perdebatan panjang. Sebuah studi dari tahun lalu menentang langkah tersebut karena alasan filosofis dan praktis. Studi itu menyimpulkan, kebijakan semacam ini bisa menurunkan jumlah pengunjung, memperpanjang antrean, dan bertentangan dengan prinsip lama bahwa Inggris menyimpan koleksi nasionalnya untuk dinikmati dunia, bukan hanya warganya sendiri.







