Zainal Arifin Mochtar: Nggak Usah Panggil 'Prof', Tidak Ada Gelar Dibawa Mati kecuali Almarhum
January 15, 2026 08:04 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Zainal Arifin Mochtar, pakar hukum tata negara sekaligus mantan Ketua Departemen Hukum Tata Negara pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), akan dikukuhkan sebagai guru besar.

Seremoni pengukuhan akan berlangsung di Balai Senat UGM, Yogyakarta, Kamis (15/1/2026), sebulan setelah ulang tahunnya ke-47.

Uceng, sapaan pria kelahiran Makassar, 8 Desember 1978 itu, akan menyampaikan pidato pengukuhan berjudul "Konservatisme yang Menguat dan Independensi Negara yang Melemah: Mencari Relasi dan Mendedah Jalan Perbaikan".

Gelar profesor pun membawanya menjadi satu di antara 500-an guru besar dari UGM.

Dalam sebuah dialog dengan mantan Anggota Komisi III DPR RI, Akbar Faizal, langsung di kampus Fakultas Hukum UGM, sebagaimana ditayangkan di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored sejak 5 Januari 2026 lalu, Uceng ternyata menolak disapa "Prof" saat diajak berinteraksi di luar ruang akademik.

"Profesor Zainal Arifin Mochtar, Prof," kata Akbar menyapa.

Keduanya akrab, sebab sama-sama "Anak Makassar", sebutan perantau dari Sulawesi Selatan.

Uceng pun langsung terkekeh.

"Nggak usalah panggil Prof, Bang," kata Uceng meminta kepada Akbar.

"Perlu itu, perlu juga," kata Akbar menyanggah.

"Bagi saya, kalau ruang akademik, barangkali (perlu). Kalau pergaulan sehari-hari, nggak usah (dipanggil Prof) karena nggak dibawa mati juga," tutur Uceng dengan gaya santai.

Akbar pun spontan tertawa dan mengabarkan jadwal pengukuhan guru besar, 15 Januari 2026.

Berdasarkan publikasi UGM melalui laman resminya ugm.ac.id pada 6 Januari 2026, UGM telah memiliki total 523 guru besar atau sekitar 15,57 persen dari total dosen.

UGM menargetkan sebanyak 17 persen dari total dosen telah mendapat jabatan akademik guru besar pada 2027 atau butuh 48 profesor baru agar target itu tercapai.

Hanya selang beberapa jam setelah dikukuhkan sebagai profesor, Uceng akan orasi bersama sejumlah akademisi Fakultas Hukum UGM dan aktivis, di Patung Themis, kampus Fakultas Hukum UGM.

Orasinya tentang penolakan Pilkada melalui DPRD.

Dalam mimbar demokrasi itu, juga akan hadir Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas, Feri Amsari dan Pakar Hukum Tata Negara dari Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Bivitri Susanti.

Uceng, Feri, dan Bivitri adalah trio pemeran film dokumenter politik Dirty Vote (2024).

Uceng lahir dari ayah bernama Dr KH Mochtar Husein, seorang ulama terkenal, dosen, wartawan, kolumnis, dan mantan legislator.

Dia tujuh bersaudara.

Saudaranya, Iqbal Mochtar kini bekerja sebagai dokter di Qatar.

Lalu Zulficar Mochtar, mantan Dirjen Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Salwa Mochtar kini menjadi Direktur RS Islam Faisal.

Zainal Abidin dan Zulfa Mochtar lulusan Unhas.

Zulkifli Mochtar, kolumnis Kilas Tokyo Tribun Timur dan kini bermukim di Jepang.

Uceng pernah menulis melalui media sosialnya jika almarhum ayahnya mengingingkan dia mencapai gelar akademik tertinggi.

Keinginan ayahnya pun tercapai.

Dia profesor pertama dari tujuh bersaudara.

"Beberapa hari lalu di laman administratif saya sebagai dosen sudah mencantunkan bahwa saya akan diberikan gelar Guru Besar.

Tentu resminya adalah SK-nya.

Tetapi sudah banyak teman2 yang mengucapkan selamat.

Terima kasih!

Saya cuma berharap tetaplah panggil saya dengan nama biasa dipanggilkan tanpa perlu tambahan gelar.

Tidak ada gelar yang akan dibawa mati kecuali almarhum.

Gelar tak akan dibawa mati.

Kedua, saya sudah makin melihat gelar ini belakangan menjadi "berhala" baru. 

Dibuat dengan berbagai cara, dimistifikasi lalu dipaksakan kepada setiap orang untuk "menyembah".

Tidak, kita harus meneguhkan bahwa menjadi profesor itu bukanlah berhala penanda.

Ia adalah monentum untuk bergerak, jadi lebih baik dan berdampak.

Ia bukan titik, tetapi koma.

Sekali lagi terima kasih untuk ucapannya."

Demikian ditulis Uceng melalui akun Facebooknya Zainal Arifin Mochtar Dua, 17 Oktober 2025, 3 bulan lalu.

Sebelum mendapatkan pencapaian akademik tertinggi, Uceng menempuh pendidikan formal di 2 negara, Indonesia dan Amerika Serikat.

Menempuh pendidikan SMA pada SMA Negeri 1 Makassar 1994-1997.

Lalu merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan Ilmu Hukum pada Universitas Gadjah Mada antara tahun 1997-2003.

Kemudian ke Amerika Serikat untuk mendapatkan gelar Master of Law, Universitas Northwestern pada 2004-2006.

Setelah itu kembali ke Indonesia dan kuliah S3 Ilmu Hukum, Universitas Gadjah Mada pada 2007-2012.

Dua tahun setelah menyandang gelar doktor, dia ditunjuk menjadi moderator debat Capres dan Cawapres pada Pilpres 2014.

Pasangan Capres dan Cawapres saat itu adalah Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.