TRIBUNJAKARTA.COM - Guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur), Agus Saputra, buka suara terkait video yang memperlihatkan dirinya menenteng celurit sambil kejar sejumlah siswa.
Video tersebut beredar luas di media sosial.
Agus menegaskan celurit yang ditentengnya bukan untuk melukai siswa, tetapi hanya untuk gertakan agar situasi tidak semakin ricuh.
Pasalnya, Agus sempat menjadi korban pengeroyokan oleh siswa-siswa tersebut.
"Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, Memang tersimpan rapi," katanya, Rabu (14/1/2026) seperti dikutip dari TribunJambi.
Tindakan tersebut dilakukan dalam kondisi tertekan dan demi melindungi diri.
Menurutnya, situasi saat itu sudah tak terkendali dan berpotensi membahayakan keselamatan.
"Kenapa saya pakai itu? Hanya untuk menggertak mereka agar bubar seperti itu. Tidak ada niat lain untuk selain itu," ujarnya.
Ia menegaskan tidak ada upaya penganiayaan yang dilakukan terhadap siswa.
Dalam video yang beredar, ia menyebut hanya berusaha membubarkan kerumunan.
"Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga," ucapnya.
Ia bahkan mengaku justru menjadi sasaran aksi anarkis dari para siswa.
"Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata, dan sebagainya," katanya.
Meski demikian, ia mengaku masih mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum karena para pelaku masih berstatus siswa yang telah lama ia didik.
Menurutnya, mereka membutuhkan pendampingan psikologis.
“Karena saya merinding kalau tanya itu karena mereka sudah lama saya didik. Walaupun bukan anak kandung tapi anak didik,” ungkapnya.
Agus memaparkan kronologi kejadian bermula saat seorang siswa menegurnya dengan kata-kata tidak pantas saat pelajaran olahraga berlangsung sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Ia kemudian mendatangi kelas dan menanyakan siapa pelaku ucapan tersebut.
"Guru olahraganya juga ada pada saat itu. Pada saat itu juga saya datang ke kelasnya."
"Saya tanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu," katanya.
Salah satu siswa kemudian mengaku sebagai pelaku.
"Refleks dia bilang saya, kemudian saya tampar satu kali," tuturnya.
Menurut Agus, tantangan dari siswa berlanjut hingga jam istirahat dan situasi memanas sampai sore hari.
"Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang.
"Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Dalam proses mediasi, Agus mengaku diminta meminta maaf atas sesuatu yang tidak ia lakukan. Ia kemudian menawarkan solusi alternatif.
"Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka," terangnya.
Alternatif tersebut berupa pembuatan petisi.
"Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang," ujarnya.
Namun, setelah diajak masuk ke ruang kantor oleh komite sekolah, Agus mengaku justru dikeroyok oleh sejumlah siswa lintas tingkatan.
"Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3," ucapnya.
Ia menyebut kejadian itu segera diamankan aparat.
"Ada aparat datang ke tempat saya, alhamdulillah kooperatif dengan segala macam tentunya guru-guru juga ada yang membantu," katanya.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengalami sejumlah luka.
"Bengkak tangan saya, masih sakit. Bagian belakang (punggung) memar-memar," ungkapnya.
Ia kembali menegaskan tidak melakukan penganiayaan terhadap siswa.
“Saya tegaskan saya tidak menganiaya anak tersebut.
"Satu kali tamparan sebut merupakan pendidikan dasar moral yang saya tanamkan untuk anak tersebut,” tegasnya.
“Jadi, mungkin nanti bisa dilihat saya dikeroyok saja. Saya tidak melawan dan tidak membalas mereka boleh cek di videonya saya hanya membela, pungkasnya.