TRIBUNTRENDS.COM - Rival Altaf menjadi sorotan dalam penemuan Syafiq Ridhan Ali Razan atau Syafiq Ali di Gunung Slamet.
Anak indigo asal Cilacap itu, denga kemampuan uniknya, turut berperan dalam pencarian pendaki asal Magelang, Jawa Tengah, yang hilang pada Desember 2025 itu.
Syafiq Ali akhirnya ditemukan meninggal dunia setalah 17 hari pencarian pada Rabu (14/1/2026).
Pencarian Syafiq Ali di Gunung Slamet bukanlah kali pertama Rival Altaf menggunakan kemampuannya untuk kemanusiaan.
Sebelumnya, namnya sempat viral di tengah bencana tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Ia membantu relawan menemukan lokasi jenazah yang tertimbun dengan kemampuan uniknya.
Rival Altaf mengaku sudah "merasakan" lokasi keberadaan korban sejak hari pertama proses pencarian.
"Sudah tiga hari.
Kemarin waktu pertama dapat itu di bawah dekat bambu.
Saya bilangnya di sini nih aja, ada yang lagi ibu hamil ketemu, sama anaknya dua.
Saya bilang ke Basarnas," ucapnya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (18/11/2025).
"Saya memang kadang ngobatin orang stroke, saya diliatin aja lah lama-lama ketemu.
Intinya jangan diburu-buru.
Kalau diburu-buru kacau malah," katanya.
Remaja itu kemudian menyebut perkiraannya mengenai jumlah korban sejak awal.
"Jadi kalau saya lihat di bawah ada dua orang sama anaknya tiga.
Kalau di sini ada anak bayi satu, sama ada lagi yang dekat bambu juga ada lagi satu.
Benar jadi total tujuh," ujarnya.
Di tengah pencarian, Rival Altaf mengatakan semua korban pasti bakal ketemu.
Ia menyebut proses evakuasi berjalan lama karena material longsor sangat tebal.
"Korban bakalan ketemu kok semua, dan hari ini ketemu semua," kata Rival Altaf.
"Kesulitannya, lama evakuasi karena dari gunung sudah tebel materialnya yang menimbun.
Tebel segitunya langsung rusak tanahnya jadi lama.
Kalau yang sebelah sana memang gampang," tambahnya.
Baca juga: Riwayat Pendakian Syafiq Ali, Belum Berpengalaman Saat Hadapi Gunung Slamet
Sementara itu, keterlibatan Rival Altaf dalam membantu menelusuri titik terakhir Syafiq Ali dibenarkan oleh seorang realawan pencarian bernama Amrul (20).
Ia mengatakan proses pencarian memang penuh kejanggalan.
“Dari hari ke-2 pencarian sampai hari ke-17 ditemukan tidak ditemukan pendaki Syafiq meskipun seluruh area sudah pernah dilalui tim pencarian,” kata Amrul dikutip dari KOMPAS.COM, Kamis (15/1/2026).
"Saya bersama tim relawan independen juga anak indigo ditugaskan di pos 9, tidak sampai pada lokasi ditemukan jasad Syafiq," tambahnya.
Secara bergantian, tim relawan independen bersama Rival Altaf menelusuri jalur pendakian yang ekstrem.
Akhirnya jasad Syafiq Ali baru bisa ditemukan pada hari ke-17, Rabu (14/1/2025).
“Kata anak indigonya sih almarhum tertutup alam gaib yang tidak terlihat dan hanya menjelaskan orangnya dibalik bebatuan,” ujar Amrul.
Lokasi hilangnya Syafiq Ali berada di lereng berbatu dengan kondisi tanah kering dan dilalui banyak aliran sungai kecil.
Berdasarkan foto yang diterima, jasad Syafiq Ali ditemukan di sela bebatuan dalam posisi tertelungkup.
Pakaian berupa jaket dan celana pendek masih melekat di tubuh korban, sedangkan celana panjangnya terlepas sebagian.
Selain itu, relawan menemukan barang-barang pribadi milik Syafiq Ali yang terpisah dari jasad, seperti sepatu, dompet, dan telepon genggam.
Rival Altaf baru berusia 16 tahun.
Ia berasal dari Cilacap, Jawa Tengah, dan dikenal publik sebagai anak indigo.
Anak indigo dipercaya memiliki keistimewaan dan kemampuan spiritual atau psikis lebih dari orang biasa, seperti intuisi tajam, kreativitas tinggi, kecerdasan luar biasa, serta sensitivitas terhadap hal gaib (makhluk halus, masa depan).
Istilah ini muncul dari konsep aura manusia dengan warna nila (indigo) yang terlihat pada anak-anak ini.
Ciri-cirinya termasuk kecerdasan tinggi, intuisi kuat, empati, dan kadang kesulitan beradaptasi karena perbedaan yang dirasakan, meskipun keberadaannya tidak diakui secara medis dan masih diperdebatkan.
Anak indigo pada umumnya mempunyai kemampuan unik, yang menurut para ahli terkait gelombang otak lambda dengan frekuensi lebih dari 200 Hz.
Hal itu memungkinkan mereka bersinggungan dengan dunia supranatural dan metafisika.
Belakangan, Rival Altaf disorot setelah ikut membantu pencarian Syafiq Ridhan Ali Razan, pendaki Gunung Slamet yang hilang sejak 29 Desember 2025.
Atas inisiatif pribadi, ia tiba di basecamp dan langsung menyisir jalur sulit bersama beberapa relawan, meski medan berat dan cuaca ekstrem.
Kehadirannya menjadi sorotan publik karena mampu memadukan kemampuan uniknya dengan aksi nyata di lapangan.
Orang tua Rival menjelaskan bahwa putranya memang berniat membantu mencari Syafiq Ali.
"Ini anak emang udah niat (menolong)," kata ibunda Rival Altaf dikutip dari Tribunnews pada Kamis (15/1/2026).
"Mau nolong masa besok-besok," timpal ayah Rival Altaf.
Ibunda Rival Altaf menjelaskan bahwa putranya sudah izin untuk membantu mencari Syafiq Ali.
Akan tetapi, ketika hendak diantar ke sana, tiba-tiba Rival Altaf sudah berada di lokasi kejadian.
"Udah izin, cuma pas berangkat kita tidak tahu," ucap ibunda Rival Altaf.
"Jam 2 saya dapet telepon, (Rival) sudah di Bambangan (base camp Gunung Slamet)," sambungnya.
Rival berangkat sendiri ke lokasi dengan membawa uang Rp130 ribu tanpa sepengetahuan mereka.
"Dia bawa uang Rp130 ribu," kata ayah Rival Altaf.
Baca juga: Syafiq Ali Nekat Mendaki Gunung Slamet Gara-gara Putus Cinta? Papan Hijau Jadi Bukti: Hai Mantan!
Syafiq Ali Ridhan Ali Razan ma memulai pendakian bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, pada Sabtu, 27 Desember 2025 melalui Basecamp Dipajaya, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Keduanya berencana melakukan pendakian tektok atau tidak bermalam.
Di tengah perjalanan, Himawan mengalami cedera kaki sehingga kesulitan melanjutkan pendakian.
Melihat kondisi rekannya, Syafiq Ali memutuskan turun sendirian untuk mencari bantuan.
Namun, Syafiq Ali tidak kunjung kembali ke lokasi Himawan berada.
Pada Minggu malam, 28 Desember 2025, tim relawan gabungan mulai melakukan pencarian terhadap kedua pendaki tersebut.
Himawan akhirnya ditemukan lebih dulu dalam kondisi selamat meski lemas di sekitar Pos 9 pada Selasa, 30 Desember 2025.
Ia kemudian dievakuasi ke basecamp oleh tim SAR gabungan.
Sementara itu, Syafiq Ali masih dinyatakan hilang.
Operasi pencarian melibatkan ratusan personel dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta komunitas pendaki.
Penyisiran dilakukan di jalur resmi pendakian, sumber air, lereng curam, hingga jurang di kawasan Gunung Slamet.
Medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi kendala utama selama proses pencarian.
Setelah 13 hari, operasi SAR sempat dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan.
Namun, upaya pencarian terus dilakukan oleh relawan.
Pada Rabu, 14 Januari 2026, pencarian akhirnya membuahkan hasil.
Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Jenazah Syafiq Ali ditemukan di Gunung Malang, area Watu Langgar, pada hari ke-17 pencarian.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengonfirmasi penemuan tersebut.
“ Syafiq Ali Razan Ali ditemukan di Gunung Malang area Watu Langgar Hari ke-17.
Meninggal dunia,” ujar Agus Ikmaludin kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).
Syafiq Ali ditemukan sekitar 5 km dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet.
Jenazahnya dievakuasi dari titik penemuan menuju basecamp Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Hal itu disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo.
“Informasi terakhir jam 14 tadi untuk menaikkan jenazah (dari titik penemuan) sampai basecamp Dipajaya membutuhkan waktu kurang lebih 15 jam,” ujarnya di Kantor Pemerintah Kota Magelang, Rabu (14/1/2026).
Setelah tiba di basecamp, jenazah Ali akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr M Ashari Pemalang untuk dimandikan.
Menurut Catur, perjalanan dari rumah sakit menuju rumah duka di Kelurahan Kramat Utara, Kota Magelang, diperkirakan memakan waktu sekitar empat hingga lima jam.
(TribunTrends/ Amr)