Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Millennium Montessori School Kupang menyelenggarakan Workshop on the Waste Management System pada, Senin 12 Januari 2026.
Kegiatan bertema "Optimizing Waste Management Raising School Awareness on Proper Waste Management" ini bertujuan untuk mengintegrasikan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan ke dalam kurikulum dan budaya sekolah di wilayah Penfui Timur, Kabupaten Kupang.
Dalam keterangan tertulis yang diterima POS-KUPANG.COM, Kamis 15 Januari 2026, program ini lahir dari inisiatif Yuliani Romea, seorang alumni Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) 2024, yang berhasil memperoleh Alumni Award Program.
Dukungan penuh diberikan oleh U.S. Department of State’s Bureau of Educational and Cultural Affairs (ECA) bekerja sama dengan American Councils for International Education.
Kehadiran program ini menjadi jembatan bagi para alumni untuk membawa ilmu kepemimpinan yang didapat di Amerika Serikat ke tengah masyarakat lokal di Nusa Tenggara Timur.
Dalam sambutannya, CEO Millennium Montessori School Kupang, Dr. Bernardus K. Danibao, M.Ed., menekankan bahwa edukasi lingkungan harus dimulai dari institusi pendidikan.
Ia menyatakan bahwa sekolah memiliki peran krusial dalam membentuk kebiasaan baru siswa terhadap sampah.
Menurutnya, kesadaran yang dibangun sejak dini akan menjadi fondasi bagi karakter anak di masa depan untuk lebih menghargai alam dan menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Bank Sampah Mutiara Kupang, Meilsi Mansula, ST., MUEP., yang hadir sebagai narasumber utama, memberikan pemaparan mendalam mengenai krisis sampah di Kota Kupang.
Meilsi menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah minimnya pemilahan sampah dari sumbernya.
Ia mengajak seluruh peserta untuk mulai memandang sampah bukan sebagai kotoran, melainkan sebagai sumber daya yang bisa dikelola jika dipilah dengan benar sejak dari ruang kelas dan rumah.
Sebagai koordinator proyek, Yuliani Romea menegaskan bahwa tujuan akhir dari workshop ini adalah terciptanya sistem yang inklusif.
Ia berharap kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Australia–Indonesia Youth Association (AIYA) Chapter NTT, pemerintah tingkat dusun, hingga relawan pemuda, dapat memastikan bahwa edukasi ini tidak berhenti saat acara usai.
Baginya, keterlibatan aktif berbagai pihak adalah kunci utama agar praktik pengelolaan sampah ini dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah dan masyarakat luas.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi demonstrasi yang interaktif, di mana para siswa dan tenaga pendidik belajar langsung cara mengolah sampah kertas, plastik, dan organik.
Dengan adanya praktek langsung ini, para narasumber optimis bahwa Millennium Montessori School Kupang dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di NTT dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, dan berwawasan ekologis. (rey)