Foto-foto Evakuasi Jenazah Syafiq Ali, Dibungkus Kain Hijau & Diikat Bambu, Lokasi Penemuan Curam
January 16, 2026 05:43 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Sebuah video yang menampilkan kondisi jenazah Syafiq Ali (18) saat akan dievakuasi dari lereng Gunung Slamet ramai beredar di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, tampak proses evakuasi dilakukan di medan yang terjal dan berisiko tinggi.

Syafiq Ridhan Ali Razan diketahui merupakan siswa SMAN 5 Kota Magelang yang sebelumnya dilaporkan hilang.

Ia akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di lereng puncak sisi selatan Gunung Slamet.

Lokasi penemuan berada di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden, tepatnya di jalur punggungan Gunung Malang dekat kawasan Watu Langgar.

Video yang beredar memperlihatkan bahwa titik penemuan jasad berada di area yang cukup curam.

Kondisi medan tersebut menyulitkan tim dalam melakukan proses evakuasi.

Jenazah Syafiq kemudian dibungkus menggunakan kain berwarna hijau sebelum dipindahkan.

Untuk mempermudah pengangkatan, jasad korban juga diikat menggunakan bambu sebagai penyangga.

Salah satu anggota tim evakuasi terdengar menjelaskan situasi medan di lokasi tersebut.

Baca juga: Kronologi Remaja Asal Magelang Syafiq Ridhan Hilang di Gunung Slamet, Niat Hati Mendaki Gaya Tek-Tok

“Iki posisi yang terenak lur kanggo (evakuasi) vertikal, sampinge angel kabeh,” ujar tim evakuasi.

Sementara itu, relawan dari Tim Wanadri, Arie Afandi, menjelaskan perlunya peralatan khusus dalam proses evakuasi.

“Dibutuhkan tandu basket karena teman-teman hanya punya alat tali temali. Jadi butuh tandu basket untuk menggotongnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tandu basket sangat dibutuhkan untuk kondisi ekstrem seperti tebing dan jurang.

Alat tersebut berfungsi menjaga jenazah tetap stabil dan aman saat proses evakuasi vertikal maupun saat diangkat menggunakan tali atau helikopter.

DIEVAKUASI - Penampakan jenazah Syafiq Ali pendaki Gunung Slamet, Rabu (14/1/2026).
DIEVAKUASI - Penampakan jenazah Syafiq Ali pendaki Gunung Slamet, Rabu (14/1/2026). (TikTok Ranger Prau)

Jenazah Ditinggal Sendiri

Arie Afandi mengatakan evakuasi jenazah Syafiq Ali (18) terkendala cuaca buruk.

Jenazah ditinggalkan di lokasi penemuan sendirian, seluruh tim evakuasi ditarik mundur. 

"Kondisi di lapangan hujan besar, angin kencang. Tim sudah membuat 'paket' rapi dan dikemas dengan baik. Jadi sudah aman. Tim yang belum makan dari pagi ditarik mundur ke pos OSC (Operation Support Comand). 'Paket' ditinggalkan sendiri," ujarnya.

Afandi mengatakan evakuasi jenazah Syafiq Ali akan dilakukan melalui jalur Dipajaya pada malam ini dengan pertimbangan cuaca.

Proses evakuasi jenazah Ali direncanakan dilakukan hari ini 15 Januari 2026 secara estafet.

Baca juga: Sosok Syafiq Ridhan Pendaki yang Hilang di Gunung Slamet, Sempat Tinggalkan Rekan untuk Cari Bantuan

CURAM - Kondisi jenazah Syafiq Ali berada di lereng Gunung Slamet. Evakuasi jenazah di lereng cukup curam direncanakan dilakukan Kamis 15 Januari 2026 (TikTok Ranger Prau)

Ditemukan Meninggal

Tim Wanadri dan relawan menemukan Syafiq Ali di lereng puncak sisi selatan, tepatnya di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden tepatnya di Lokasi di Jalur Punggungan Gunung Malang dekat area Watu Langgar, Rabu (14/1/2026) pukul 10.49 WIB.

Relawan menemukan jejak longsoran, prosotan dan patahan-patahan di sekitar lokasi.

Tim yang menemukan merupakan tim esar tahap 2 setelah tim tahap pertama ditutup.

Penemuan jenazah Syafiq Ali ditemukan pada hari ke-17 pencarian. 

Tim evakuasi juga mendapatkan barang-barang milik Ali termasuk ponsel.

Lokasi Pernah Dilewati Tim Evakuasi 

Seorang relawan pencarian pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan (18) yang hilang di Gunung Slamet mengisahkan kejanggalan dalam proses pencarian korban.

Proses pencarian yang lebih dari setengah bulan diselimuti misteri.

Syafiq akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia pada hari ke-17 pencarian, atau Rabu (14/1/2025).

Ia ditemukan sekitar 5 kilometer dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet.

Menurut para relawan lokasi itu sudah disisir bahkan sejak awal pencarian namun korban tak terlihat.

Sejumlah relawan menyoroti kejanggalan proses pencarian karena lokasi penemuan disebut telah berulang kali disisir tim SAR dan relawan.

Syafiq diketahui mendaki Gunung Slamet bersama rekannya, Himawan, melalui jalur Basecamp Dipajaya, Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu (30/12/2025).

Sejak dinyatakan hilang, tim SAR gabungan dan relawan melakukan pencarian di sejumlah titik berdasarkan keterangan terakhir Himawan.

Salah satu relawan independen, Amrul (20), warga Kabupaten Brebes, mengaku heran karena Syafiq baru ditemukan pada hari ke-17, padahal area tersebut disebut telah dilewati tim pencari sejak hari-hari awal.

“Dari hari kedua sampai hari ke-17 itu tidak ditemukan, padahal area sudah pernah dilalui tim pencarian,” ujar Amrul.

Amrul mengungkapkan, dalam proses pencarian tersebut terdapat berbagai kejanggalan. Ia menyebut pencarian bahkan sempat melibatkan anak indigo yang didatangkan dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

“Saya bersama tim relawan independen juga anak indigo ditugaskan di pos 9 tidak sampai pada lokasi ditemukan jasad Syafiq,” ungkap Amrul.

Amrul mengatakan relawan independen secara bergantian membantu pencarian sejak Syafiq dinyatakan hilang.

Namun selama proses tersebut, jasad korban tidak terlihat.

“Kata anak indigonya sih almarhum tertutup hal gaib yang tidak terlihat,” kata Amrul.

Lokasi hilangnya Syafiq berada di kawasan lereng berbatu dan tanah tandus, dengan banyak aliran sungai kecil.

Dari foto yang diterima Kompas.com, Syafiq ditemukan di antara bebatuan dalam kondisi tertelungkup.

Jaket dan celana pendek yang dikenakan masih menempel di tubuh korban, sementara celana panjang terlepas separuh dari badannya.

Terpisah dari jasad Syafiq, relawan juga menemukan sepatu, dompet, dan telepon genggam milik korban.

Kronologi Perpisahan di Pos 5 

Sebelum dinyatakan hilang, Syafiq dan Himawan diketahui masih bersama saat mendaki Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, pada 28 Desember 2025.

Keduanya sempat beristirahat di Pos 5. Di lokasi tersebut, kaki Himawan mengalami kram sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan dengan lancar.

Melihat kondisi rekannya, Syafiq kemudian memutuskan turun lebih dulu untuk mencari bantuan.

Ia meminta Himawan menunggu di Pos 5. Namun, setelah berpisah, Syafiq tak kunjung kembali. Hingga malam hari, Himawan masih menunggu, tetapi kontak dengan Syafiq terputus.

Karena Syafiq tidak kembali, Himawan akhirnya memutuskan bergerak naik menuju Pos 9 Gunung Slamet yang berada di ketinggian sekitar 3.183 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari Pos 9, jarak menuju puncak Gunung Slamet diperkirakan sekitar 300 hingga 600 meter.

Himawan bertahan di Pos 9 hingga Selasa (30/12/2025) pagi, sebelum akhirnya ditemukan oleh tim relawan dan dievakuasi melalui Basecamp Dipajaya dalam kondisi selamat.

Sementara itu, pencarian terhadap Syafiq terus dilakukan hingga akhirnya ia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan yang tidak jauh dari lokasi Himawan bertahan.

Tim SAR gabungan saat melakukan koordinasi untuk melakukan pencarian Syafiq Ali, seorang pelajar yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Slamet. Hingga Sabtu (3/1/2026), sebanyak 111 personel gabungan dikerahkan dan area pencarian diperluas hingga radius 5 kilometer dari titik terakhir keberadaan korban.
Tim SAR gabungan saat melakukan koordinasi untuk melakukan pencarian Syafiq Ali, seorang pelajar yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Slamet. Hingga Sabtu (3/1/2026), sebanyak 111 personel gabungan dikerahkan dan area pencarian diperluas hingga radius 5 kilometer dari titik terakhir keberadaan korban. (Dok Basarnas Semarang)

Batal Dievakuasi Rabu

Proses evakuasi pendaki asal Magelang, Syafiq Ali, yang ditemukan meninggal dunia di Gunung Slamet Kabupaten Pemalang, batal dilakukan hari ini Rabu (14/1/2026).

Tim SAR gabungan memutuskan menunda evakuasi lantaran terkendala faktor cuaca dan terbatasnya jarak pandang saat malam hari. 

Rescue Kantor SAR Semarang Unit Siaga SAR Pemalang, Handika Hengki, menjelaskan bahwa sebenarnya jenazah sempat direncanakan untuk diturunkan hari ini.

Namun kondisi cuaca yang tidak mendukung membuat proses evakuasi berisiko membahayakan keselamatan personel.

“Untuk proses evakuasi hari ini dimungkinkan terkendala faktor cuaca. Harusnya tadi bisa turun, tapi karena cuaca saat ini hujan, dan ketika malam hari jarak pandang terbatas sehingga bisa membahayakan personel.

Jadi kita lakukan besok, mudah-mudahan cuaca cerah dan survivor bisa segera turun,” ujarnya saat dijumpai tribunjateng.com, Rabu (14/1/2026) malam. 

Syafiq Ali yang sempat hilang sejak 28 Desember 2025 lalu dilaporkan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di Pos 9, tepatnya di jalur Gunung Malang 

Saat ini, posisi tim SAR gabungan telah tersebar di sejumlah titik untuk mengamankan lokasi dan mempersiapkan proses evakuasi secara estafet.

“Keberadaan survivor saat ini masih di Pos 9 , di atas pelawangan. Sedangkan tim, saat ini bermacam-macam.

Ada yang berada di dekat survivor, ada juga yang stay di Pos 5. Nantinya pergerakan akan disebar di tiap-tiap pos, dengan kekuatan sekitar 10 personel per pos, modelnya estafet,” jelasnya. 

Handika melanjutkan, rencana evakuasi akan dimulai dari Pos 5 sekitar pukul 05.00 hingga 07.00 WIB, dengan perkiraan jenazah tiba di bawah pada siang hari, tergantung kondisi cuaca dan medan.

Lebih lanjut, Handika juga menegaskan bahwa secara prosedur, operasi SAR resmi telah ditutup setelah dilaksanakan selama tujuh hari dengan tambahan waktu dua hari sesuai SOP Basarnas.

Setelah itu, kegiatan dialihkan ke tahap pemantauan. 

Meski demikian, Basarnas tetap hadir dan memantau pergerakan relawan yang melakukan pencarian tahap dua secara mandiri.

“Sejak awal teman-teman relawan melakukan pencarian mandiri, Basarnas tetap hadir dan stay di sini,” katanya.

Terkait keluarga korban, Handika menyampaikan bahwa orang tua Syafiq Ali saat ini telah kembali ke lokasi, meski posisi pastinya belum diketahui secara detail.

“Orang tua sudah di sini. Kemarin sempat pulang, tapi hari ini sudah ke sini lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, setelah jenazah berhasil dievakuasi, sesuai prosedur yang berlaku, ia mengatakan korban akan menjalani pemeriksaan oleh pihak berwenang.

“Biasanya survivor yang ditemukan pasti ada otopsi dari pihak INAFIS atau kepolisian. Itu memang SOP-nya. Rencananya sesuai koordinasi yang sudah dilakukan, jenazah akan dibawa ke RSI Moga Pemalang," pungkas Handika.

(Tribunnewsmaker.com/ TribunJateng)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.