TRIBUNGORONTALO.COM – Industri perhotelan di Gorontalo menunjukkan geliat positif. Tingkat penghunian kamar hotel bintang meningkat, sementara wisatawan asing tercatat menginap lebih lama dibandingkan tamu lokal.
Fenomena ini menandai tren baru dalam sektor pariwisata daerah yang kian menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Gorontalo pada November 2025 mencapai 51,70 persen. Angka ini naik 3,83 poin dibandingkan Oktober 2025 yang hanya 47,87 persen.
Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan akomodasi di Gorontalo semakin tinggi. Hotel nonbintang juga mengalami peningkatan, dari 15,50 persen di Oktober menjadi 18,45 persen di November.
Meski lebih rendah dibanding hotel bintang, tren positif ini tetap menunjukkan adanya pergerakan wisatawan.
Data ini dilansir TribunGorontalo.com dari Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, Jumat (16/1/2026).
Selama periode 2023–2025, TPK hotel bintang di Gorontalo bergerak antara 23 persen hingga 60 persen.
Pada 2023, puncak hunian terjadi di bulan September dengan 56,45 persen. Tahun 2024 mencatat puncak tertinggi di bulan November, yakni 64,75 persen.
Sementara di 2025, November kembali menjadi bulan dengan capaian tertinggi, yaitu 51,70 persen. Pola ini menunjukkan bahwa akhir tahun kerap menjadi momentum lonjakan wisatawan.
Secara nasional, TPK hotel bintang Indonesia pada November 2025 tercatat 53,87 persen. Angka ini naik 1,04 poin dibandingkan Oktober.
Papua Selatan menjadi provinsi dengan TPK tertinggi, mencapai 63,31 persen. Sebaliknya, Papua Tengah mencatat TPK terendah, hanya 16,32 persen.
Dengan capaian 51,70 persen, Gorontalo berada di level menengah namun tetap kompetitif.
Rata-rata lama menginap tamu hotel bintang di Gorontalo pada November 2025 adalah 1,59 malam. Angka ini naik tipis dari Oktober yang tercatat 1,54 malam.
Wisatawan asing tercatat lebih lama tinggal, yakni 1,68 malam. Sementara tamu domestik rata-rata hanya 1,59 malam.
Perbedaan ini menegaskan bahwa wisatawan asing cenderung menikmati Gorontalo lebih panjang.
Pada hotel nonbintang, rata-rata lama menginap mencapai 1,16 malam di November 2025. Angka ini naik dari Oktober yang hanya 1,07 malam.
Wisatawan asing di hotel nonbintang bahkan mencatat rata-rata 1,91 malam. Sebaliknya, tamu domestik hanya bertahan 1,16 malam.
Gap ini menunjukkan preferensi wisatawan asing untuk tinggal lebih lama meski di akomodasi sederhana.
Pada 2023, rata-rata lama menginap tamu hotel bintang di Gorontalo mencapai puncak di bulan April dengan 2,00 malam. Sementara periode terendah terjadi di Desember, hanya 1,42 malam.
Tahun 2024 relatif stabil, dengan rata-rata lama menginap tidak lebih dari 2 malam.
Sepanjang Januari–November 2025, lama menginap berkisar antara 1,39 hingga 1,61 malam. Puncak tertinggi tahun 2025 terjadi di Agustus dengan 1,61 malam.
Baca juga: Lowongan Kerja Kementerian Kesehatan 15 Januari 2026, Ada Khusus Lulusan SMA
Data ini memperlihatkan bahwa wisatawan asing lebih sabar menikmati destinasi Gorontalo. Mereka cenderung meluangkan waktu lebih lama untuk menjelajahi budaya, kuliner, dan alam.
Sebaliknya, tamu lokal lebih banyak melakukan perjalanan singkat. Hal ini bisa terkait dengan pola liburan domestik yang lebih terbatas oleh waktu kerja.
Perbedaan perilaku ini menjadi peluang bagi pelaku industri pariwisata untuk menyesuaikan strategi.
Peningkatan TPK dan lama menginap wisatawan asing memberi sinyal positif bagi hotel di Gorontalo. Hotel bintang dapat mengembangkan paket menginap jangka panjang untuk menarik wisatawan mancanegara.
Hotel nonbintang bisa memanfaatkan tren ini dengan menawarkan pengalaman lokal yang autentik. Dengan strategi tepat, Gorontalo berpotensi meningkatkan daya saing di sektor pariwisata nasional.
Tren ini juga mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor akomodasi.
Hotel di Gorontalo kini semakin ramai, dengan tingkat hunian yang terus meningkat. Wisatawan asing terbukti menginap lebih lama dibandingkan tamu lokal.
Perbedaan perilaku ini menjadi peluang besar bagi pengelola hotel dan pelaku pariwisata. Jika tren positif ini terus berlanjut, Gorontalo bisa menjadi destinasi unggulan di kawasan timur Indonesia.
Data November 2025 menjadi bukti nyata bahwa pariwisata Gorontalo sedang bergerak ke arah yang lebih menjanjikan.