Hasil Visum Pak Guru Agus yang Dikeroyok Puluhan Muridnya, Ada Bekas Lebam
January 16, 2026 07:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jambi - Agus Saputra, guru di SMK Negeri 3 Berbak Tanjung Jabung Timur, yang dikeroyok puluhan muridnya, akhirnya resmi melaporkan tindakan yang dialaminya ke polisi.

Adapun laporan Pak Guru Agus Saputra dilakukan ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026) sore.

Insiden dugaan pengeroyokan itu terjadi di lingkungan sekolah di SMKN 3 Berbak Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, pada Selasa (13/1/2026).

Aksi sejumlah murid tersebut terekam kamera ponsel dan videonya beredar di media sosial. Dalam video terlihat, seorang guru laki-laki mengenakan seragam dinas warna cokelat menjadi sasaran amukan sejumlah siswa laki-laki.

Tanjung Jabung Timur, Jambi adalah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Ibu kotanya berada di Muara Sabak. Kabupaten ini berada di pesisir timur Pulau Sumatra dan berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Wilayah Tanjung Jabung Timur dikenal dengan kawasan pesisir, rawa, dan sungai, dengan mata pencaharian utama masyarakatnya di sektor perikanan, pertanian, dan perkebunan. Kabupaten ini juga memiliki peran penting sebagai daerah penyangga ekosistem pesisir dan mangrove di Provinsi Jambi.

Dikutip Tribunlampung.co.id dari TribunJambi.com, Agus didampingi kakaknya, datang ke Polda Jambi sekitar pukul empat sore dan melakukan pembuatan laporan polisi hampir empat jam.

Kakak kandung Agus, Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di sosial media.

"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam  empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," kata Nasir pada Kamis (15/1/2026) malam.

Ia mangatakan bahwa pasca kejadian Agus telah melakukan visum.

Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang juga akan menjadi bukti untuk pihak kepolisian.

"Sudah ada visum dan ada bekas lebam," ujarnya.

Sementara itu, Agus yang juga hadir ke Polda Jambi enggan memberikan banyak komentar atas kejadian ini.

Lebih dari Satu Orang

Diketahui laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di sosial media. Nasir mengatakan ada lebih dari satu orang yang dilaporkan.

Sebelumnya, kasus penegroyokan yang dialami Agus Saputra Guru Bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur ini viral di sosial media.

Baca juga: Masih Was-was, Pak Guru Agus Tak Hadiri Mediasi dengan Siswa yang Mengeroyoknya

Pada video yang tersebar di media sosial, terlihat ada bebera siswa yang datang ke arah Agus dengan gaya menantang. 

Tidak sampai di sana, pada video lainnya juga memperlihatkan aksi saling pukul dan dorong siswa laki-laki dan guru Agus.

Yang membuat semakin mencekam, tersebar juga beberapa video yang memperlihatkan Guru Agus membawa senjata tajam jenis celurit untuk.

Dinas Pendidikan Provinsi jambi sendiri sudah memanggil Agus Saputra untuk dimintai keterangan.

Kejadian ini menjadi perhatian khusus dan sorotan publik lantaran adanya kekerasan di lingkungan sekolah yang terjadi antara siswa dan guru.

Diduga Berawal dari Kalimat

Informasi yang dihimpun Tribun Jambi, peristiwa bermula dari ucapan guru bernama Agus Saputra yang diduga menyinggung perasaan siswa. 

Kalimat yang dilontarkan guru dianggap telah menghina orang tua siswa, sehingga memicu emosi beberapa siswa.

Cekcok mulut tak terhindarkan, hingga berujung pada aksi kekerasan fisik. 

Sejumlah siswa mengejar Agus Saputra tersebut sampai ke halaman sekolah lalu melakukan kekerasan fisik.

Situasi sempat memanas, sebelum guru-guru lain yang berada di lokasi melerai.

Para guru lalu membawa Agus Saputra ke sebuah ruangan untuk menghindari aksi lanjutan.

Lapor ke Dinas Pendidikan

Pascakejadian, Agus Saputra melaporkan peristiwa itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Saat diwawancarai Tribun Jambi, dia menuturkan kronologi tindak kekerasan di lingkungan sekolah.

Bermula saat dia ditegur seorang siswa dengan nada tidak sopan dari dalam kelas, sekitar pukul 09.00-10.00 WIB, ketika proses belajar mengajar berlangsung.

"Dia menegur saya dengan kata-kata tidak pantas. Saat itu juga saya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” ujar Agus.

Menurut Agus, siswa tersebut mengaku dan menantangnya. 

Agus pun mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. 

Ketegangan kemudian berlanjut hingga jam istirahat dan siang hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.