TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Beredar kabar regulasi pemain asing di Super League musim depan berubah.
Perubahan berada di daftar susunan pemain (DSP).
Untuk kuota pemain asing, setiap klub tetap diperbolehkan mendaftarkan 11 pemain.
Dari informasi beredar, hanya delapan legiun asing masuk DSP.
Rinciannya, enam pemain asing bisa menjadi starting line up, dua sisanya di bangku cadangan.
Sedangkan tiga pemain asing hanya jadi penonton.
Regulasi pemain impor ini berbeda dengan Super League 2025/2026.
Musim ini, sembilan masuk DSP, akan tetapi hanya tujuh bisa diturunkan sejak menit awal.
Dua lainnya di bangku cadangan.
Kabar aturan pemain asing untuk musim depan ini dibantah oleh operator sepak bola Indonesia, Indonesia League (I League).
Public Relations I League Syifa Nadhilah menegaskan, regulasi pemain asing untuk kompetisi musim depan belum ada keputusan resmi.
Ia menyampaikan, regulasi akan dibahas dan ditetapkan oleh induk sepak bola Indonesia PSSI setelah kompetisi berakhir.
“Belum ada keputusan kuota pemain asing musim depan. Biasanya, ada proses evaluasi dan diskusi bersama para pemangku kepentingan. Regulasi ini di tangan PSSI,” katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com, Jumat (16/1/2026).
Kuota pemain asing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia memang terus meningkat.
Dari empat pemain asing, kini menjadi 11 legiun asing.
Pengamat Sepak Bola Imran Amirullah mengatakan, aturan pemain asing di Super League perlu dievaluasi.
Menurutnya, kuota pemain asing lebih baik dikurangi. Maksimal tujuh pemain asing saja.
“Harus dikurangi, paling tidak tujuhlah. Lima main, dua cadangan,” tuturnya saat dihubungi Tribun-Timur.com, Jumat (16/1/2026).
Imran membeberkan alasan agar pemain impor dikurangi.
Pertama, untuk memberikan kesempatan bermain lebih banyak kepada pemain lokal.
Pasalnya, kehadiran pemain membuat pemain lokal tersingkir. Lebih sering pemain asing dimainkan.
Kedua, masih banyak tim di Indonesia memiliki finansial bagus untuk membayar gaji pemain asing.
Buktinya, musim ini saja banyak klub alami masalah finansial.
Efeknya, hak pemain kadang lambat dibayar.
“Masih ada klub problem dengan kondisi keuangan. Jangan dipaksakan (banyak pemain asing) juga, kalau akhirnya tim kewalahan,” katanya.
Ketiga, sebut Imran, dominasi pemain asing akan berdampak pada Timnas Indonesia.
Kualitas pemain ke Timnas bisa saja menurun. Sebab, dari kiper hingga penyerang, klub lebih menurunkan pemain asing.
“Pemain asing di setiap lini. Kesempatan pemain lokal tak ada,” ucap mantan winger Timnas Indonesia ini. (*)