TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ikan Nila, Lele, dan Gurami menjadi prioritas utama pembenihan di Kabupaten Sleman menyusul tingginya minat konsumen dan pelaku usaha kuliner.
Fokus pengembangan produksi pada tiga jenis ikan tersebut diharapkan mampu memenuhi target ketercukupan benih berkualitas yang permintaannya diprediksi bakal terus meningkat sepanjang tahun ini.
"Di tahun ini, kami fokus pada pengembangan benih Ikan Nila, Lele, dan Gurami. Karena tiga jenis ikan tersebut paling banyak permintaan dari pasar," kata Kepala UPT Pengembangan Budi Daya, Pengolahan, dan Pemasaran Perikanan, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Minarni Listyowati, Jumat (16/1/2026).
Permintaan benih ikan berdasarkan pengalaman tahun lalu masih didominasi dari wilayah Sleman. Lokasinya hampir merata.
Misalnya, di Godean dan Moyudan kini permintaan benih ikan mulai menggeliat meskipun relatif lebih sedikit, dibanding di Kapanewon Pakem dan Ngemplak, yang selama ini dikenal sebagai sentra budidaya.
Sektor perikanan di Sleman sejauh ini masih menjadi andalan. Bahkan cenderung meningkat.
Sepanjang tahun 2025, DP3 Kabupaten Sleman telah membukukan produksi benih ikan mencapai 1,52 miliar ekor. Angka produksi ini meningkat dibanding tahun lalu 1,47 miliar ekor.
Jenis benih ikan mulai dari Gurami, Mas, Nila, Tawes, Gabus, Lele, Bawal, dan lainnya.
Angka produksi terbesar masih didominasi oleh benih Ikan Nila dan Lele dengan masing-masing 911 juta dan 605,98 juta benih.
Sedangkan ikan Mas 3,93 juta, Gurami 2,1 juta, Gabus 4,54 juta, Bawal 221.400, Tawes 43.500, dan lainnya 200 ekor.
Pelaksana Tugas, Kepala DP3 Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto optimistis sektor perikanan di Bumi Sembada akan terus berkembang.
Pihaknya mengaku akan terus berupaya mengembangkan perikanan dengan cara mendorong peningkatan keterampilan dan pengetahuan kelompok pembudidaya ikan dalam mengadopsi dan mengimplementasikan cara budidaya ikan yang baik (CBIB) secara berkelanjutan.
Modernisasi budidaya perikanan menurutnya juga perlu didukung dengan mengoptimalkan pakan mandiri, pemanfaatan bioflog, dan kincir air, serta mengoptimalkan dan menyederhanakan persyaratan akses dana penguatan modal dari Pemerintah Kabupaten.Kegiatan pendampingan sektor perikanan melalui penyuluh perikanan juga tetap harus dimaksimalkan.
"Bantuan APBN untuk indukan ikan yang unggul, bioflog, kincir air, dan lainnya, juga perlu ada pemanfaatan secara optimal," kata Rofiq. Adapun terkait penanganan hama penyakit dan potensi dampak bencana hidrometeorologi, akan dioptimalkan melalui satgas pengendalian hama penyakit perikanan yang sudah dibentuk.(*)