TRIBUNNEWS.COM, WEDA BAY - Sejak mulai dibangun tahun 2018, kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara, menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri yang menyerap investasi besar, terutama di sektor pengolahan mineral dan logam.
IWIP dirancang sebagai kawasan industri terintegrasi yang mendukung program hilirisasi pemerintah, dengan menghadirkan berbagai tenant smelter dan industri turunan.
Project Supervisor IWIP Dodi Pidora mengungkap, hingga saat ini total investasi yang telah masuk ke kawasan IWIP mencapai sekitar 15 miliar dolar AS atau setara Rp 253 triliun.
Nilai tersebut merupakan akumulasi investasi dari tenant yang beroperasi di dalam kawasan serta investasi yang dilakukanlangsung oleh pengelola kawasan industri.
"Untuk total investasi yang sudah masuk, untuk tenant dan kawasan itu saat ini 15 miliar USD. Totalnya itu untuk smelter yang di tenant dan untuk yang diinvestasikan oleh kawasan sendiri secara total," kata Dodi dalam konferensi pers di Wisma Tsingshan, Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Jumat (16/1/2026).
Dalam tiga bulan terakhir IWIP juga mencatat investasi baru dari industri yang kini telah resmi beroperasi di Weda. Industri tersebut adalah pabrik Electrolytic Aluminum Ingot, yang bergerak di bidang pengolahan aluminium.
Baca juga: IWIP Motor Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara, Pendapatan Warga Naik
Dodi menjelaskan, industri ini memproduksi aluminium ingot dengan bahan baku alumina yang didatangkan dari luar kawasan. Alumina tersebut kemudian diolah melalui proses elektrolisis hingga menjadi produk aluminium siap pakai.
"Jadi industrinya dia dari alumina dan didapat dari luar, terus dibawa masuk untuk diolah melalui proses elektrolisis. Jadi dia saat ini secara proses industri ataupun dari sisi instalasi mesin dan lainnya sudah selesai,” jelasnya.
Ia menambahkan, pabrik aluminium tersebut baru saja menyelesaikan tahapan verifikasi perizinan belum lama ini dari Kementerian.
"Baru kemarin Senin itu diverifikasi oleh Kementerian Perindustrian untuk izin usahanya," terang Dodi masih dalam sesi yang sama.
Pabrik Electrolytic Aluminum Ingot ini memiliki kapasitas produksi sekitar 250.000 ton aluminium ingot per tahun. Kehadiran industri ini menandai keberagaman investasi di IWIP, yang tidak hanya berfokus pada nikel, tetapi juga mulai mengembangkan industri logam lainnya dengan nilai tambah tinggi.
"Dia kapasitasnya sekitar 250.000 ton per tahun. Untuk aluminium ingot itu yang terakhir industri yang baru beroperasi," imbuhnya.