Laporan : Kiki Andriana
TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Pemerintah Kabupaten Sumedang membantah anggapan bahwa sejumlah bangunan ikonik yang dibangun pada era Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) kini terbengkalai dan Nir-Guna (tidak dimanfaatkan).
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menilai penilaian tersebut tidak menggambarkan kondisi terkini di lapangan.
Bantahan itu disampaikan menyusul pengamatan Anggota Perkumpulan Inisiatif Bandung, Nandang Suherman, yang menilai Gedung Kreatif, Kujang Sapasang, Masjid Al Kamil, hingga Geoteater Rancakalong tidak lagi hidup seperti tujuan awal dibangun.
Baca juga: Pengamat Soroti Kondisi Peninggalan Ridwan Kamil di Sumedang: Kujang Sapasang hingga Gedung Kreatif
“Sepertinya Kang Nandang enggak update keberadaan Gedung Kreatif, Kujang Sapasang, dan Geoteater Rancakalong. Jangan sampai hanya satu kali datang dan itu di bulan September 2025, menjadi sebuah kesimpulan. Kasihan mereka yg sudah bekerja keras menghidupkannya,” kata Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir kepda TribunJabar.id, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Dony, Gedung Kreatif Sumedang justru menunjukkan tingkat pemanfaatan yang tinggi. Aktivitas di dalam gedung berlangsung hampir setiap hari dan bahkan kerap penuh.
“Aktivitas padat dan sering waiting list. Contohnya anak-anak SMAN 1 Sumedang dan anak sekolah lainnya sangat sering menggunakan Gedung Kreatif. Kalau dilihat dari luar, sepintas seperti sepi tapi kalau masuk ke dalam ramai terutama di ruangan-ruangan sesuai dengan peruntukannya,” ujarnya.
Sementara itu, Geoteater Rancakalong disebut telah berkembang menjadi ruang aktivitas budaya yang rutin. Setiap akhir pekan, kawasan tersebut menjadi pusat kegiatan seni yang melibatkan masyarakat lokal dan menarik kunjungan dari luar daerah.
“Di Geoteater Rancakalong sudah ada kegiatan rutin setiap akhir pekan, Ekosistem Budaya Kasumedangan. Sekarang sudah edisi ke-10. Dubes Indonesia untuk Kuwait sudah datang ke Geotetater. Silahkan hadir setiap Saptu ke Geoteater berbagai atrasi seni budaya ada dan menjadi hiburan para wisatawan yang datang,” kata Dony.
Ia juga menegaskan bahwa aktivitas Geoteater dapat dipantau secara terbuka melalui media sosial.
Baca juga: Bupati Sumedang Nilai Subuh Berjamaah Fondasi Karakter dan Kebangkitan Daerah
Pemerintah daerah, kata dia, telah melakukan berbagai perbaikan pendukung, mulai dari akses jalan hingga penerangan kawasan.
“Aktivitas di Geoteater selalu disampaikan melalui medsos-nya atau medsos saya. Akses jalannya sudah diperlebar, bus bisa masuk. Penerangan Jalan Umum (PJU) ditambah,” ujarnya.
Dony mencontohkan, pada pertengahan Desember lalu, Geoteater Rancakalong menerima kunjungan pelajar dari Sekolah Rakyat Soreang, Kabupaten Bandung. Rombongan tersebut datang menggunakan enam bus untuk mengikuti program pembelajaran berbasis budaya.
“Ada kunjungan pelajar sekolah dari luar Sumedang untuk membangun karakter dan mengenal seni budaya Sunda yang ditampilkan di Geoteater,” katanya.
Adapun terkait kawasan Kujang Sapasang, Bupati Dony menjelaskan bahwa saat ini tengah berlangsung proses penentuan pengelola baru. Pengelolaan sebelumnya telah berakhir dan kini memasuki tahap seleksi lanjutan.
“Pengelolaan oleh The Lodge selesai, sekarang sedang proses beauty contest. Apraisal harga sewa dari provinsi sudah keluar, tinggal menentukan penyewanya,” ujarnya.
Bupati Dony menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen memastikan seluruh aset publik yang telah dibangun dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Potensi sudah ada. Dibangun sudah. Apa yang sudah dibangun harus berfungsi. Pemkab Sumedang berkomitmen kawasan-kawasan strategis desa yang telah dibangun harus tetap berfungsi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Nandang, tidak soal apakah namanya identik atau tidak, contohnya pada nama masjid itu, namun terpenting adalah bagaimana tanggung jawab pemerintah atas uang publik yang dipakai proyek-proyek itu, yang menurutnya saat ini justru terbengkalai pengelolaannya.
Baca juga: Profil Teras Cihampelas Dulu Dibangun Ridwan Kamil Kini Bakal Dibongkar Dedi Mulyadi
“(Nama Al-Kamil) itu kebetulan saja. Tidak perlu diganti. Bukan itu persoalan utamanya,”
“Duit rakyat harus kembali manfaatnya ke rakyat, jangan sekadar berdiri. Saya sebagai warga meminta pertanggungjawaban atas itu,” katanya.