PROHABA.CO - Fenomena alam berupa lubang raksasa menyerupai sinkhole (lubang amblas) kembali menjadi perhatian publik.
Fenonema tanah amblas hingga membentuk lubang raksasa atau sinkhole terjadi di perkebunan milik warga Aceh Tengah.
Setelah warga di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat dihebohkan dengan kemunculan lubang amblas yang viral, kondisi serupa ternyata juga terjadi di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Tepatnya di Kecamatan Ketol, sebuah lubang besar dilaporkan terus membesar dari waktu ke waktu, menimbulkan kekhawatiran bagi warga sekitar.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kompas.com, pergerakan tanah di kawasan ini bukanlah hal baru.
Berikut rangkuman fakta-fakta lubang raksasa mirip sinkhole di Aceh Tengah, dikutip dari Kompas.com, Jumat (16/1/2025).
1. Sudah Terpantau Sejak Awal 2000-an
Aktivitas tanah yang tidak stabil telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyebutkan bahwa fenomena longsoran tanah berbentuk lubang raksasa ini sudah terpantau sejak awal 2000-an.
Hingga kini, belum ada literatur ilmiah yang mampu menjelaskan secara pasti bagaimana proses awal terbentuknya lubang tersebut.
Baca juga: Jalan Licin dan Lubang Besar Bikin Truk 6 Roda Terbalik di Jalur Medan–Banda Aceh
2. Lokasi Berada di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol
Lubang raksasa ini berada di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Secara geografis dan administratif, wilayah ini berbatasan dengan Kecamatan Lampahan di sisi timur laut serta Kabupaten Bireuen di bagian utara.
3. Berjarak Sekitar 17 Kilometer dari Takengon
Lokasi lubang berjarak sekitar 17 kilometer dari Kota Takengon dan Danau Lut Tawar.
4. Pernah Memutus Akses Jalan Antar Kabupaten
Dampak pergerakan tanah di lokasi ini sudah dirasakan warga sejak lama.
Pada 2006, longsoran tanah sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah.
Baca juga: FENOMENA, Usai Rentetan Gempa Muncul Air Panas di Bawean
5. Warga Sempat Direlokasi
Kondisi ini tentu mengganggu mobilitas warga dan aktivitas ekonomi antarwilayah akibat kondisi tanah yang terus bergerak.
Tidak hanya itu, warga Kampung Bah Serempah juga sempat direlokasi ke Kampung Serempah Baru pada periode 2013–2014.
Relokasi dilakukan karena kondisi tanah yang terus bergerak dan dinilai berbahaya bagi keselamatan penduduk.
Proses rehabilitasi serta rekonstruksi berlangsung dalam tiga tahapan pada kurun waktu tersebut.
Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, Kamis (15/1/2026) menegaskan bahwa langkah relokasi merupakan upaya untuk melindungi warga dari risiko bencana yang lebih besar.
6. Didominasi Material Vulkanik
Menurut peta geologi regional, kawasan lubang raksasa ini termasuk dalam Formasi Satuan Lampahan (Qvl) yang berumur kuarter.
Hasil pengamatan lapangan menunjukkan wilayah tersebut didominasi material vulkanik.
Selain itu, ditemukan mineral limonit yang mengindikasikan adanya pengaruh aktivitas hidrotermal.
Kondisi geologi ini memperkuat dugaan bahwa pergerakan tanah di kawasan tersebut memiliki keterkaitan dengan proses alam yang kompleks.
7. Pergerakan Tanah Tergolong Sangat Aktif
Survei ortofoto menggunakan drone yang dilakukan pada Desember 2021 dan Februari 2022 menunjukkan bahwa pergerakan tanah di lokasi ini tergolong sangat aktif.
Dalam periode tersebut, tanah tercatat bergeser rata-rata sekitar 8,5 meter ke arah tenggara.
Penelitian juga menemukan adanya zona jenuh air pada kedalaman tertentu yang berpotensi mempercepat pergerakan tanah secara berkelanjutan.
Hal ini menandakan bahwa fenomena lubang raksasa di Aceh Tengah bukanlah kejadian sesaat, melainkan proses alam yang terus berlangsung.
(Serambinews.com/Firdha Ustin)
Baca juga: 9 Makanan Kaya Zat Besi untuk Atasi Anemia Secara Alami, Biji Labu hingga Brokoli
Baca juga: Menkes RI Soroti Praktik Pemerasan di PPDS Unsri: Junior Dipaksa Setor Rp15 Juta per Bulan
Baca juga: Dukungan Pemulihan Aceh Pascabencana, TMT Group Salurkan Donasi Rp2,5 Miliar