Perangai Guru yang Dikeroyok Siswa di Jambi, Dibongkar Ketua Osis: Sering Menindas Kami 
January 17, 2026 05:33 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Terungkap perangai Agus Saputra seorang guru yang dikeroyok oleh sejumlah siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Jambi. 

Pasca insiden pengeroyokan guru Ketua OSIS menyampaikan permintaan maaf.

Selain permintaan maaf, Ketua OSIS wanita dalam video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi menyebutkan jika para siswa meminta guru yang ada dalam video viral dipindahkan.

Ketua OSIS tersebut memberikan pernyataan menohok pasca video pengeroyokan tersebut viral.

Alih-alih menyesal, ia sebagai perwakilan siswa meminta oknum tersebut dipindahkan ke tempat lain.

"Di sini saya sebagai Ketua OSIS di SMK 3 Tanjung Jabung Timur ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang terlibat, dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru," kata dia, dikutip dari video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi, Rabu (14/1/2026) malam.

Kata perwakilan siswa itu, pengeroyokan itu terjadi karena guru sering menindas siswanya.

"Hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering  menindas kami di SMK Negeri 3 Tajung Jabung Timur," lanjutnya.

"Kami hanya ingin beliau dipindahkan ke tempat yang lain, karena kami tidak nyaman beliau ada di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur ini," tutup perwakilan siswa yang juga ketua OSIS SMKN 3 Tanjab Timur tersebut.

Kronologi Kejadian Versi Siswa 

Sebelumnya, insiden guru dikeroyok siswa SMKN 3 Berbak yang terekam video dan viral di media sosial itu terjadi pada Selasa (13/1/2026) di lingkungan sekolah.

Peristiwa berawal dari teriakan woi dari dalam kelas oleh siswa bernama Muhammad Luthfi Fadillah saat guru Agus Saputra sedang berjalan di luar kelas.

Muhammad Luthfi Fadillah, menuturkan peristiwa bermula saat itu kegiatan belajar mengajar hampir selesai. 

Suasana kelas yang sempat ribut, sehingga membuatnya menegur teman-temannya agar diam. 

"Saya bilang, woi, diam," tutur Luthfi.

Namun, teguran tersebut terdengar oleh guru Agus Saputra yang melintas di depan kelas.

Menurut Luthfi, Agus kemudian masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang meneriakkan kata tersebut. 

Luthfi mengaku dan menjawab, "Saya, Prince,". 

Lalu, dia diminta maju ke depan kelas, lalu ditampar oleh guru Agus Saputra.

Lantas mengapa Luthfi menjawab dengan kata "Prince" kepada guru Agus Saputra?

Menurut M Luthfi, guru tersebut tidak ingin dipanggil dengan sebutan "Bapak" dan meminta dipanggil "Prince".

Ketegangan setelah itu berlanjut saat para siswa meminta guru Agus Saputra menyampaikan permintaan maaf karena dinilai telah menghina orang tua salah satu siswa. 

Permintaan itu tidak tercapai, hingga mereka dibawa ke kantor sekolah. 

Di lokasi tersebut, Luthfi mengaku kembali mendapat ejekan dan kemudian dipukul di bagian hidung. 

Menurutnya, pukulan itu memicu reaksi spontan siswa lain hingga berujung para siswa mengeroyok guru Agus Saputra .

Versi Guru: Cekcok dan Tantangan Siswa

Saat itu, guru dan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung, sekitar pukul 09.00-10.00 WIB. 

Agus ditegur seorang siswa dengan nada tidak sopan dari dalam kelas.

"Dia menegur saya dengan kata-kata tidak pantas. Saya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu," ujar Agus Suparta.

Menurutnya, siswa tersebut mengaku dan bahkan menantangnya. 

Agus mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. 

Ketegangan pun berlanjut hingga jam istirahat.

Situasi memanas ketika sejumlah siswa mengejar Agus hingga ke halaman sekolah dan melakukan kekerasan fisik. 

Guru-guru lain kemudian melerai dan membawa Agus ke ruangan untuk menghindari aksi lanjutan.

Mediasi Gagal, Berujung Pengeroyokan

Tak berapa lama setelah kejadian, kata Agus, telah dilakukan mediasi di sekolah. 

Dalam pertemuan itu, siswa meminta Agus menyampaikan permintaan maaf. 

Di sisi lain, Agus menawarkan solusi berupa petisi untuk mengetahui apakah siswa masih menginginkannya mengajar atau berkomitmen memperbaiki perilaku.

Namun, seusai mediasi, Agus mengaku kembali didatangi siswa lintas kelas saat berada di kantor sekolah.

“Di situlah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, 2, dan 3,” katanya.

Ia juga menuturkan ada siswa yang membawa senjata tajam. 

Sementara itu, beredar juga potongan video Agus Suparta terlihat memegang sabit. 

Menurutnya, sabit tersebut merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah karena SMKN 3 Berbak merupakan SMK Pertanian.

"Saya hanya menggertak agar mereka bubar, tidak ada niat menyakiti," tegasnya.

Terkait peristiwa itu, Agus mengaku mendapat lemparan batu dan benda keras.

Dia mengalami bengkak di tangan dan memar di punggung. 

Agus menegaskan tidak melawan, hanya membela diri.

Lapor Dinas dan Lapor Polisi

Pascakejadian, Agus melaporkan peristiwa itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. 

Agus Suparta mengatakan telah mengajar sekitar 15 tahun dan baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini. 

Di sisi lain, dia mengaku sudah 2-3 tahun terakhir kerap mengalami perundungan verbal dari sejumlah siswa.

"Saya berharap ada mediasi dan penanganan serius agar persoalan tidak berlarut-larut," katanya.

Namun, akhirnya, pada Kamis (15/1/2026) malam, Agus melapor ke Polda Jambi. 

Dia datang membawa hasil visum dan didampingi kakak kandungnya, Nasir.

Sekira lima jam, Agus menjalani pemeriksaan. 

Dia melaporkan aksi penganiayaan yang dialaminya.

"Adik saya dirugikan secara mental dan psikis, apalagi setelah videonya viral. Sudah ada visum dan bekas lebam," kata Nasir.

Agus mengaku mengalami luka lebam di wajah, tangan, dan punggung, serta trauma. 

Laporan polisi itu ditujukan kepada beberapa siswa yang terekam dalam video viral.

Sekolah Lakukan Mediasi

Sehari pascakejadian, pihak sekolah menggelar mediasi. 

Kepala SMKN 3 Tanjab Timur, Ranto M, memastikan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal.

"Benar terjadi perselisihan antara guru dan siswa. Mediasi dihadiri kepala sekolah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, camat, lurah, ketua komite, serta pihak siswa dan guru," ujar Ranto, Rabu (14/1/2026).

Dia mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.

Tanggapan Gubernur Jambi

Gubernur Jambi, Al Haris, turut bereaksi. 

Dia menegaskan, jika guru terbukti bersalah, maka akan diberikan sanksi. Namun, siswa juga tidak dibenarkan menghakimi guru dengan kekerasan.

"Kalau gurunya salah akan kita tindak. Tapi siswa tidak boleh main hakim sendiri. Masalah ini harus diselesaikan secara kekeluargaan," kata Al Haris, Kamis (15/1/2026).

Dia telah menginstruksikan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menggelar rapat mediasi dengan melibatkan orang tua, guru, camat, dan kepolisian.

Agus: Siap Dipindah Demi Keamanan

Meski telah melapor ke polisi, Agus mengaku tidak tega melihat anak didiknya berurusan dengan hukum.

"Mereka ini anak didik saya. Secara psikologis masih butuh bimbingan," katanya.

Dia menyatakan siap dipindahkan jika memang keberadaannya tidak diinginkan demi kenyamanan siswa dan keselamatan dirinya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.