TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1/2026).
Pesawat tersebut mengangkut 11 orang, terdiri atas delapan awak pesawat dan tiga penumpang.
Berdasarkan data awal AirNav Indonesia, posisi terakhir pesawat berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, dengan koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur.
Kawasan hilangnya pesawat yang dipiloti kapten senior, Andy Dahananto (53) tahun ini berada di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung perbatasan Maros - Pangkep dan Bone.
Gunung Bulusaraung ketinggian 1.353 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL).
Kawasan ini berjarak sekitar 21 km sebelah timur Pangkajene, ibu kota Pangkep dan sekitar 26 km tenggara Maros.
Kawasan ini masuk Taman Nasional Bantimurung dan hutan vegetasi basah Karaengta.
Akses ke kawasan pendakian favorit anak pencita alam ini bisa dari kawasan Leang-leang, Jalan Poros Maros - Bone.
Dari Pangkep bisa diakses dari Jalan Poros Makassar - Pangkep km 49, melewati eks Pabrik Semen Tonasa 1 di Balocci ke timur.
Sejauh ini, pusat kendali krisis di kawasan Leang-Leang
Kabar hilangnya pesawat ini telah diterima Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.
“Kita sudah mengerahkan tim gabungan untuk melakukan pencarian,” ujar Andi Sudirman dalam keterangannya, Sabtu (17/1/2026) malam.
Baca juga: Sosok Capt Andy Dahananto, Pilot Senior ATR Rute Jogja-Makassar Hilang Kontak di Maros
Area pencarian diperluas menyusul laporan masyarakat terkait penemuan serpihan di kawasan Puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Pangdam, Kapolda, Basarnas, serta tim Pemprov Sulsel bersama BPBD. Tiga unit ambulans lengkap dengan tenaga kesehatan juga telah disiapkan untuk bergerak cepat. Helikopter pencarian dan tim darat menuju lokasi indikatif, namun terhambat medan dan cuaca,” kata Andi Sudirman via rilis, Sabtu (17/1/2026).
Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT itu dilaporkan kehilangan komunikasi setelah menerima arahan terakhir dari Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC).
Delapan kru penerbangan terdiri dari:
Kapten Andy Dahananto selaku pilot
First Officer Yudha Mahardika
Enam awak lainnya:
Sukardi
Hariadi
Franky D. Tanamal
Junaidi
Florencia Lolita
Esther Aprilita S
Sementara tiga penumpang yang tercatat dalam manifes masing-masing bernama:
Deden
Ferry
Yoga
Andi Sudirman mengimbau masyarakat untuk bersabar dan menunggu informasi resmi dari tim SAR.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk mendoakan yang terbaik dan bersabar. Ada penemuan serpihan yang menjadi petunjuk awal dari warga, namun kita tetap menunggu informasi resmi dari tim SAR,” ujarnya.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan pesawat jenis ATR 42-500 buatan tahun 2000 tersebut dipiloti oleh Capt Andy Dahananto dan tengah melakukan pendekatan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.
“Dalam proses pendekatan ke landasan pacu Runway 21, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga ATC memberikan arahan koreksi posisi,” kata Lukman.
ATC kemudian menyampaikan beberapa instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.
“Namun setelah penyampaian arahan terakhir, komunikasi dengan pesawat terputus dan dinyatakan loss contact,” jelasnya.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, ATC Makassar langsung mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase)dan berkoordinasi dengan Basarnas serta aparat kepolisian.
AirNav Indonesia Cabang MATSC juga segera menghubungi Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat serta Polres Maros untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan.
Pencarian difokuskan di wilayah pegunungan karst Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros sekaligus dijadikan lokasi pendirian posko Basarnas.
Pencarian lanjutan direncanakan melibatkan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas yang dijadwalkan terbang pada pukul 16.25 Wita.
Sementara itu, pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar telah menyiapkan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi dan informasi bagi keluarga penumpang. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz