Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Siswa SD bernama Abdul Rosyid Asady (8) tewas tenggelam di Sungai Way Awi, Kelurahan Jagabaya 1, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung pada Sabtu (17/1/2026).
Camat Tanjungkarang Timur Dedi Saputra mengimbau kepada orangtua untuk lebih memperhatikan anak-anak mereka, terutama saat musim hujan.
Menurut Dedi, musim hujan membawa potensi bahaya bagi anak-anak yang bermain di sekitar aliran air seperti drainase, parit, dan sungai.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun, ini adalah keprihatinan kita bersama. Orangtua diimbau untuk selalu mengawasi anak-anaknya agar tidak bermain di dekat drainase, parit, atau sungai yang berpotensi membahayakan,” kata Dedi Saputra saat diwawancarai Tribun Lampung di depan gang rumah korban, Sabtu (17/1/2026).
Dedi menjelaskan, pihaknya sudah melakukan upaya pembersihan selokan dan drainase agar air dapat mengalir dengan lancar.
Namun, ia mengingatkan bahwa anak-anak yang bermain di sekitar drainase atau parit tetap berisiko terbawa arus.
“Selokan dan drainase sudah dibersihkan, air mengalir lancar, tetapi tetap berbahaya bagi anak-anak bermain di sekitar area tersebut. Arus yang kuat bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti yang terjadi hari ini,” tambahnya.
Kepala Lingkungan (Kaling) 2, Kelurahan Jagabaya 1, Kecamatan Way Halim, Hartono, menyebut bahwa kedalaman air di lokasi korban tenggelam mencapai 1,5 meter.
"Jadi kedalamannya sekitar 1,5 meter dan saya tidak tahu anak-anak sering bermain di sana. Baru kali ini terjadi kejadian seperti ini," kata Hartono saat diwawancarai Tribun Lampung di depan rumah duka di Jalan Romo Wijoyo, Kelurahan Sawah Brebes, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, Sabtu (17/1/2026).
Hartono menjelaskan bahwa saat evakuasi, korban sempat menunjukkan reaksi, namun nyawanya tidak tertolong.
"Dari laporan diterima hingga korban ditemukan, prosesnya sekitar 10 menit," ujarnya.
Kaling itu menambahkan, awalnya anak-anak lain sempat naik ke jalan raya untuk meminta pertolongan warga sekitar.
"Kami segera turun untuk melakukan penyelamatan, tapi karena kedalaman air sekitar 1,5 meter dan adanya pusaran, korban tenggelam dan tidak bisa tertolong," jelas Hartono.
Menurut Hartono, pusaran air di lokasi mungkin membuat korban tidak menyadari kedalamannya, sehingga diduga menelan air dan meninggal dunia.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)