Pertama, warga terdampak kekeringan berharap pemerintah segera mempercepat perbaikan Bendungan Gunung Nago dan jaringan irigasi yang rusak di Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (17/1/2026).
Kekeringan ini usai bencana banjir bandang pada akhir November 2025 yang lalu, sangat berdampak terhadap sebagian masyarakat yang ada di Kota Padang.
Kedua, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengerahkan dua unit mobil truk tangki untuk menyalurkan air bersih kepada warga di Kota Padang, Sumatera Barat.
Dalam sehari, total distribusi mencapai sekitar 70.000 liter air melalui 14 kali pengiriman ke wilayah yang mengalami krisis air.
Ketiga, arus lalu lintas di jalur utama Padang - Solok, tepatnya di kawasan Sitinjau Lauik, masih mengalami kemacetan hingga Sabtu (17/1/2026) malam.
Kepadatan kendaraan terjadi sejak sore hari dan terus berlanjut akibat penerapan sistem buka-tutup arus di beberapa titik rawan.
Simak selengkapnya berikut ini:
Warga terdampak kekeringan berharap pemerintah segera mempercepat perbaikan Bendungan Gunung Nago dan jaringan irigasi yang rusak di Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (17/1/2026).
Kekeringan ini usai bencana banjir bandang pada akhir November 2025 yang lalu, sangat berdampak terhadap sebagian masyarakat yang ada di Kota Padang.
Salah satunya terkait ketersediaan air bersih. Salah satu daerah yang terdampak adalah di Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji.
Selain itu kondisi ini juga bedampak langsung pada aktivitas pertanian dan peternakan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Baca juga: Menjaga Asa Warga Pascabencana, BPBD Padang Distribusikan 70 Ribu Liter Air Bersih per Hari
Wartawan TribunPadang.com, Fajar Alfaridho Herman, di lokasi menyaksikan sejumlah lahan pertanian warga tampak mengering.
Sawah mengalami retak akibat kekurangan air, sementara sebagian permukaannya mulai ditumbuhi lumut.
Kondisi tersebut membuat lahan tidak bisa diolah secara optimal dan mengancam hasil panen petani.
Baca juga: Pascabencana Banjir Bandang, Warga Kuranji Terpuruk: Kolam Tertimbun Pasir, Sawah Mengering
Tak hanya sawah, tanaman perkebunan milik warga juga ikut terdampak. Beberapa pohon kakao terlihat gagal berbuah.
Buah yang sempat tumbuh tampak mengering dan membusuk akibat kuranan air dalam beberapa pekan terakhir.
Salah seorang warga bernama Nurdima, menyebut menyebut, sumur warga pun ikut mengering karena cadangan air tanah terus menurun.
“Sejak proyek Bendungan Gunung Nago rusak akibat banjir bandang, jalur irigasi kami terputus. Sawah kekeringan, sumur juga mengering. Padahal warga di sini rata-rata bergantung pada air irigasi dan sumur,” ujarnya, Sabtu siang.
Baca juga: Sumur Warga Kuranji Kering Pascabanjir Rusak Bendungan Gunung Nago, Safar: Sudah Hampir Sebulan
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera mempercepat perbaikan Bendungan Gunung Nago serta jaringan irigasi yang rusak.
Mereka meyakini, pulihnya aliran irigasi akan berdampak langsung pada ketersediaan air sumur dan keberlangsungan ekonomi masyarakat.
“Kalau irigasi cepat diperbaiki, air pasti kembali mengalir," sebutnya.
Ia menilai dengan diperbaikinya irigasi akan membuat sumur kembali terisi lagi, sawah dan kolam ikan juga bisa dialiri air.
"Kami sangat membutuhkan air bersih untuk kehidupan dan mata pencaharian sehari-hari,” harap Nurdima.
Sementara itu, sawah miliknya yang sempat ditanami padi kini terpaksa dibiarkan karena tidak lagi mendapatkan aliran air.
Menurut Nurdima, kondisi tanah yang kering membuat lahan pertanian tidak bisa diolah.
Baca juga: Sumur Warga Kuranji Kering Pascabanjir Rusak Bendungan Gunung Nago, Safar: Sudah Hampir Sebulan
Tanaman padi yang sudah tumbuh pun terancam gagal panen karena tidak mendapatkan air.
“Sekarang terpaksa dibiarkan dulu. Tanahnya kering, tidak bisa diolah, tanaman padi juga tidak dapat air,” tambahnya.
Kekeringan juga berdampak pada kolam ikan milik warga.
Sejumlah kolam terlihat surut bahkan mengering, dengan dasar kolam yang mulai retak dan dipenuhi pasir sungai yang mengeras menjadi lumpur.
Kondisi ini memaksa sebagian warga mengambil langkah darurat demi menghindari kerugian lebih besar.
Safar, salah seorang warga pemilik lahan pertanian dan tambak ikan, mengatakan krisis air bermula sejak rusaknya Bendungan Gunung Nago akibat banjir bandang beberapa waktu lalu.
Baca juga: Air Sumur Rumah Kering Pasca Bencana, Warga Padang Curhat Kesulitan BAB
Sejak saat itu, aliran air menuju jaringan irigasi warga terganggu hingga akhirnya mengering dalam dua minggu terakhir.
“Sejak bendungan itu rusak, aliran irigasi jadi terganggu. Dua minggu terakhir ini airnya benar-benar mulai mengering," ujarnya.
"Lahan-lahan warga tidak bisa ditanami. Kalau pun ditanam, bibit padi tumbuhnya tidak bagus dan hasilnya kecil-kecil,” lanjutnya.
Safar mengaku sawah miliknya baru saja ditanami sebelum krisis air semakin parah.
Namun, bibit padi yang sudah disiapkan sebagian rusak dan tidak bisa ditanam karena lahan terlalu kering.
Baca juga: Irigasi Rusak dan Sumur Kering, Warga Pasar Ambacang Kuranji Andalkan Bantuan Air Bersih
Sedangkan untuk tambak ikan milik Safar juga terdampak.
Ia terpaksa memanen ikan lebih cepat dari jadwal untuk menghindari kematian massal akibat kekurangan air.
“Tambak ikan saya ikut terdampak. Air kolam semakin surut, jadi saya terpaksa panen dan menjual ikan lebih awal. Kalau dibiarkan, ikan pasti mati karena airnya tidak ada,” pungkasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengerahkan dua unit mobil truk tangki untuk menyalurkan air bersih kepada warga di Kota Padang, Sumatera Barat.
Dalam sehari, total distribusi mencapai sekitar 70.000 liter air melalui 14 kali pengiriman ke wilayah yang mengalami krisis air.
Diketahui bahwa beberapa wilayah di Kota Padang mengalami kekeringan pascabencana banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025, yang lalu.
Baca juga: Pascabencana Banjir Bandang, Warga Kuranji Terpuruk: Kolam Tertimbun Pasir, Sawah Mengering
Akibat kejadian tersebut membuat irigasi rusak sehingga masyarakat mengalami krisis air.
Agar krisis air bersih tidak semakin parah, BPBD Kota Padang menyalurkan air bersih ke rumah warga yang terdampak kekeringan.
Salah satunya di kawasan RT 04/RW 04, Kelurahan Binuang Kampuang Dalam, Kecamatan Pauh, Padang.
Warga sudah mengantre dengan deretan jeriken dan ember untuk menampung air bersih yang disalurkan petugas dengan mobil tangki air di pinggir jalan.
Baca juga: Sumur Warga Kuranji Kering Pascabanjir Rusak Bendungan Gunung Nago, Safar: Sudah Hampir Sebulan
Warga menanti kedatangan truk tangki BPBD Kota Padang yang membawa air bersih.
Sedikitnya ada 30 wadah penampung air milik warga yang mengantre untuk diisi.
Tidak ada batasan jumlah air yang boleh diambil, asalkan warga memiliki wadah yang cukup.
Meskipun dalam kondisi sulit, pemandangan di lapangan justru memperlihatkan ketabahan.
Baca juga: Air Sumur Rumah Kering Pasca Bencana, Warga Padang Curhat Kesulitan BAB
Warga menyambut kucuran air dari selang besar truk BPBD dengan senyuman.
Beberapa warga bahkan menggunakan gerobak untuk mengangkut tumpukan jeriken menuju rumah masing-masing.
Krisis air bersih ini merupakan dampak panjang dari bencana banjir besar yang menghantam pada akhir November 2025 lalu.
Sejak akhir Januari 2026, sumur-sumur warga yang biasanya melimpah, kini mengering total.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang, Al Banna, menyatakan bahwa pihaknya bekerja ekstra keras untuk menutupi defisit air di wilayah terdampak.
Saat ini, Kecamatan Kuranji dan Pauh menjadi fokus utama penyaluran karena dampak kekeringan yang paling parah.
BPBD mengerahkan dua unit mobil tangki yang beroperasi hampir tanpa henti.
Baca juga: 307.936 Jiwa Terdampak Bencana, Mendagri Sebut Sumbar Daerah dengan Pemulihan Tercepat Pascabencana
"Dalam sehari, satu unit mobil bisa melakukan hingga tujuh trip pengiriman. Jika ditotal, ada 14 trip atau sekitar 70.000 liter air yang kami distribusikan setiap hari," jelas Al Banna.
Persiapan penyaluran air bersih dilakukan sejak 04.00 WIB, demi memastikan seluruh warga mendapatkan jatah.
Namun, BPBD juga menerapkan skala prioritas.
Al Banna menegaskan bahwa mereka tidak melayani pengisian tendon (tedmond) di dalam rumah karena dianggap untuk kepentingan pribadi.
Fokus utama adalah pengisian wadah-wadah yang diletakkan di luar agar akses air dapat dinikmati oleh orang banyak secara merata.
Pihak pemerintah kota Padang mengimbau masyarakat yang masih mengalami krisis serupa untuk segera melapor melalui kontak BPBD atau Pusdalops dengan menyertakan alamat yang jelas.
Komitmen ini diharapkan dapat memitigasi risiko kesehatan akibat sanitasi buruk selama masa krisis air berlangsung.
Aris Budiman, salah satu warga setempat, tampak sibuk mengatur wadah penampungan miliknya. Baginya, bantuan air bersih ini adalah napas buatan.
“Sudah tiga kali kami menerima bantuan air, dua kali dari PMI dan hari ini dari BPBD. Sumur kami benar-benar sudah mati total," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Kondisi geologis di wilayah Pauh tampaknya telah berubah drastis pascabencana. Aris menceritakan bahwa sumur miliknya yang memiliki kedalaman 7 meter tidak lagi menyisakan setetes air pun.
Baca juga: Korban Kebakaran Jati Terima BSTT, Wawako Padang Sebut Kerugian Capai Rp 750 Juta
Upaya tetangganya menambah kedalaman sumur hingga 11 meter pun berujung sia-sia; tanah tetap kering kerontang.
Yunimar, warga lainnya, mengungkapkan betapa krusialnya bantuan ini bagi kelangsungan hidup keluarganya.
Menurutnya, air bersih bukan sekadar untuk minum atau memasak, melainkan untuk menjaga sanitasi dasar.
“Air ini sangat penting, apalagi untuk urusan buang air besar. Tanpa air, rumah tidak lagi terasa layak huni," katanya dengan nada getir.
Akar masalah dari kekeringan ini diduga kuat berasal dari rusaknya ekosistem sungai pascabanjir.
Aliran Sungai Batu Busuak yang selama ini menjadi sumber resapan utama bagi sumur-sumur warga di Pauh mengalami perubahan arah dan kerusakan struktur alami.
Baca juga: Irigasi Rusak dan Sumur Kering, Warga Pasar Ambacang Kuranji Andalkan Bantuan Air Bersih
Rusaknya saluran irigasi menyebabkan air tidak lagi terserap ke dalam tanah secara optimal.
Hal ini memicu hilangnya cadangan air tanah yang selama ini menghidupi ribuan warga di Kelurahan Binuang Kampuang Dalam dan sekitarnya.
Warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek berupa pengiriman air tangki.
Perbaikan permanen pada bendungan dan normalisasi aliran Sungai Batu Busuak dianggap sebagai harga mati agar pasokan air tanah kembali pulih seperti sedia kala.
Arus lalu lintas di jalur utama Padang - Solok, tepatnya di kawasan Sitinjau Lauik, masih mengalami kemacetan hingga Sabtu (17/1/2026) malam.
Kepadatan kendaraan terjadi sejak sore hari dan terus berlanjut akibat penerapan sistem buka-tutup arus di beberapa titik rawan.
Berdasarkan informasi dari Admin grup Info Sitinjau Lauik, Jecki, antrean kendaraan tampak mengular dengan kondisi padat merayap, baik dari arah Kota Padang menuju Solok maupun sebaliknya.
Kemacetan dipicu oleh adanya kendaraan yang mengalami kerusakan di kawasan Panorama 1, sehingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Baca juga: Update Lalu Lintas di Sitinjau Lauik Malam Hari Ini: Jalur Padang-Solok Masih Macet
Jecki juga menyampaikan bahwa situasi lalu lintas pada pukul 18.30 WIB masih belum menunjukkan tanda-tanda normal. Ia menyebutkan, kepadatan kendaraan terpantau jelas di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura).
“Informasi terkini sekitar pukul 18.30 WIB, arus lalu lintas di kawasan Tahura terpantau padat merayap. Baik kendaraan dari arah Solok ke Padang maupun dari Padang ke Solok sama-sama mengalami perlambatan,” ujar Jecki.
Ia menjelaskan, kemacetan tersebut disebabkan oleh diberlakukannya sistem buka-tutup arus di Panorama 1.
Hingga malam ini, kendaraan yang mengalami kerusakan di lokasi tersebut belum selesai diperbaiki, sehingga petugas terpaksa mengatur arus secara bergantian.
Baca juga: Kekeringan Picu Gagal Panen, Warga Desak Perbaikan Bendungan Gunung Nago di Padang
“Karena ada kendaraan rusak di Panorama 1 yang belum berhasil ditangani, maka dilakukan buka-tutup arus. Tim masih melakukan pemantauan di lapangan,” tambahnya.
Menurut Jecki, petugas dari Tim Reaksi Cepat (TRC) serta Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat masih berada di lokasi untuk melakukan pengaturan lalu lintas sekaligus memastikan kondisi tetap terkendali.
Sementara itu, seorang warga yang berada di sekitar lokasi, Dedet, mengatakan antrean kendaraan dari arah Padang menuju Solok sudah memanjang hingga sebelum pendakian menuju Panorama 1.
“Ekor macet dari arah Padang sudah sampai sebelum pendakian ke Panorama 1. Kendaraan bergerak pelan dan sesekali berhenti,” kata Dedet.
Baca juga: Menjaga Asa Warga Pascabencana, BPBD Padang Distribusikan 70 Ribu Liter Air Bersih per Hari
Ia juga menyebutkan bahwa dari arah sebaliknya, yakni Solok menuju Padang, antrean kendaraan sudah mencapai kawasan Tahura. Kepadatan ini terjadi merata di kedua arah, sehingga pengendara diminta untuk bersabar dan tetap berhati-hati.
Pengguna jalan diimbau untuk memantau informasi lalu lintas terkini serta mempertimbangkan waktu dan kondisi perjalanan guna menghindari kepadatan yang lebih parah.(*)