SURYA.co.id, KEDIRI - Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri menjadi salah satu wujud nyata program Sekolah Rakyat yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Sekolah berbasis asrama ini bahkan tercatat sebagai salah satu yang pertama beroperasi di Jawa Timur sejak Juli 2025.
Baca juga: Kisah Ayu Rayana Meniti Asa di Sekolah Rakyat Unesa, dari Keluarga Sederhana Menuju Mimpi Sarjana
Keberadaan SRMA 24 Kediri semakin mendapat perhatian setelah Presiden Prabowo meresmikan Sekolah Rakyat secara nasional pada awal Januari 2026.
Di Jawa Timur, Gubernur Khofifah Indar Parawansa juga menyatakan komitmennya untuk menambah delapan Sekolah Rakyat baru pada tahun 2026 ini menyusul antusiasme dan dampak positif dari sekolah yang sudah berjalan.
Guru TIK (Teknologi informasi dan komunikasi) SRMA 24 Kediri sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Nur Kodrad Adi Prastowo menjelaskan bahwa sistem rekrutmen Sekolah Rakyat berlaku sama di seluruh Indonesia.
Sasaran utamanya adalah anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2 atau kelompok ekonomi paling bawah.
"Yang direkrut benar-benar anak dari keluarga kurang mampu. Tidak ada syarat akademik, tidak ada tes kesehatan, selama masuk desil 1 atau desil 2, mereka berhak bersekolah di Sekolah Rakyat," ujar Adi usai ditemui di SRMA 24 yang berlokasi di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kamis (15/1/2026).
Saat ini, SRMA 24 Kediri menampung 100 siswa dalam satu angkatan.
Dari jumlah tersebut, 60 siswa adalah perempuan dan 40 siswa laki-laki.
Seluruh siswa tinggal di asrama dan mengikuti sistem pendidikan terpadu setiap harinya.
Hampir sama dengan pondok pesantren, menurut Adi sistem berasrama menghadirkan banyak pengalaman unik bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Anak-anak yang sebelumnya belum pernah mandiri kini belajar mengatur waktu, menjaga kebersihan, hingga mengurus kebutuhan pribadi sendiri.
"Banyak anak yang sebelumnya belum pernah mencuci baju atau membersihkan kamar. Di sini mereka belajar semuanya dari nol. Awalnya bingung, caranya macam-macam, tapi justru itu proses pembelajaran karakter," katanya.
SRMA 24 Kediri juga memberikan seluruh fasilitas kepada para siswa, mulai dari kebutuhan pribadi, sekolah, hingga laptop untuk menunjang pembelajaran.
Momen pertama kali siswa menerima laptop menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para guru.
Pasalnya banyak dari para siswa bangga namun masih bingung bagaimana proses pengoperasian.
"Wajah mereka berbinar-binar, seperti anak dapat mainan baru. Tapi lucunya, banyak yang belum tahu cara menyalakan atau mengetik. Itu pemandangan yang sangat menyenangkan bagi kami," kenang Ali.
Karena masih berada di kelas X (10), seluruh siswa belum memasuki tahap penjurusan.
Penjurusan IPA dan IPS direncanakan mulai kelas XI (11).
Meski begitu, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini cukup beragam.
Ekstrakurikuler wajib seperti Pramuka menjadi fondasi pembinaan karakter.
Selain itu ada PMR, English Club, olahraga, seni musik, jurnalistik, hingga ekstrakurikuler persiapan sekolah kedinasan yang melatih fisik dan kemampuan akademik siswa.
Kegiatan belajar formal berlangsung mulai Senin hingga Jumat.
Sementara Sabtu dan Minggu diisi dengan kegiatan mandiri, ekstrakurikuler, pembinaan keagamaan, hingga aktivitas luar seperti jogging atau mengunjungi kawasan car free day yang tak jauh dari lokasi asrama.
"Anak-anak memang tetap tinggal di asrama, tapi kegiatannya kami buat menyenangkan. Ada tausiyah, olahraga, dan waktu khusus untuk pengembangan diri. Jadi kegiatan terus ada di sekolah ini," jelas Adi.
Meski menerapkan sistem asrama penuh, SRMA 24 Kediri tetap memberi ruang bagi siswa untuk menjaga kedekatan dengan keluarga.
Para siswa mendapat jatah libur pada waktu-waktu tertentu, seperti libur semester dan hari besar nasional.
Adi menyebut, pada momen tersebut, siswa diperbolehkan pulang ke rumah untuk bertemu orang tua dan keluarga dengan durasi libur yang telah dijadwalkan oleh pihak sekolah.
Setiap hari Minggu, pihak sekolah menjadwalkan kunjungan wali murid secara bergantian agar interaksi tetap terjaga tanpa mengganggu aktivitas belajar siswa.
Kunjungan ini menjadi momen penting bagi siswa untuk melepas rindu sekaligus mendapatkan dukungan moril dari keluarga.
"Ada kunjungan wali murid yang telah terjadwal dan kita fasilitasi alat komunikasi saat Hari Minggu untuk menghubungi keluarga di rumah," ucapnya.
Menurut Adi, angkatan pertama SRMA 24 Kediri menjadi salah satu yang paling membanggakan.
Hingga kini, seluruh siswa tetap utuh berjumlah 100 orang tanpa ada yang keluar atau digantikan.
"Ini di luar ekspektasi. Anak-anaknya patuh, baik, dan punya mimpi besar. Sekitar 75 persen sudah punya cita-cita ingin kuliah, bahkan tahu jurusan dan kampus yang dituju," ujarnya.
Salah satu siswa SRMA 24 Kediri, Refi Aprillian Wiratama (16) mengaku awalnya ragu untuk bersekolah di Sekolah Rakyat.
Ia bingung memikirkan biaya pendidikan dan harus berpisah dengan orang tua.
"Awalnya takut karena harus jauh dari ibu. Tapi orang tua meyakinkan saya. Setelah di sini, saya belajar memanfaatkan waktu dan jadi lebih disiplin," kata Refi.
Refi mengungkapkan rutinitas di asrama mengubah kebiasaan hidupnya selama di rumah dahulu.
Bangun pukul 04.00 WIB, salat berjamaah, senam pagi, hingga bersih-bersih lingkungan menjadi aktivitas harian yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
"Di sini semua dirangkul, nggak ada sirkel-sirkelan. Teman-temannya satu frekuensi, jadi cepat akrab," ujarnya.
Untuk mengatasi rasa kangen di hari-hari biasa, siswa diberikan fasilitas komunikasi melalui telepon genggam pada waktu tertentu.
Biasanya setiap hari Minggu siswa diperbolehkan menggunakan ponsel untuk menghubungi orang tua.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan Refi untuk sekadar bercerita, meminta doa, hingga menyampaikan perkembangan selama tinggal di asrama.
"Dulu sedih dan kangen, tapi sekarang sudah terbiasa. Apalagi setiap minggu masih bisa telepon ibu, dan ada jadwal libur untuk pulang," ujarnya.
Refi juga memiliki mimpi besar setelah lulus dari SRMA 24 Kediri.
Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan ingin menjadi seorang guru.
"Saya ingin mengangkat derajat orang tua dan membahagiakan mereka," ucapnya.
Kebahagiaan juga dirasakan oleh para wali siswa, salah satunya Paidi, warga Dusun Senowo Desa Kencong Kecamatan Kepung.
Pria 50 tahun ini mengaku sangat terbantu dengan adanya Sekolah Rakyat.
Ia adalah wali dari siswa kembar bernama Kristiyanto dan Kristiyono.
"Saya buruh tani serabutan. Setelah lulus SMP, anak-anak sempat tidak ingin melanjutkan sekolah karena kondisi ekonomi. Alhamdulillah ada Sekolah Rakyat," katanya.
Paidi menuturkan, tawaran program Sekolah Rakyat datang dari pendamping PKH sekitar sebulan setelah anak-anaknya lulus SMP.
Meski harus bersekolah di asrama dan jarang pulang, kedua anaknya akhirnya bersedia.
"Doa saya sederhana. Mau jadi apa saja terserah, yang penting bermanfaat bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Program ini sangat membantu kami," ungkapnya.