SURYA.co.id, SURABAYA - Di sebuah rumah sederhana kawasan Gubeng Kertajaya, harapan baru tumbuh dari langkah seorang remaja bernama Ayu Rayana.
Siswi kelas 10 Sekolah Rakyat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu kini menapaki jalan yang sebelumnya terasa mustahil: bersekolah tanpa biaya, tinggal di asrama, dan mungkin kelak berkesempatan kuliah gratis.
Baca juga: Pakar Pendidikan : Sekolah Rakyat di Jawa Timur Perlu Waktu dan Standar Evaluasi Jelas
Bagi ibunya, Sutiatik (55), perjalanan ini bermula tanpa rencana.
Ia bahkan tak mengenal apa itu Sekolah Rakyat hingga petugas sosial mendatangi rumahnya.
“Awalnya nggak ngerti, tahu-tahu ada dari Kemensos datang ke sini. Terus nawarin sekolah rakyat. Saya kembalikan ke Ayu, mau apa nggak, soalnya harus tinggal di asrama tiga tahun,” kenang Sutiatik saat menceritkan awal mausal anaknya bisa masuk Sekolah Rakyat kepada Tribun Jatim dan Harian Surya, Jumat (16/1/26) di kediamannya di kawasan Kertajaya Surabaya.
Keputusan itu tidak mudah. Ayu harus meninggalkan kebiasaan hidup bersama keluarga, belajar mandiri di lingkungan baru, serta jauh dari pengawasan ibunya.
Namun kondisi ekonomi membuat pilihan lain terasa makin sempit.
Sutiatik sendiri sehari-hari bekerja sebagai penjahit rumahan.
Sejak suaminya tak lagi memiliki pekerjaan tetap, penghasilan keluarga kian terbatas.
“Waktu itu keadaan lagi sulit. Kalau masuk sekolah negeri juga butuh biaya. Ya sudah bismillah saja. Ayu juga bilang ingin kuliah, siapa tahu nanti bisa gratis juga,” tuturnya.
Ayu, yang baru lulus dari SMP Giki 2 Surabaya, akhirnya menerima tawaran tersebut.
Ia masuk Sekolah Rakyat pada Juli 2025 dan mulai menjalani kehidupan asrama yang disiplin.
Berbeda dengan sekolah umum, seluruh kebutuhan siswa telah ditanggung.
“Alhamdulillah dapat fasilitas semua. Makan, seragam, peralatan, bahkan laptop. Kita nggak keluar uang sepeser pun,” ujar Sutiatik.
Bagi keluarga kecil itu, bantuan tersebut bukan sekadar meringankan, melainkan menyelamatkan masa depan Ayu.
Sejak SMP, Ayu dikenal aktif dan berprestasi di bidang karate. Ia pernah menyabet piala tingkat provinsi hingga internasional.
“Prestasinya sejak SMP karate dan paskib. Ada piala bergilir pemprov, internasional, dan gubernur,” jelas sang ibu.
Bakat itu terus berlanjut di Sekolah Rakyat, bahkan Ayu kembali meraih juara pada kejuaraan Gojukai kategori kata beregu.
“Lombanya dinilai dari seni dan kekompakan. Kami mainin gerakan kata bertiga,” terang Ayu dengan mata berbinar.
Selain olahraga, pembinaan karakter menjadi warna utama kehidupan di asrama.
Shalat berjamaah lima waktu, kegiatan keagamaan, hingga pembiasaan disiplin menjadi rutinitas.
“Saya pribadi suka, karena ke religiusnya terarah. Shalat lima waktu berjamaah, ada kegiatan malam. Ayu jadi lebih tertata,” kata Sutiatik.
Di Sekolah Rakyat, penggunaan ponsel dibatasi hanya seminggu sekali.
Aturan itu sempat membuat sang ibu cemas.
“Awalnya khawatir, anak sekarang kan nggak pegang HP rasanya gimana. Tapi Alhamdulillah bisa terlewati. Kalau ada apa-apa bisa lewat wali asuh,” ungkapnya.
Justru bagi Ayu, pembatasan tersebut membantunya lebih fokus.
“Lingkungannya seru, kegiatannya bareng-bareng. Jadi nggak kerasa jauh dari rumah,” kata Ayu.
Ia tinggal di asrama putri bersama tiga teman sekamar.
Aktivitas dimulai sejak pukul enam pagi hingga empat sore, dilanjutkan kegiatan ekstrakurikuler.
“Kita satu kamar empat orang. Teman-temannya asyik, kegiatannya juga seru-seru semua,” tambahnya.
Adapun untuk liburnya memakai sistem menyesuaikan libur nasional.
"Saya kalau pulang ya saat libur. Jadi ada liburnya. Kalau tanggal merah pasti libur dan boleh pulang rumah. Seperti saat ini kan libur isra miraj," ucap Ayu.
Mayoritas siswa Sekolah Rakyat berasal dari Surabaya dengan latar belakang keluarga beragam.
Program ini menjadi jaring pengaman bagi anak-anak yang hampir kehilangan kesempatan sekolah.
Ayu termasuk yang beruntung. Sebelumnya ia sempat mencoba masuk SMA khusus olahraga, namun gugur di tahap seleksi karate.
Sekolah Rakyat akhirnya menjadi pelabuhan baru.
Kini ia bercita-cita masuk jurusan IPA dan melanjutkan kuliah.
“Bangga bisa masuk Sekolah Rakyat. Saya jadi bisa bantu ringankan beban orang tua,” ucap Ayu mantap.
Harapan serupa disampaikan Sutiatik.
Ia menggantungkan masa depan putrinya pada janji keberlanjutan program hingga perguruan tinggi.
“Katanya nanti bisa kuliah gratis di Unesa. Itu sangat membantu, karena kuliah swasta sekarang mahal,” ujarnya.
Di sudut ruang tamu rumahnya yang sederhana, beberapa piagam karate tersimpan rapi.
Di sanalah perjalanan Ayu bermula, dari anak kampung yang tekun berlatih, kini menjelma siswi asrama dengan mimpi lebih besar.
Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang transformasi.
Ayu belajar disiplin, religius, dan mandiri.
Sutiatik belajar melepas kekhawatiran, menggantinya dengan doa dan keyakinan.
“Bismillah saja,” kata sang ibu suatu hari ketika melepas Ayu kembali ke asrama. Kalimat sederhana itu kini menjelma kekuatan, mengantar seorang anak Surabaya menjemput masa depannya.