Pesawat ATR 42-500 yang Hilang Kontak di Maros Ditemukan, Tim SAR Cari Korban
January 18, 2026 10:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang sempat hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026), sudah ditemukan pada Minggu (18/1/2026) pagi di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pencarian difokuskan mencari korban dan black box pesawat di Pegunungan Bulusaraung (1.353 -1531 Mdpl), perbatasan Pangkep-Maros-Bone, Sulawesi Selatan.

Lokasi dugaan titik jatuhnya pesawat berlogo Kementerian Kelautan dan Perikanan ini, sebelumnya disebutkan berada di punggung utara dan timur Gunung tertinggi ke-6 di Sulsel, setelah Bawakaraeng (2.830 mdpl) dan Lompobattang (2.874 mdpl).

Namun, dari laporan Jurnalis Kompas TV, Gufran Lamataha, di lokasi, pagi ini Tim SAR terkendala cuaca dan jalur evakuasi yang terjal.

Namun, Tim SAR tetap akan memperluas area pencarian untuk menemukan korban.

"Untuk area akan diperluas, karena korban hingga saat ini belum ditemukan, titik fokusnya ini adalah menemukan titik jatuhnya pesawat dahulu," jelas Jurnalis Kompas TV, Minggu pagi, dikutip dari YouTube Kompas TV.

"Kemudian evakuasi badan pesawat dan akan berkoordinasi lebih lanjut, tim akan terus mencari radius lebih luas lagi untuk mencari jenazah," ujarnya.

Meski terkendala cuaca dan jalur evakuasi yang terjal, jika ada penemuan korban pada hari ini, Tim SAR tetap akan menggunakan jalur pendakian biasa untuk evakuasi korban.

"Walaupun memang ada jalur yang lebih cepat, namun dikhawatirkan jalur yang lebih cepat ini medannya sangat-sangat berbahaya, sehingga tim memutuskan untuk tetap mengevakuasi melalui jalur evakuasi atau jalur pendakian seperti biasa untuk tetap menjaga keamanan tim dan juga proses evakuasi," jelas Gufran.

Pesawat dengan rute Yogyakarta–Makassar tersebut, sebelumnya disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk patroli udara di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI 712 dan ada 7 kru serta 3 penumpang di dalamnya.

Tiga penumpang itu merupakan staf KKP, yakni tim air surveillance dari Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Analisa Pengamat, Penata Muda Tingkat 1 Ferry Irrawan, Penata Muda 1, Deden Mulyana selaku Pengelola Barang Milik Negara, dan Yoga Naufal selaku Operator Foto Udara.

Baca juga: Fakta Pesawat ATR 42-500 Diduga Jatuh di Gunung Bulusaraung: Misi, Kronologi hingga Keterangan Saksi

"Perlu kami sampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut yang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia," kata Sakti dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026) malam.

Kepala Basarnas, Marsdya Mohammad Syafii, juga membenarkan bahwa Pesawat ATR 42-500 itu sedang dalam misi patroli udara.

"Misinya adalah patroli udara sehingga pesawat tersebut memang tidak dalam misi mengangkut penumpang dari Aerodrome dari Jogja ke Makassar," paparnya, Sabtu malam.

Keterangan Saksi

Sebelumnya, 2 pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), yang sedang menikmati pemandangan dari ketinggian, menjadi saksi mata langsung detik-detik kecelakaan pesawat.

Saat kejadian, Reski dan Muslimin berada di puncak Bulusaraung. Tanpa peringatan, sebuah pesawat melintas rendah di hadapan mereka.

“Saya lihat pesawatnya dikikis itu gunung (Bulusaraung), lalu meledak dan terbakar. Sekitar jam 1 siang (13.00 WITA),” kata Reski dengan suara masih bergetar saat menceritakan kembali peristiwa yang ia saksikan, dikutip dari Tribun-Timur.com.

Dalam hitungan detik, pesawat itu menghantam lereng gunung, ledakan disertai api membuat Reski dan Muslimin terpaku ketakutan. 

Reski mengatakan, jaraknya dengan lokasi ledakan hanya sekitar 100 meter.

“Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan,” ujar Reski, alumnus Pondok Pesantren DDI Tobarakka, Siwa, Kabupaten Wajo.

Saat itu, Reski mengaku tidak sempat merekam kejadian secara utuh karena semuanya berlangsung sangat cepat. 

Setelah ledakan terjadi, kata Reski, dia menemukan sejumlah serpihan badan pesawat yang memuat logo Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta beberapa dokumen yang ikut terhambur.

Penemuan itu sempat direkam Reski menggunakan ponselnya sebagai bukti awal.

Karena dilanda rasa takut dan khawatir akan kondisi sekitar, Reski dan Muslimin akhirnya memutuskan turun gunung.

Mereka kembali ke wilayah Balocci dan tiba setelah salat Ashar, tapi membawa kabar duka dan serpihan dari tragedi kecelakaan pertama di dunia aviasi Tanah Air awal 2026.

Kronologi 

Pesawat dengan registrasi PK-THT itu dilaporkan kehilangan komunikasi setelah menerima arahan terakhir dari Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC).

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa pesawat jenis ATR 42-500 buatan tahun 2000 tersebut dipiloti oleh Capt Andy Dahananto dan sedang melakukan pendekatan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Namun, dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. 

“Dalam proses pendekatan ke landasan pacu RWY 21, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga ATC memberikan arahan koreksi posisi,” ujar Lukman, dikutip dari Tribun-Timur.com.

ATC kemudian menyampaikan beberapa instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.

“Namun setelah penyampaian arahan terakhir, komunikasi dengan pesawat terputus dan dinyatakan loss contact,” jelasnya.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, ATC Makassar langsung mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) dan berkoordinasi dengan Basarnas serta aparat kepolisian.

AirNav Indonesia Cabang MATSC juga segera menghubungi Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat dan Polres Maros untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan.

Daftar Korban

Termasuk 3 staf KKP, berikut adalah daftar lengkap korban jatuhnya Pesawat ATR 42-500:

Tim air surveillance itu dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).

  1. Ferry Irrawan, Penata Muda Tingkat I, jabatan Analis Kapal Pengawas
  2. Deden Mulyana, Penata Muda Tingkat I, jabatan Pengelola Barang Milik Negara
  3. Yoga Nauval, Operator Foto Udara

7 kru yang berada di dalam pesawat:

  1. Capt. Andy Dahananto
  2. Yudha Mahardika
  3. Hariadi
  4. Franky D Tanamal
  5. Junaidi
  6. Florencia Lolita
  7. Esther Aprilita S

(Tribunnews.com/Rifqah) (Tribun-Timur.com/Nurul)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.