TRIBUNGORONTALO.COM – Sosok Muh Farhan Gunawan kini menjadi sorotan setelah namanya tercatat sebagai Co-Pilot pesawat ATR 42-500.
Pesawat milik Indonesia Air Transport tersebut jatuh di perbatasan Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026).
Farhan bukanlah nama asing bagi lingkungan pendidikan di Makassar. Ia dikenal sebagai alumni berprestasi Sekolah Islam Athirah, lembaga pendidikan yang telah melahirkan banyak tokoh muda.
Eks Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, mengenang Farhan sebagai sosok yang aktif, disiplin, dan memiliki semangat tinggi dalam organisasi.
“Farhan adalah anak yang selalu tampil di depan, punya jiwa kepemimpinan sejak remaja,” ujarnya seperti dilansir TribunGorontalo.com dari Tribun-Timur.com, Minggu (18/1/2026).
Di kampus penerbangan, Farhan tercatat sebagai taruna yang berprestasi. Ia dikenal tekun, rajin, dan memiliki cita-cita besar untuk menjadi penerbang profesional.
Perjalanan kariernya kemudian membawanya bergabung dengan Indonesia Air Transport. Sebagai Co-Pilot, Farhan dipercaya mengoperasikan pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT.
Namun, nasib berkata lain. Pesawat yang ia awaki bersama Kapten Andy Dahananto hilang kontak sebelum ditemukan jatuh di wilayah hutan Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Pangkep.
Tragedi ini membuat banyak pihak terkejut, terutama keluarga besar Sekolah Islam Athirah yang mengenal Farhan sebagai sosok inspiratif. Doa dan dukungan terus mengalir bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kisah Farhan menjadi potret perjalanan seorang anak muda Makassar yang meniti mimpi hingga ke kokpit pesawat, sebelum akhirnya namanya tercatat dalam tragedi penerbangan di Sulawesi Selatan.
Farhan lahir dan besar di Makassar. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan aktif dalam berbagai kegiatan sekolah.
Di lingkungan keluarga, Farhan tumbuh dengan nilai-nilai religius dan disiplin. Orang tuanya selalu menekankan pentingnya pendidikan dan kerja keras.
Semasa SMP, Farhan sudah menunjukkan minat besar pada dunia organisasi. Ia aktif dalam kegiatan OSIS dan dipercaya menjadi ketua.
Kepemimpinannya di SMP membuatnya dikenal luas di kalangan guru dan teman-teman. Ia sering menjadi penggerak kegiatan sosial dan akademik.
Saat melanjutkan ke SMA Athirah, Farhan kembali dipercaya menjadi Ketua OSIS. Kepemimpinannya semakin matang, dengan program-program yang memberi dampak positif bagi sekolah.
Guru-guru mengenang Farhan sebagai siswa yang tidak hanya pandai, tetapi juga rendah hati. Ia selalu menyapa dengan senyum dan mudah bergaul dengan siapa saja.
Setelah lulus SMA, Farhan memilih jalur penerbangan. Keputusan ini didukung penuh oleh keluarga yang melihat semangatnya untuk menjadi pilot.
Di Akademi Penerbangan Indonesia, Farhan menempuh pendidikan dengan penuh dedikasi. Ia dikenal sebagai taruna yang disiplin dan berprestasi.
Farhan kemudian bergabung dengan Indonesia Air Transport. Sebagai Co-Pilot, ia mulai mengoperasikan pesawat ATR 42-500.
Pesawat ATR 42-500 dikenal sebagai pesawat turboprop yang digunakan untuk rute-rute regional. Farhan merasa bangga bisa menjadi bagian dari kru penerbangan tersebut.
Namun, pada Sabtu (17/1/2026), pesawat yang ia awaki bersama Kapten Andy hilang kontak. Tragedi ini terjadi di kawasan pegunungan karst Bulusaraung, perbatasan Maros–Pangkep.
Kabar jatuhnya pesawat membuat keluarga dan sahabat Farhan terpukul. Mereka mengenang sosoknya sebagai anak muda yang penuh semangat.
Sekolah Islam Athirah juga menyampaikan duka mendalam. Alumni dan guru mengingat kembali kiprah Farhan semasa sekolah.
Syamril, eks Direktur Athirah, mengatakan Farhan adalah sosok yang selalu tampil di depan.
“Ia punya jiwa kepemimpinan sejak remaja,” ujarnya.
Kisah Farhan menjadi inspirasi bagi banyak anak muda. Ia menunjukkan bahwa mimpi bisa diraih dengan kerja keras dan disiplin.
Tragedi ini juga menjadi pengingat betapa beratnya tugas seorang penerbang. Risiko selalu ada, terutama di wilayah dengan cuaca ekstrem.
Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian korban. Hingga kini, serpihan badan pesawat telah ditemukan di puncak Gunung Bulusaraung.
Baca juga: Badan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Ditemukan Tim SAR, Cuaca Jadi Kendala Evakuasi
Cuaca buruk dan medan ekstrem menjadi kendala utama evakuasi. Helikopter sulit mendarat karena kabut tebal dan angin kencang.
Pasukan darat berhasil mencapai titik temuan dan sedang melakukan identifikasi lebih lanjut.
Pangdam XIV Hasanuddin menegaskan bahwa fokus utama adalah evakuasi korban. Jalur darat menjadi opsi jika cuaca tidak memungkinkan.
Kakansar Makassar menambahkan bahwa 1.200 personel gabungan dikerahkan untuk menyisir area.
Operasi SAR ini melibatkan Basarnas, TNI, Polri, AirNav, Paskhas, serta masyarakat setempat.
Data AirNav menunjukkan sinyal terakhir pesawat berada di perbatasan Maros–Pangkep.
Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan pegunungan karst yang dikenal memiliki cuaca fluktuatif.
Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian 1.353 mdpl dan menjadi bagian dari Taman Nasional Bantimurung.
Akses menuju lokasi sangat terbatas, hanya bisa ditempuh melalui jalur pendakian.
Kesaksian pendaki lokal menambah gambaran mencekam tragedi ini. Mereka mendengar suara mesin pesawat sebelum ledakan keras.
Asap hitam pekat menyeruak dari balik kabut setelah benturan.
Serpihan pesawat berhamburan hingga ke jalur pendakian. Pendaki menemukan dokumen dan peta navigasi yang tercecer.
Barang-barang tersebut diserahkan ke posko pendakian sebagai bukti awal.
Informasi dari saksi mata menjadi penting untuk mempercepat pencarian.
Hingga kini, kotak hitam pesawat masih menjadi target pencarian utama.
Alat ini diyakini bisa mengungkap penyebab pasti kecelakaan. Masyarakat diminta tidak mendekat ke lokasi demi keamanan.
Garis pembatas telah dipasang untuk menjaga sterilisasi area. Operasi SAR diperkirakan berlangsung beberapa hari ke depan.
Cuaca buruk masih menjadi tantangan utama. Namun, semangat tim SAR tidak surut.
Keluarga Farhan terus menanti kabar terbaru dari lapangan. Doa dan dukungan mengalir dari berbagai pihak.
Kisah Farhan menjadi potret anak muda Makassar yang meniti mimpi hingga ke kokpit pesawat.
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam, tetapi juga inspirasi tentang semangat dan dedikasi.