TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kinerja ekonomi Tiongkok pada 2025 dinilai sangat berbeda dari narasi resmi pemerintah yang menyebut pertumbuhan sekitar 5 persen.
Sejumlah perkiraan independen menyebutkan pertumbuhan terbaik ekonomi Tiongkok hanya berada di kisaran 2,5 sampai 3 persen, atau sekitar setengah dari target resmi pemerintah.
Berbeda dengan pernyataan Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa pemerintah akan menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih proaktif pada 2026 untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang di tengah berbagai tekanan domestik.
Dalam acara jamuan teh Tahun Baru bersama pejabat tinggi Partai Komunis China, Rabu (31/12/2025), Xi menyampaikan keyakinannya bahwa perekonomian China akan mampu mencapai target pertumbuhan sekitar 5 persen pada tahun ini.
Meskipun momentum cenderung melemah menjelang akhir tahun akibat konsumsi rumah tangga yang masih lesu, tekanan deflasi, serta krisis berkepanjangan di sektor properti.
Pada awal 2025, pemerintah di Beijing kembali menegaskan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sekitar 5 persen, dengan mengandalkan permintaan domestik dan dukungan kebijakan. Data resmi hingga kuartal ketiga mencatat pertumbuhan tahunan 5,2 persen.
Namun, laporan komprehensif dari Rhodium Group yang berjudul Ekonomi Tiongkok: Penyesuaian Ukuran 2025, Menatap ke Depan hingga 2026 menyampaikan penilaian yang jauh lebih pesimistis.
“Pertumbuhan PDB riil Tiongkok pada 2025 kemungkinan hanya berada di kisaran 2,5 hingga 3,0 persen,” tulis Rhodium Group, dikutip dari Mizzima, Minggu (18/1/2026).
“Perlambatan pada paruh kedua tahun ini jauh lebih tajam dibandingkan yang tercermin dalam statistik resmi,” lanjutnya.
Rhodium menilai investasi, khususnya investasi aset tetap, bukan sekadar melambat, melainkan mengalami kontraksi signifikan.
“Kami melihat runtuhnya investasi, terutama di sektor properti dan infrastruktur, sebagai faktor utama melemahnya pertumbuhan,” tulis laporan tersebut.
Menurut analisis Rhodium, investasi aset tetap—yang mencakup belanja pabrik, infrastruktur, real estat, dan aset jangka panjang lainnya—menjadi titik lemah utama ekonomi Tiongkok sepanjang 2025.
Setelah sempat meningkat di awal tahun, investasi tersebut memasuki wilayah negatif pada pertengahan tahun dan terus memburuk.
Data resmi juga menunjukkan penurunan tajam investasi sektor properti, yang menyeret pembentukan modal secara keseluruhan.
Kondisi ini memperlihatkan rapuhnya salah satu pilar utama model pertumbuhan Tiongkok.
Rhodium Group menekankan bahwa kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari tekanan struktural yang telah lama ada.
“Tidak ada contoh ekonomi besar yang mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan tinggi dalam kondisi deflasi yang berkelanjutan,” tulis laporan itu, merujuk pada tren deflasi yang telah dialami Tiongkok selama beberapa kuartal terakhir.
Meski inflasi utama Tiongkok menunjukkan kenaikan terbatas menjelang akhir 2025, tekanan deflasi masih terlihat jelas di tingkat produsen.
Indeks harga produsen tercatat terus menurun selama lebih dari tiga tahun, mengindikasikan lemahnya permintaan domestik.
Belanja konsumen hanya tumbuh marginal, dengan penjualan ritel melambat dibandingkan awal tahun. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga dan dunia usaha.
Dalam laporan terpisah, Dana Moneter Internasional (IMF) juga mengakui lemahnya permintaan domestik di Tiongkok.
“Permintaan domestik di Tiongkok masih tertahan, terutama akibat melemahnya sektor properti dan rendahnya kepercayaan konsumen,” tulis IMF dalam pembaruan proyeksi ekonominya.
Rhodium menyoroti inkonsistensi antara penurunan investasi aset tetap dan kontribusi pembentukan modal bruto terhadap PDB yang dilaporkan pemerintah.
Ada derbedaan mencolok antara angka resmi dan estimasi independen terkait transparansi dan keandalan data ekonomi Tiongkok.
“Kesenjangan antara data investasi dan angka pertumbuhan resmi terlalu besar untuk diabaikan,” tulis Rhodium, seraya menilai bahwa statistik resmi kemungkinan “tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi yang mendasarinya.”
Meski otoritas Tiongkok jarang menanggapi kritik tersebut secara terbuka, perbedaan yang terus melebar dinilai memperkuat keraguan di kalangan investor dan analis global.
Rhodium Group memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2026, jauh di bawah proyeksi IMF yang memperkirakan sekitar 4,5 persen.
Perlambatan ini dinilai mencerminkan keterbatasan stimulus yang sangat bergantung pada dukungan kredit dan fiskal.
IMF sendiri mengingatkan bahwa tantangan struktural Tiongkok bersifat jangka panjang.
“Tanpa reformasi struktural yang lebih dalam, pertumbuhan Tiongkok berisiko terus melambat dalam beberapa tahun ke depan,” tulis IMF.
Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, perlambatan Tiongkok berpotensi berdampak signifikan terhadap pasar global dan rantai pasok internasional.
Stabilitas sosial juga menjadi prioritas utama di tengah upaya pemulihan ekonomi.
Pernyataan Xi sejalan dengan berbagai langkah terbaru pemerintah untuk memperkuat pendapatan masyarakat, serta mendukung konsumsi dan investasi sebagai motor utama pertumbuhan.
Pemerintah pusat telah mengalokasikan dana sebesar 62,5 miliar yuan dari obligasi khusus negara untuk mendukung program tukar tambah barang konsumsi pada tahun depan, sebagai upaya memacu daya beli rumah tangga.
Selain itu, lembaga perencana ekonomi nasional telah merilis rencana investasi awal 2026, termasuk dua proyek konstruksi besar dengan dukungan anggaran pusat sekitar 295 miliar yuan.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat investasi dan menjaga laju pemulihan ekonomi.
Dengan kebijakan yang lebih agresif dan fokus pada penguatan permintaan domestik, Beijing menunjukkan komitmennya mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah tantangan struktural yang masih membayangi.
SUMBER