Curhatan Terakhir Esther Aprilita Pramugari Korban Pesawat ATR 42-500, Chat Terakhir ke Ibu Disorot
January 19, 2026 02:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Esther Aprilita, pramugari asal Bogor, Jawa Barat, menjadi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh.

Sebelum insiden, Esther Aprilita sempat mengirim pesan terakhir kepada ibunya.

Chat tersebut kini menjadi sorotan publik dan menyentuh hati banyak orang.

Baca juga: Sosok Farhan Gunawan, Co-Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Maros-Pangkep, Rekam Jejaknya Moncer

 

Pramugari asal Bogor bernama Esther Aprilita Sianipar sempat menghubungi orangtuanya sebelum jadi korban pesawat ATR 42-500.

Karenanya hingga kini ayah dan ibu Esther masih menunggu kabar pencarian pesawat milik Indonesia Air Transport tersebut.

Diwartakan sebelumnya, pesawat yang ditumpangi Esther dan enam awak kabin lainnya serta tiga penumpang lainnya dikabarkan jatuh dan meledak di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Informasi terbaru dari Tim SAR telah ditemukan satu korban dalam kondisi meninggal dunia.

Jenazah korban kabarnya terdeteksi berada di tebing gunung dan masih dalam proses evakuasi.

Tak cuma itu, Tim SAR gabungan juga berhasil menemukan ekor dan puing-puing pesawat lainnya di bagian puncak serta tebing Gunung Bulusaraung pada Minggu (18/1/2026).

PESAWAT INDONESIA AIR - Ilustrasi pesawat hilang kontak. Pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport dikabarkan hilang kontak di sekitar wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulsel, Sabtu (17/1/2026), pukul 13.17 wita.
PESAWAT INDONESIA AIR - Ilustrasi pesawat hilang kontak. Pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport dikabarkan hilang kontak di sekitar wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulsel, Sabtu (17/1/2026), pukul 13.17 wita. (INDONESIA-AIR.COM)

Chat terakhir korban

Sementara Tim SAR masih terus mencari keberadaan korban lainnya, keluarga salah satu korban, Esther Aprilita Sianipar menanti keajaiban.

Orangtua Esther yang tinggal di kawasan Rancamaya, Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor pun mengurai cerita.

Ibunda Esther, J Siburian mengaku bahwa ia masih berkirim pesan dengan sang putri pada Jumat (16/1/2026).

Dalam chat tersebut, Esther mengabari sang mama kalau dia sedang berada di Jogja dalam rangka tugas.

Esther pun aktif membagikan lokasinya ke sang mama.

"Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya 'aku sudah di sini mah, di sini mah'," ujar J Siburian.

Namun pada hari kejadian yakni pada Sabtu, Esther sama sekali tak ada kabar.

Diungkap ayah Esther, Adi Sianipar, putrinya tidak membalas chat-nya satu hari kemudian.

Padahal di hari Sabtu itu Adi mengaku ingin menjemput Esther pulang sama-sama ke Bogor.

"Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA dia karena saya lagi ke Jakarta, dia kan kos di Jakarta, jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif," pungkas Adi dalam wawancaranya di Kompas TV.

Hingga akhirnya pada Sabtu sore, Adi dikabari oleh perusahan tempat Esther bekerja.

Bahwa pesawat yang ditumpangi Esther hilang kontak.

"Saya dihubungi sama kantor IAT tempat dia bertugas. Mulai ditelepon tapi karena lagi di jalan, enggak saya angkat. Dia WA, bahwasanya pesawat yang ditumpangi Esther dari Jogja-Makassar lost contact," imbuh Adi.

PESAWAT JATUH - Esther Aprilita pramugari korban pesawat ATR 42-500 (YouTube/TribunBogor)

Curhat terakhir

Lebih lanjut, Adi pun mengurai curhatan terakhir Esther sebelum jadi korban pesawat jatuh.

Kata Adi, Esther sempat cerita soal alasannya tak bertugas dari pertengahan hingga akhir Desember.

"Dari pertengahan bulan 12 kan dia enggak terbang, dari pertengahan Desember sampai akhir Desember. Karena pesawatnya itu lagi mau dipasang kamera di bawah pesawat itu katanya, kamera cctv, jadi mereka enggak terbang. Jadi masuk Januari mereka terbang lagi," kata Adi.

Terkait dengan alasan Esther bisa ada di Jogja, Adi mengaku tidak tahu.

Karena yang ia tahu, putrinya itu stand by di Jakarta.

"Dia kan stand by di Halim, saya enggak tahu juga kenapa dari Jogja ke Makassar," ujar Adi.

Hingga kini Adi masih optimis Esther bisa dapat keajaiban.

Keluarga masih harap-harap cemas menanti kabar soal kondisi Esther.

"Kami berharap masih ada mukjizat. Karena sampai sekarang kan belum ditemukan. Kami berharap mereka ditemukan dalam keadaan selamat," pungkas Adi.

(TrbunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.