TRIBUNJATIM.COM - Hari Minggu adalah yang santai bagi para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Banyuwangi. Seperti yang terlihat pada Minggu (18/1/2025).
Para siswa mengenakan pakaian bebas asyik menikmati waktu berlibur.
SRT 2 Banyuwangi menempati kompleks Balai Diklat PNS Licin di Desa Tamansari, Kecamatan Licin.
Di beberapa area kompleks pada akhir pekan yang sejuk itu, terlihat beberapa siswa duduk mengobrol bersama orang tua masing-masing.
Minggu menjadi satu-satunya hari di kalender yang bisa dimanfaatkan para siswa untuk bertemu dengan keluarga.
Hari itu jadwal kunjungan wali murid.
Orang tua siswa SRT dari berbagai kecamatan di Banyuwangi datang membesuk putra-putri mereka yang mengikuti pendidikan di sekolah bentukan Presiden Prabowo Subianto itu.
Baca juga: Awalnya Tak Direstui Ibu karena Dibilang Mirip Taruna, Atiqoh Justru Kerasan di Sekolah Rakyat
Sudah sekitar tujuh bulan siswa SRT 2 Banyuwangi menetap di asrama.
Setiap hari, mereka menjalani rutinitas yang tak pernah sekalipun terlewat.
Bangun subuh, sembayang, mandi, sarapan, persiapan sekolah, hingga tidur.
Lambat laun, rutinitas itu membuat mereka menjadi disiplin.
Jika tujuh bulan lalu para siswa harus dibangunkan untuk salat subuh, kini tak perlu.
Wali asrama hanya tinggal berkeliling kamar memastikan setiap anak sudah siap untuk berjamaah di musala.
Perubahan itu terbawa bahkan ketika para siswa libur panjang semester dan pulang ke rumah masing-masing.
Mustakim (42), orang tua siswa SRT 2 Banyuwangi, mengakui hal tersebut.
Selama sekitar 10 hari sang anak, Firman Pratama (13), berada di rumah, Mustakim melihat beberapa perubahan.
"Perubahannya pada hal-hal yang positif. Saya rasa anaknya jadi lebih baik, lebih disiplin," katanya.
Selama di rumah, Firman banyak melakukan kegiatan yang sebelumnya tak pernah ia jalani sebelum bersekolah di SRT 2 Banyuwangi.
Contoh sederhana, Firman rutin mencuci baju dan melipatnya sendiri.
Ia juga merapikan tempat tidurnya tanpa diminta.
"Dulu sebelum masuk sini, masih diurus orang tua, sekarang sudah tahu tanggung jawab," ucap warga Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro itu.
Baca juga: Sekolah Rakyat Tuban: Harapan Baru Anak Putus Sekolah dan Wali Murid Kurang Mampu
Bagi Mustakim dan istrinya, Nur Hainiyah (37), melepas sang anak untuk bersekolah di SRT memang tak mudah. Sepekan awal di tinggal sang anak, mereka merasa sunyi.
Hainiyah sering kali menangis ketika mengkhawatirkan kondisi putra sulung itu.
"Awalnya sempat ragu Firman sekolah di sini. Tapi setelah disurvei dan dijelaskan soal sekolah rakyat, akhirnya saya setuju," ujarnya.
Kekhawatiran orang tua pupus setelah mengetahui anak mereka kerasan tinggal di SRT.
Hal tersebut membuat mereka lebih nyaman dan tega meninggalkan sang anak tinggal lama di asrama.
"Saya juga senang tinggal di sini," kata Firman, yang kini badannya lebih berisi jika dibandingkan saat sebelum ia masuk ke SRT.
Tantangan di SRT 2 Banyuwangi tak hanya dihadapi oleh siswa dan orang tua.
Para penanggung jawab anak-anak di SRT juga punya tantangan tersendiri.
Mereka adalah para wali asuh, wali asrama, dan tenaga pendidik.
SRT berisi 125 siswa yang terdiri dari 50 siswa SMA, 50 SMP, dan 25 SD. Mereka didampingi oleh 13 wali asuh, 5 wali asrama dan 22 guru.
Seperti namanya, wali asuh bertugas untuk mengasuh para siswa SRT di luar pembelajaran sekolah.
Mereka yang bertanggung jawab terhadap kepribadian para anak didik. Tiap wali asuh membawahi antara 9 hingga 10 siswa.
Sementara wali asrama bertugas untuk mengatur keasramaan.
Mereka menyediakan peralatan dan kebutuhan anak selama di asrama serta mengatur jadwal keseharian.
Tanggung jawab dari sisi akademik dan pembelajaran menjadi tanggung jawab para guru.
Salah satu wali asuh SRT 2 Banyuwangi, Rio Dicky P mengatakan, butuh waktu yang tak singkat untuk "meluluhkan" hati para siswa sehingga mereka mau tertib dan berdisiplin.
Sepekan pertama tinggal di SRT, para siswa masih diizinkan untuk memegang gadget sebagai tahap perkenalan asrama baru.
Sepekan setelahnya, penggunaan gadget mulai dibatasi hanya untuk akhir pekan.
"Setelah itu, tidak ada lagi anak-anak yang bermain gadget. Sekarang mereka sudah terbiasa dan asyik tinggal di asarama," kata Rio.
Bagi Rio, hanya pendekatan dari hati ke hati yang bisa membuat para siswa SRT nyaman dan merasa aman.
Pendekatan itu yang membuat mereka kini terbiasa disiplin tanpa harus diminta.
"Contoh sederhana saja, dulu anak-anak kalau bangun tidur, kasurnya pasti berantakan. Sekarang tidak. Mereka langsung membereskannya sendiri dengan kesadaran tanpa harus diminta," cerita Rio.
Di sekolah rakyat, para anak juga terlihat memiliki perilaku yang sopan.
Setiap bertemu dengan wali asuh, wali asrama, guru, atau bahkan orang baru, mereka tak segan untuk menyalami.
"Bagi saya yang paling terlihat berbeda adalah attitude-nya. Juga fisiknya," ungkap Rio.
Baca juga: Cerita Abel Azarifa, Dari Tak Betah Asrama hingga Bangga Jadi Keluarga Sekolah Rakyat Surabaya
Di SRT, para siswa makan tertib tiga kali sehari. Lauknya juga bergizi.
Setiap makan, selalu tersedia salah satu antara telur, ayam, atau ikan.
Makanan juga belum termasuk jatah cemilan yang diberikan setiap hari.
"Anak-anak banyak yang seragam yang didapat awal masuk sini, sekarang sudah tidak muat. Saya sendiri berat badan juga naik beberapa kilogram," kelakarnya.
Bagi ayah satu anak itu, menjadi wali asuh di SRT 2 Banyuwangi adalah pengalaman yang berharga.
Ia belajar banyak hal tentang memahami anak-anak dengan berbagai latar belakang yang berbeda, yang keseluruhannya berasal dari keluarga kelas ekonomi bawah.
"Anak-anak di sini adalah anak usia bermain dan belajar. Kalau wali tidak bisa sabar dan telaten, bisa malah tantrum sendiri," guyon Rio.
Satu hal yang membuat Rio dan wali-wali lain merasa bangga adalah ketika mereka melihat anak didik berprestasi.
Para siswa yang sebelumnya minder dengan kehidupan masing-masing menjadi berani tampil dan berhasil.
Pada peyelenggaraan Festival Senandung Anak Bangsa 2025, tim hadroh SRT 2 Banyuwangi meraih juara pertama.
Salah satu siswanya juga menjadi pemenang dalam kompetisi kaligrafi pada event tersebut, sebuah event yang digelar antar SRT yang ada di Jatim dan daerah lain.
Pada event peringatan hari ibu di tingkat kabupaten, salah satu siswa SRT 2 Banyuwangi juga mendapat penghargaan untuk peringkat keempat.