Cegah Child Grooming, Ini Saran Psikolog UMY untuk Para Orang Tua
January 19, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Belakangan jagat maya digegerkan oleh buku yang ditulis oleh Aurelie Moeremans.

Dalam buku yang berjudul ‘Broken Strings’, aktris blasteran Belgia dan Indonesia tersebut menceritakan pengalamannya sebagai korban child grooming.

Ketika berusia 15 tahun, Aurelie memiliki kekasih yang jauh lebih tua berusia 29 tahun.

Dalam hubungan tersebut, Aurelie mendapatkan kekerasan verbal, fisik, hingga seksual.

Menurut Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Cahyo Setiadi Ramadhan, kisah Aurelie saat remaja menjadi gambaran relasi antara orang dewasa dan anak dapat dibangun secara perlahan, hingga menciptakan ketergantungan emosional yang berbahaya.

Ia menilai pola tersebut merupakan karakteristik utama child grooming.

Dalam praktik ini, pelaku secara bertahap membangun kedekatan emosional dengan anak sebelum akhirnya memanfaatkan relasi tersebut untuk kepentingan pribadi.

“Child grooming dilakukan melalui proses yang perlahan dan manipulatif. Pelaku berupaya menciptakan ketergantungan emosional anak. Ketika anak sudah merasa aman dan bergantung, di situlah pelaku mulai mengambil keuntungan dari relasi tersebut, yang paling sering berujung pada eksploitasi seksual,” katanya, Senin (19/1/2026).

Ironisnya, praktik child grooming sering tidak disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar.

Hal ini terjadi karena pelaku kerap menampilkan diri sebagai sosok yang terlihat peduli, suportif, dan dapat dipercaya.

“Pelaku biasanya ramah, perhatian, mau mendengarkan keluh kesah anak, serta memberikan validasi emosional. Dari luar, ia tampak seperti orang dewasa yang baik. Padahal, di balik itu terdapat motif yang tidak sehat dan berpotensi merusak perkembangan psikologis anak,” sambungnya.

Cahyo mengungkapkan korban child grooming berisiko mengalami dampak psikologis jangka panjang. 

Pada fase awal, anak sering mengalami kebingungan emosional, rasa tidak nyaman, dan konflik batin yang kemudian berkembang menjadi trauma.

Dalam jangka panjang, korban dapat mengalami penurunan kepercayaan diri, kecemasan berlebih, kesulitan membangun relasi yang sehat, hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD. 

“Korban memiliki rasa bersalah karena merasa tidak mampu menolak atau melawan, sering terbawa hingga korban dewasa,” ungkapnya.

Ia menilai peran orangtua dan lingkungan memiliki peran penting untuk mencegah child grooming.

Orang tua dan lingkungan terdekat perlu membangun kedekatan emosional yang sehat dengan anak. 

Kedekatan tersebut menjadi benteng utama agar anak tidak mencari pemenuhan emosional dari pihak luar yang berpotensi berbahaya.

“Anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan diri, bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh, serta keberanian untuk mengatakan tidak. Dengan pendampingan emosional yang kuat, orang dengan niat tidak baik akan lebih sulit memasuki dunia anak,” pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.