Kenali Gejala Kanker pada Anak Sejak Dini Ini yang Harus Diwaspadai Orangtua
January 19, 2026 08:27 PM

TRIBUNJABAR.ID - Kanker tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat dialami oleh anak sejak usia bayi.

Dokter Anak Konsultan Hematologi-Onkologi, dr. Anne Susanty, Sp.A(K)., M.Kes, menyebut pentingnya peran orangtua dalam mengenali gejala kanker pada anak sejak dini agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Menurut dr. Anne, kanker pada anak adalah kanker yang terjadi pada usia di bawah 18 tahun. Jenis dan karakteristiknya berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Perbedaan tersebut terlihat dari jenis kanker yang muncul, pola pertumbuhan sel kanker, hingga tata laksana penanganannya.

Dokter Anak Konsultan Hematologi-Onkologi, dr. Anne Susanty, Sp.A(K)., M.Kes,
Dokter Anak Konsultan Hematologi-Onkologi, dr. Anne Susanty, Sp.A(K)., M.Kes,

“Pada anak, jenis kanker yang paling sering ditemukan berbeda dengan orang dewasa. Pola pertumbuhan dan respons pengobatannya juga tidak sama,” ujarnya, Kamis (8/1/2026). 

dr. Anne mengutip, data menunjukkan bahwa kasus kanker pada anak di Indonesia masih tergolong tinggi. Pada tahun 2020, lebih dari 11.000 anak di Indonesia terdiagnosis kanker untuk pertama kalinya.

Santosa Hospital Bandung Central
Santosa Hospital Bandung Central (Istimewa)

Sementara itu, laporan GLOBOCAN tahun 2022 mencatat lebih dari 400.000 anak di Indonesia hidup dengan kanker.

"Adapun jenis kanker anak yang paling banyak ditemukan adalah leukemia," imbuhnya. 

Setelah itu diikuti oleh retinoblastoma atau kanker mata. Selain itu, terdapat pula jenis kanker lain seperti osteosarkoma atau kanker tulang, neuroblastoma, limfoma, dan jenis keganasan lainnya.

"Salah satu tantangan utama dalam mendeteksi kanker pada anak adalah gejalanya yang sering kali menyerupai penyakit infeksi biasa." 

Beberapa gejala umum yang kerap muncul antara lain berat badan anak tidak bertambah, anak tampak pucat atau mengalami anemia, munculnya perdarahan di beberapa bagian tubuh, adanya benjolan, serta demam yang naik turun tanpa sebab yang jelas.

“Gejala kanker pada anak bersifat tidak spesifik dan sering baru terlihat jelas pada stadium lanjut. Pada tahap awal, keluhan ini sering disalahartikan sebagai infeksi biasa,” jelasnya.

Kondisi tersebut diperburuk pada anak usia kecil yang belum mampu menyampaikan keluhan dengan baik. Anak sering kali hanya tampak rewel, sering menangis, dan tidak mau makan, sehingga orangtua tidak menyadari adanya masalah yang lebih serius.

Meski demikian, terdapat sejumlah tanda yang seharusnya membuat orangtua lebih waspada. 

dr. Anne menyebutkan demam berkepanjangan tanpa sebab yang jelas, penurunan berat badan, nafsu makan yang berkurang, anak tampak pucat, muncul lebam atau perdarahan tanpa benturan, benjolan di tubuh, serta nyeri tulang yang tidak jelas penyebabnya sebagai gejala yang perlu diperhatikan.

Selain itu, nyeri kepala hebat yang disertai mual dan muntah menyemprot juga menjadi tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.

Untuk mengenali gejala sejak dini, dr. Anne menyarankan agar orangtua segera membawa anak ke tenaga kesehatan apabila menemukan tanda-tanda tersebut. Pemeriksaan dini penting untuk memastikan apakah keluhan anak disebabkan oleh infeksi atau mengarah pada keganasan.

“Satu jenis kanker anak yang relatif bisa dikenali lebih awal oleh orangtua adalah retinoblastoma. Tandanya berupa pantulan cahaya putih atau berkilau pada pupil mata, seperti mata kucing,” katanya.

Apabila terdapat kecurigaan kanker, pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan laboratorium, radiologi, dan pencitraan perlu dilakukan sesuai indikasi.

dr. Anne juga menyoroti alasan mengapa banyak orangtua terlambat menyadari kanker pada anak. 

Menurutnya, perubahan kondisi anak seperti penurunan berat badan, pucat, lemas, kurang aktif, mimisan, gusi berdarah, atau perubahan warna buang air besar dan kecil sering kali tidak disadari atau dianggap sepele.

"Jika orangtua menemukan gejala mencurigakan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membawa anak ke fasilitas kesehatan tingkat pertama," ucapnya. 

Apabila kondisi anak memburuk atau tidak membaik, orangtua disarankan segera melakukan kontrol lanjutan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

dr. Anne mengingatkan orangtua agar tidak panik, namun tetap waspada.

“Perhatikan kebiasaan anak. Jika muncul keluhan atau perilaku yang sebelumnya tidak pernah ada, seperti nyeri hebat, muntah proyektil, lebam di seluruh tubuh, atau benjolan, segera periksakan ke dokter,” tambahnya.

Untuk konsultasi lebih lanjut, dr. Anne Susanty saat ini praktik di Santosa Hospital Bandung Central setiap hari Selasa dan Kamis pukul 16.00–18.00 WIB, serta hari Sabtu pukul 13.00–15.00 WIB.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.